Abdul Rahman, Pendidik dan Aktivis yang Paripurna

 




PEDOMAN KARYA

Jumat, 21 Agustus 2026

 

In Memoriam (2-habis):

 

Abdul Rahman, Pendidik dan Aktivis yang Paripurna

 

Oleh: Syarifuddin Jurdi

(Dosen UIN Alauddin Makassar)

 

Perjumpaan saya dengan Ustadz Abdul Rahman terputus setelah saya bermukim di Yogyakarta. Mulanya melanjutkan studi di UGM, namun akhirnya benar-benar bermukim setelah mendapat amanah sebagai dosen di UIN Sunan Kalijaga.

Saya nyaris putus kontak dengan senior dan teman sejawat di IMM Sulsel, termasuk dengan Ustadz Abdul Rahman. Kadang bertemu kalau ada acara Muhammadiyah yang bersifat nasional, misalnya suatu kali ketika saya menjadi Sekretaris LPCR PP, kita selenggarakan acara Rakernas di Uhamka Jakarta, saya berjumpa kembali dengan allahuyarham Yose Rizal Faisal setelah putus kontak sekitar sepuluh tahunan lebih.

Ketika Muktamar Muhammadiyah di Malang Tahun 2005 maupun Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta Tahun 2010 – ini saya menjadi “tuan rumahnya”, saya berjumpa dengan sejumlah kawan IMM dahulu, selebihnya berjumpa kalau saya balik ke Makassar.

Masa pengabdian saya di UIN Sunan Kalijaga tidak begitu lama. Dengan kondisi keluarga yang juga harus diperhatikan dan faktor lainnya, akhirnya saya putuskan untuk mutasi tugas ke UIN Alauddin Makassar.

Alhamdulillah prosesnya relatif lancar dan kembali bergabung dengan teman-teman lama dari berbagai latar belakang. Sering silaturrahim dengan senior-senior IMM dahulu, termasuk dengan Ustadz Abdul Rahman. Mungkin dengan beliau di antara senior yang lumayan sering berjumpa, karena pekerjaan.

Setelah kembali ke Makassar itulah saya mulai membangun kembali silaturrahim dengan teman sejawat dan para senior, termasuk dengan Ustadz Abdul Rahman yang kala itu belum lama dilantik sebagai Wakil Dekan IV Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Ustadz Rahman menjadi WD IV yang membidangi urusan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan atau yang dikenal dengan AIK. Bidang ini bertugas untuk menerjemahkan Islam dan Kemuhammadiyahan ke dalam kurikulum. 

Umumnya AIK itu diterjemahkan dalam bentuk mata kuliah yang disesuaikan dengan tingkatan mahasiswa. Kebetulan di Fisipol Unismuh itu terdapat mata kuliah AIK 7 yang muatannya mengenai Politik Islam, mahasiswa yang ikut semester VI atau VII.

Ketika saya ditawarkan untuk mengajar mata kuliah Politik Islam itu, saya merasa cocok. Kebetulan ada beberapa buku yang telah saya tulis untuk menopang tugas mengajar mata kuliah Politik Islam tersebut.

Terhadap tugas baru mengajar Politik Islam di Unismuh itu saya menduga ada peran Ustadz Abdul Rahman yang membidangi atau memayungi mata kuliah tersebut, selain peran prodi dan pimpinan fakultas yang lainnya.

Ketika saya memulai masuk kelas, saya terlebih dahulu mampir di fakultas dan berjumpa dengan Ustadz Abdul Rahman dengan senyuman khasnya menyapa saya dan kami berbincang panjang lebar. 

Selain mata kuliah AIK 7 Politik Islam, saya juga pernah mengajar mata kuliah “Tata Kelola Konflik” untuk mahasiswa Prodi Ilmu Pemerintahan, untuk mata kuliah ini mungkin Ketua Prodinya yang memiliki andil.

Setiap pekan, saya selalu datang ke gedung Fisipol untuk mengajar. Kadang berjumpa dan ngobrol lama dengan Ustadz Abdul Rahman, tapi banyak momen saya mampir ke fakultas tidak menjumpai beliau. Sebagai pejabat tentu banyak tugas lain yang dikerjakan selain berkantor rutin.

Saya tidak terlalu lama mengajar di Unismuh. Barangkali sekitar empat semester. Selebihnya saya mulai fokus pada tugas dan amanah di kampus tempat saya mengabdi, UIN Alauddin.

Ustadz Abdul Rahman yang paling saya ingat sebagai ciri khasnya adalah senyumnya. Ketika berjumpa yang pertama senyumnya, itu berkesan sekali bagi saya pribadi. Barulah bertutur dengan lembut bertanya kabar dan segala hal lainnya. Kepribadian itu terbentuk dari kebiasaan hidupnya yang dipenuhi dengan hal-hal baik, terutama kebiasaannya membaca dan menghafal al-Qur’an.

Selama menjadi dosen luar biasa di Fisipol Unismuh itulah saya terasa kembali memperoleh nilai-nilai spiritual ketika berjumpa dan bercakap dengan beliau, mempercepat ingatan saya pada peristiwa hampir dua puluh sebelumnya saat mengikuti pengkaderan.

Sebagaimana telah saya sebutkan bahwa saya mengikuti pengkaderan DAD dan DAM yang menjadi imamah Ustadz Abdul Rahman. Beliau kalau memimpin shalat pasti jamaahnya akan merasa nyaman dan tenang. Bacaan yang syahdu dengan hafalan ayat-ayat al-Qur’an yang beragam.

Unismuh sudah sangat tepat memberi peran beliau dalam pembinaan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Seingat saya, beliau menjabat sebagai Wakil Dekan IV itu selama dua periode.

Dalam peraturan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, bahwa pejabat hanya boleh menjabat pada posisi yang sama selama dua periode baik bertuturt-turut maupun tidak. Aturan itu terimplementasi dengan baik pada perguruan tinggi Muhammadiyah yang sehat, kecuali kalau ada anomali tertentu, menyebabkan seseorang bisa menempati posisi jabatannya lebih dari dua periode.

Posisi sebagai WD IV yang sudah dua periode dijabatnya harus diestafetkan kepada yang lebih muda. Kalau tidak salah yang terpilih sebagai WD IV pasca beliau adalah Ustadz Dr. Amin Umar, seorang sosok yang kurang lebih sama dengan beliau, sementara Ustdaz Abdul Rahman kembali menjalani aktivitas sebagai dosen biasa, mengajar dan membimbing mahasiswa.

Pada rentang waktu yang hampir sama dengan tugasnya sebagai WD IV itu, Ustadz Abdul Rahman juga terangkat sebagai PNS / ASN guru pada salah satu sekolah negeri di Kota Makassar.

Tugasnya sebagai abdi negara dan abdi masyarakat dijalaninya dengan sungguh-sungguh, bahkan testimoni Kepala Sekolah dimana beliau menjadi guru pada takziyah malam ketiga sangat menyentuh.

Menurut Kepsek bahwa Ustadz Abdul Rahman menjalankan tugasnya mengajar dan lebih dari itu, beliau juga membimbing dan membina siswa di sekolahnya dengan penuh dedikasi, segala hal dapat diatasi dengan baik ketika beliau hadir.

Kehilangan beliau terasa seperti kehilangan satu bagian penting dari rumah. Ada kesunyian. Ada ruang yang tidak akan pernah sama lagi, meski muncul orang lain yang menggantinya. 

Perasaan seperti itu juga dirasakan oleh keluarga dekat beliau, para sahabatnya yang selalu bersama dan tentu saja Muhammadiyah kehilangan sosok kader yang memiliki tempat tersendiri dalam pergerakannya.


Mampu Ubah Orang Lain

Meskipun saya tidak terlalu intens berjumpa dengan beliau, tetapi beliau bagi saya adalah sosok istimewa yang mampu mengubah orang lain dan memastikan perubahan itu bukan karena paksaan, melainkan suatu kesadaran yang muncul dari pemahaman dan keyakinan yang kuat atas bimbingan Ustadz Abdul Rahman, terutama bagi kader-kader IMM yang beliau imamahnya.

Pengabdian Ustadz Abdul Rahman tidak hanya bersentuhan dengan pengkaderan IMM di wilayah Sulawesi Selatan, tetapi juga pernah memperoleh mandat untuk melakukan pengkaderan dengan beberapa kawannya yang lain seperti Ustadz Dahlan Sulaiman dikirim ke Papua untuk mengelola pengkaderan IMM tingkat menengah DAM dan Latihan Instruktur. 

Mengelola pengkaderan seperti itu bukan hanya soal bagaimana berjalannya pengkaderan, tetapi mencakup bagaimana mengelola manusia, ideologi gerakan yang harus ditanamkan, tentang kepemimpinan dan tentu saja proses berorganisasi. Mengelola pengkaderan merupakan bagian integral dari proses kepemimpinan.

Pengkaderan level menengah ini mencakup tiga dimensi utama yang akan menjadi perhatian yakni pertama, penguatan kapasitas intelektual atau wawasan kader agar lebih matang dalam memahami dan menganalisa fenomena sosial politik yang dihadapi umat.

Kedua, penguatan pemahaman ideologi dan nilai-nilai dasar pergerakan, baik IMM maupun Muhammadiyah. Ketiga, penguatan aspek kepemimpinan yang mengarah pada kemampuan kader dalam mendialogkan nilai-nilai dasar gerakan dengan realitas sosial politik aktual.

Transformasi kader menjadi point utama yang harus ditanamkan dalam DAM. Ustdaz Abdul Rahman merupakan sosok yang tepat untuk peran-peran tersebut. Beliau memiliki basis spiritualitas yang kuat, cakrawala pemikiran yang luas dan ketajaman dalam memecahkan masalah yang dihadapi.

Saya menganggap bahwa Ustadz Abdul Rahman merupakan orang yang tepat untuk dilibatkan dalam semua jenjang pengkaderan, terutama level DAM dan Latihan Instruktur.

Keterlibatan yang lebih luas pada struktur Muhammadiyah dengan masuk dalam Korps Muballigh Hijrah Unismuh, itu sudah dimulai sejak mahasiswa dan kemudian bergabung dalam Korps Muballigh Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Medan aktivitasnya relevan dengan kecendrungan umum penugasan beliau dalam setiap tahap pengkaderan IMM, terakhir diamanahi sebagai Wakil Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulawesi Selatan.

Peran penting juga diamanahkan kepada Ustadz Abdul Rahman menjadi Direktur Muallimat Aisyiyah Cabang Makassar. Peran yang sangat penting untuk memastikan sekolah kader itu sukses mencetak generasi yang akan melanjutkan perjuangan Aisyiyah dan Muhammadiyah di masa depan.

Abdul Rahman menentukan arah kebijakan dan keberlangsungan madrasah Muallimat, tidak hanya memastikan proses pembelajaran berjalan efektif, tetapi juga berperan menentukan dalam sinkronisasi visi pendidikan dengan visi gerakan Aisyiyah dan Muhammadiyah.

Aktivitas Ustadz Abdul Rahman tidak lepas dari dunia pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal. Pemberian peran di Muhammadiyahpun masih dalam lingkup pendidikan dan pengkaderan.

Di kampus sukses mengemban sebagai pimpinan fakultas yang membidangi urusan Al Islam dan Kemuhammadiyahan, tentu peran yang sangat penting untuk memastikan ideologi dan nilai perjuangan Muhammadiyah kepada mahasiswa.

Di sekolah dan lembaga pendidikan yang mengkader para penerus Aisyiyah dan Muhammadiyah juga erat kaitannya dengan tugas sebelumnya, demikian pula dengan peran yang sama dilakukannya pada saat menjadi ASN.

 

Selamat Jalan Ustadz

Pada pagi hari tanggal 17 Agustus 2026, hari dimana semua perhatian bangsa Indonesia pada peringatan kemerdekaan. Tak terkecuali semua warga negara dikondisikan untuk merasakan bagaimana peristiwa 81 tahun yang lalu menjadi tonggak penting bagi kebebasan dan kemerdekaan bangsa dari penjajahan dan kolonialisme.

Tersebar luas informasi di platform media sosial berita duka kepergian seorang musjtahid, orang shaleh yang hidupnya dihabiskan untuk membina dan mengurus soal-soal agama, pembinaan generasi yakni wafatnya Ustadz Abd. Rahman.

Saya membuka WA dan memperoleh informasi wafatnya beliau ketika saya mengikuti upacara 17 Agustus 2026 di kampus. Selesai upacara saya bermaksud melayat ke rumah duka, saya menuju ke arah maps yang dibagikan di group. Sampai di lokasi masuk perumahan itu tertutup dan dikunci, saya kemudian bergeser ke arah sebelahnya, masuk dan mutar-mutar sampai akhirnya saya keluar di Antang, kemudian saya kembali melewati TPA dan terus untuk mencoba kembali lagi, namun kondisinya masih sama, mungkin pintu masuk itu ditutup, karena banyak lalulintas manusia pada waktu, barangkali sedang ada kegiatan salah satu kelompok Islam yang memiliki markas di pinggir kanal itu, jumlahnya sangat banyak. Setelah gagal beberapa kali itu, akhirnya saya putuskan untuk pulang.

Saya hanya bisa mendoakan beliau. Selamat jalan Ustadzku Abdul Rahman. Warisan keteladananmu, keistiqamahanmu dan dedikasimu sebagai guru, pendidik, akan selalu menjadi inspirasi bagi para muridmu. Insya Allah engkau akan memperoleh tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Allahumagfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu, aamiin.***

 

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama