-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 08 Juli 2026
Balla Barakkaka ri Galesong, Pustaka, dan
Pusaka Syekh Yusuf (3-habis):
Silsilah Keluarga Besar Syekh Yusuf di Baruga Pusakaya Galesong Takalar
Oleh: Rusdin Tompo
(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)
Obrolan di Balla Barakkaka ri Galesong
(BBrG) agak serius ketika kami membahas tentang Syekh Yusuf Tuanta Salamaka
al-Makassari. Pernah, kata Prof. Aminuddin Salle, ada tim dari Perpusnas RI mau
mendokumentasikan naskah kuno milik salah seorang keluarganya, yang merupakan
keturunan Syekh Yusuf.
Namun, mereka tidak mau perlihatkan karena
dianggap sakral dan dikeramatkan, padahal tim tersebut tidak bermaksud
mengambil arsip kunonya secara fisik, hanya mau mendokumentasikannya saja.
Perpusnas RI memang punya program, namanya
IKON, akronim dari Ingatan Kolektif Nasional. Program IKON ini bertujuan mencatat,
melindungi, dan mengarusutamakan naskah kuno atau dokumen yang punya nilai
penting bagi peradaban Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai IKON, suatu naskah
akan diproyeksikan untuk diusulkan menjadi Memory of the World (MoW) UNESCO.
Prof. Hamdar Arraiyyah, penggagas buku
kumpulan esai dan puisi tentang Syekh Yusuf, mengaku senang mendengar berbagai
program yang dilakukan Prof. Aminuddin Salle di BBrG, terutama digitalisasi
pesan-pesan filosofis dan nilai-nila kearifan lokal dalam aksara Lontarak
Makassar.
Dengan begitu, katanya, mudah dibagikan
(share) ke berbagai kalangan dan bisa diakses dari mana saja. Ini juga perlu
dilakukan terhadap karya-karya Syekh Yusuf.
Guru Besar Universitas Islam Makassar
(UIM) Al-Gazali itu, menuturkan bahwa beliau punya teman yang pernah mengkaji
dan menerjemahkan hikayat Syekh Yusuf di Desa Sanrobone. Bukunya sudah
diterbitkan oleh Perpusnas RI, dua atau tiga tahun lalu.
Beliau juga punya teman, Syekh Dr. H.
Syahrir Nuhun, yang rutin melakukan pengkajian kitab Tuanta Salamaka, Sirrur
Asrar, di Maros, pada setiap hari Rabu, ba’da Subuh. Sirrur al-asrar, artinya
rahasia dari segala rahasia.
“Jadi, saya punya satu-dua teman yang
memiliki kemampuan membaca naskah-naskah terkait Syekh Yusuf dalam bahasa Arab.
Ada juga teman yang mahir menulis puisi, para penyair dan satrawan. Mereka ini
peduli, dan terampil menulis, apapun temanya,” ungkap Prof. Hamdar.
Beliau mengaku begitu gembira setelah
mendengar kabar bahwa bertepatan dengan UNESCO Anniversary 2026, badan PBB
tersebut telah menetapkan tahun ini sebagai peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf
al-Makassari. Syekh Yusuf, yang punya nama kecil Muhammad Yusuf, lahir tanggal
3 Juli 1626.
Muncul di pikiran Prof. Hamdar, bagaimana
kalau beliau mengajak teman-temannya memperingati 400 tahun Syekh Yusuf melalui
tulisan? Katanya, kenapa kita tidak mengekspresikan cinta, kepedulian, dan
sedikit pengetahuan tentang Syekh Yusuf dalam bentuk puisi dan esai.
Alhamdulillah, rupanya gayung bersambut.
Disampaikan bahwa ada belasan orang yang
diajak menulis dalam bahasa Inggris, Indonesia, dan Makassar. Beliau berharap,
salah satu puisi dalam buku antologi tersebut, ditulis dengan menggunakan
aksara Lontarak Mangkassarak, supaya teman-teman di Afrika Selatan tahu bahasa
dan aksara dari daerah kelahiran Syekh Yusuf.
Menurut pria asal Soppeng yang fasih
berbahasa Arab dan Inggris itu, Syekh Yusuf sangat dihormati di Afrika Selatan.
Beliau memberi contoh, di sana pada saat long weekend libur Paskah, masyarakat
setempat mengadakan kegiatan di area makam Syekh Yusuf, di bukit Zandvliet / Zemplit,
kampung Macassar, Faure, sekira 40 km dari jantung kota Cape Town.
Mereka berkemah, mengadakan pertunjukan,
dan mendengar ceramah tentang Indonesia, supaya dapat mengenal budaya dan
asal-usul Syekh Yusuf. Ini sebagai upaya membina kerukunan antar bangsa dan
umat manusia.
Spirit ini serupa yang dilakukan di Gowa.
Bedanya, kalau di Katangka, Kabupaten Gowa, biasanya digelar haul untuk
memperingati wafatnya Syekh Yusuf Tuanta Salamaka al-Makassari, sebagaimana
haul akbar yang diselenggarakan tahun 2023 dan 2024.
Setelah Prof. Hamdar Arraiyyah berbagi
cerita tentang pengalamannya mengunjungi makam Syekh Yusuf di Cape Town, Afrika
Selatan. Tiba giliran Muhammad Hijaz Daeng Temba, salah seorang keturunan Syekh
Yusuf, berkisah tentang ulama besar tersebut. Kisah ini bersumber dari arsip
kuno keluarga yang kondisinya sudah lapuk.
“Saya mau jelaskan tentang Syekh Yusuf. Semoga
bisa menambah informasi untuk penerbitan bukunya nanti. Kisah ini punya muatan
sejarah dan budaya, serta riwayat hidup Syekh Yusuf dan keturunannya,” kata
Daeng Temba memulai ceritanya.
Syekh Yusuf merupakan putra tunggal dari
Manurunga ri Kokbang dengan istrinya Sitti Fatima Tubiyani Daeng Pajja—ada juga
menyebutnya Sitti Aminah—yang merupakan anak dari Gallarrang Moncongloe.
Namanya ketika masih kecil adalah Muhammad
Yusuf. Sejak kanak-kanak, ia sudah belajar ilmu agama, di Bontoala, lalu ke
Cikoang, sebagai pusat pendidikan agama Islam yang maju di masanya.
Daeng Temba juga menceritakan hubungan
antara Syekh Yusuf dengan Sitti Zainab Basya, putri Sultan Alauddin, Raja Gowa
ke-14, yang sempat terkendala karena terkait syarat yang mesti dipenuhi, dan
perbedaan status sosial.
Syarat yang dimaksud, yakni kaya,
pemberani, dan panrita (berilmu tinggi). Namun Muhammad Yusuf punya dua dari
tiga syarat, yakni pemberani dan berilmu tinggi. Terasa ada nuansa drakor dalam
ceritanya, karena Putri Raja Gowa, kemudian dibawa menyusul Syekh Yusuf ke
bandar niaga Somba Opu, lantaran Muhammad Yusuf telah bersiap pergi
meninggalkan Butta Gowa.
Mendengar cerita Daeng Temba, kita seperti
diajak menyusuri lorong waktu ke berbagai tempat di Gowa, Makassar, dan
daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan.
Ada lanskap alam, tokoh-tokoh historis,
pusat-pusat pendidikan agama Islam, serta sejarah dan asal-usul nama tempat
(toponimi).
Kokmara, Dampang Kokmara, Lokmo ri Antang,
Dato ri Panggentungang, Sinassara, kisah asal mula Maudu Lompoa di Cikoang,
Gunung Bawakaraeng, Gunung Latimojong, dan Gunung Bulusaraung, semua ada dalam
ceritanya. Kami bagai disuguhkan menu prasmanan dengan cita rasa komplit.
Sayang, ceritanya terpotong karena waktu
shalat Dhuhur telah masuk. Kumandang azan dari Masjid Al-Amin, tidak memungkinkan
Daeng Temba meneruskan cerita menarik tentang Syekh Yusuf.
Kepada beliau, saya sarankan, sebaiknya
nanti hikayat Syekh Yusuf direkam lalu dikemas per episode, dibuat lebih
menarik, dengan iringan kesok-kesok dan alat musik tradisional Makassar
lainnya.
Saya juga sempat mengomentari cerita Prof.
Aminuddin Salle, tentang arsip Syekh Yusuf, yang begitu dijaga oleh
keturunannya. Bahkan arsip yang punya nilai sejarah tersebut, tidak mau
didokumentasikan, meski itu dilakukan oleh Perpusnas RI.
“Tabe Prof, dengan begitu naskah tersebut
hanya jadi pusaka bukan pustaka. Kalau pusaka, cenderung hanya disimpan buat
diri sendiri dan keluarga. Sementara kalau dijadikan pustaka, ada proses
literasi dan pembelajaran, yang akan sangat bermanfaat bagi penelitian dan
pengembangan ilmu pengetahuan. Apalagi di dalamnya terkandung aspek sejarah,
budaya, dan agama,” kata saya.
Prof. Aminuddin, lalu menoleh ke bangunan
berbentuk rumah panggung, yang berada di sisi timur, dekat pagar. Bangunan
kayu, yang berbatasan dengan jalan raya itu, merupakan Baruga Pusakaya, artinya
Pusat Suaka dan Budaya.
Di atas bangunan itu, terpampang silsilah
keluarga besar dan keturunan Syekh Yusuf. Baruga Pusakaya, jelas Prof.
Aminuddin Salle, diresmikan oleh Vice President SDM & Talenta Sulawesi PT
PLN, Mudhakir Al Salman.
“Saya kasi gelar beliau, Tumalakbiritta,
yakni orang yang dimuliakan. Bisa juga merupakan pengertian yang bersifat
metafora,” terang Karaeng Patoto.
Beliau kemudian mengenang, kawasan ini
beberapa tahun lalu. Katanya, dahulu tempat ini gelap gulita. Mudhakir Al
Salman, datang mencari mitra untuk berdiskusi karena beliau punya perhatian
besar pada pemajuan kebudayaan.
Prof. Aminuddin Salle menyampaikan,
kondisi BBrG yang sebenarnya bahwa kalau subuh dan malam, lokasinya gelap
gulita. Singkat cerita, BBrG selanjutnya berkolaborasi melalui program
corporate social responsibility (CSR) PLN.
Berkat program tanggung jawab sosial itu,
dibangun taman baca dan memberi honor petugasnya, termasuk petugas kebersihan
sungai. Bantuan CSR itu maksudnya merupakan dana stimulan, nanti diteruskan
oleh Pemda. Namun, kenyataannya, harapan itu tidak terlaksana.
“Jadi ketika Takalar masih gelap, kami di
sini seperti kota kecil kalau malam hari,” kisah Karaeng Patoto memancarkan
rona kebahagiaan.
Dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Takalar
ke-58, pada tahun 2018, pemerintah Kabupaten Takalar memberikan PIAGAM
PENGHARGAAN kepada Prof. Dr. H. Aminddin Salle, akademisi dan budayawan
Nusantara, atas pengabdian dan jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Takalar.
Piagam penghargaan tertanggal 10 Februari
2018 itu, ditandatangani oleh Bupati Takakar, H. Syamsari, S.Pt, MM, dan Wakil
Bupati Takalar, H. Achmad Dg Se’re, S.Sos.***
