PEDOMAN KARYA
Rabu, 19 Agustus
2026
In Memoriam:
Abdul Rahman,
Penjaga Identitas IMM dan Pribadi Istiqamah
Oleh: Syarifuddin
Jurdi
(Dosen UIN Alauddin Makassar)
Perkembangan gerakan sosial Islam
selalu mengikuti kecenderungan umum perkembangan sosial politik masyarakatnya.
Ada gerakan Islam yang makin kokoh dan kuat, karena mampu menjaga identitas
gerakannya, tapi ada pula gerakan Islam yang harus menghadapi masalah-masalah
tertentu akibat sikapnya dan kemampuan adaptasinya dengan perubahan politik,
akhirnya dibubarkan.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM)
dan Muhammadiyah juga melakukan hal yang sama untuk mengadaptasikan gerakannya
di tengah perubahan sosial politik tanpa kehilangan identitasnya.
Dalam tubuh gerakan IMM selalu
hadir figur-figur yang memiliki komitmen kuat pada upaya merawat dan
mentradisikan nilai keutamaan yang membentuk kader-kadernya.
Di IMM Sulawesi Selatan, khususnya
Makassar, terdapat salah seorang sosok yang bernama Abdul Rahman, figur yang
selalu hadir dalam setiap momen pengkaderan yang mampu membangkitkan ghirah
dalam mengamalkan ajaran agama dengan baik. Beliau selalu mengajarkan
ketauhidan dan memimpin rangkaian ibadah dalam setiap pengkaderan.
Figur Abdul Rahman merupakan salah
satu diantara instruktur yang ditugaskan untuk mendampingi proses Darul Arqam
Dasar (DAD) IMM Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas
Hasanuddin (Unhas) pada tahun 1994, tahun itu dua kali diselenggarakan DAD, saya
termasuk salah seorang di antara peserta DAD gelombang kedua, disitulah pertama
kali saya mengenal Ustadz Abdul Rahman.
Keberhasilan IMM FISIP Unhas
melaksanakan DAD dua kali pada tahun itu terjadi pasca penerimaan mahasiswa
baru angkatan 1994, pada semester ganjil tahun akademik 1994/1995 menjadi fase
kebangkitan kembali IMM FISIP Unhas, tahun itu menjadi sejarah baru berkembangnya
IMM di lingkungan FIS setelah periode kejayaan pada masa Ustadz Agung Wirawan
(FISIP) dan Kak Abdul Rachmat Noer (FEB).
Kebangkitan itu ditandai dengan
masuknya sejumlah bibit-bibit muda Muhammadiyah angkatan 1994 terutama Haidir
Fitrah Siagian (HFS) yang memang sudah aktif pada ortom Muhammadiyah yakni
Ikatan Remaja [Pelajar] Muhammadiyah (IRM/IPM).
HFS dapat disebut sebagai inisiator
atau penggerak awal kebangkitan kembali IMM di lingkungan FISIP, FIS dan Unhas
pada pertengahan dekade 1990-an itu.
Ada semacam ghirah baru dalam
kegiatan mahasiswa Islam kala itu. HFS memperoleh dukungan sejumlah teman generasinya
yang memang memiliki akar Muhammadiyah. Mereka menginisiasi diselenggarakannya
DAD bagi mahasiswa FISIP.
Kala itu banyak mahasiswa yang
berminat ikut organisasi. Apa saja organisasi diikuti, terutama organisasi
mahasiswa Islam, DAD IMM dua angkatan awal diikuti oleh mahasiswa FISIP dari
angkatan 1992, 1993, dan 1994.
Sebagian dari mereka yang ikut,
sebenarnya telah mengikuti pengkaderan pada organisasi Islam ekstra kampus
lainnya, tetapi mereka barangkali mencari pengalaman pada organisasi mahasiswa
Islam lainnya, maka ikutlah DAD, meski akhirnya sebagian dari mereka tidak
aktif dan lebih memilih aktif pada organisasi mahasiswa Islam yang telah
diikuti sebelumnya.
Pengkaderan (DAD) IMM FISIP Unhas
angkatan pertama dan kedua yang di bawah nahkoda HFS berhasil merekrut
kader-kader yang kelak menjadi kekuatan IMM, baik tingkat cabang, DPD hingga
DPP. Mengapa Kader-kader IMM yang mengikuti pengkaderan gelombang pertama dan
kedua itu sukses dan memikat mereka untuk tetap menjadi aktivis IMM dan kelak
menjadi barisan yang memperkuat Muhammadiyah? Mungkin jawabannya bisa beragam,
saya mencoba menyebut beberapa point yang menjadi sumber kekuatannya;
Pertama, tempat pengkaderan atau
lokasi yang dipilih IMM Fisip gelombang awal ini untuk pengkaderannya adalah
markas yang cukup bersejarah bagi Muhammadiyah yakni Masjid Ta’mirul Masajid,
masjid ini dapat disebut sebagai tempat yang berhasil membina kader-kader
militan Muhammadiyah di masa lalu, banyak kader yang berpengaruh lahir dan
besar dalam lingkungan masjid ini. Kita masih mengenal nama ulama kharismatik
Muhammadiyah era 1970-an dan 1980-an KH. Fathul Muin Dg Magading yang sukses
membina kader-kader militan Muhammadiyah di tempat itu, sebagian dari kader
militan beliau berhasil menggerakkan Muhammadiyah dan menjadi elite penentu
Muhammadiyah Makassar dan Sulawesi Selatan.
Meski banyak kader yang berhasil
dihasilkan, tetapi juga terdapat sebagian kecil dari kader-kader Kyai Fathul
Muin yang akhirnya hengkang dari Muhammadiyah dan membuat pergerakan sendiri,
hengkangnya mereka dipicu oleh kebijakan pemerintah menerima azad tunggal
Pancasila, mereka yang hengkang itu akhirnya mendirikan perkumpulan sendiri
dengan membentuk yayasan yang kemudian dikenal dengan Yayasan Fathul Muin, dari
namanya sudah menegaskan bagaimana sosok Kyai sangat mempengaruhi kesadaran
intelektual, sosial dan politis mereka, yayasan itu kemudian berubah nama
menjadi Ormas Wahdah Islamiyah.
Kedua, instruktur yang dilibatkan
dalam kegiatan DAD IMM FISIP ini merupakan instruktur pilihan yang secara
keseluruhan “elite IMM cabang Ujung Pandang”, mereka mengambil peran dalam
pengkaderan tingkat dasar ini bisa jadi bentuk apresiasinya terhadap besarnya
minat mahasiswa FIISP mengikuti DAD, padahal dalam tradisinya, pengkaderan
level komisariat atau DAD hanya dikoordinir oleh komisariat atau Korkom,
sementara pimpinan cabang sibuk melakukan konsolidasi dan pengkaderan level
diatasnya. Instruktur yang terlibat kala itu cukup berpengaruh pada pembentukan
karakter mereka yang ikut DAD.
Ketiga, salah satu instruktur yang
bagi saya pribadi menjadi “primadona” adalah instruktur imamahnya yang
merupakan instruktur pilihan, sosok yang dalam dirinya berhasil mengombinasikan
ketawaduhan, kesedrhanaan, keteladanan dan kefasihan dalam soal agama. Sosok
instruktur imamah itu adalah allahuyarham Ustadz Abd. Rahman yang merupakan
pribadi yang istiqamah dalam membina dan mengawal kader-kader IMM untuk teguh
dalam menjalankan ajaran agama Islam dengan benar sesuai dengan nilai tauhid.
Allahuyarham Ustdaz Abd. Rahman
merupakan sosok yang sederhana dan mengambil peran strategis dalam pengkaderan
IMM sebagai imamah. Saya sebagai peserta DAD IMM FISIP Unhas angkatan kedua di
Ta’mirul Masajid itu menyaksikan bagaimana kesabaran Ustadz Abd. Rahman
mendampingi peserta DAD dalam urusan ibadah, beliau menunggu peserta untuk
melaksanakan shalat malam (lail) tepat waktu, dalam kegiatan pengkaderan, tepat
waktu itu sesuai dengan ritme waktu shalat hingga menuju ke persiapan waktu
shalat subuh, semua waktu sudah diatur sedemikian rupa, tidak boleh ada yang
molor harus tepat waktu. Sebagian peserta mungkin tidak terbiasa dengan shalat
malam, jadi agak berat untuk ikut, tetapi dengan doktrin dan ajakan yang baik,
penuh kelembutan, semua peserta tetap mengikuti kegiatan shalat malam itu.
Mengapa para peserta dengan
sukarela ikut dalam kegiatan shalat lail itu? Untuk hal ini bisa beragam
maknanya; pertama, sebagai peserta pengkaderan dengan terpaksa mengikuti
seluruh aturan dan “perintah” instruktur tanpa ada ruang dialog, mungkin kita
akan menyebut suatu model yang “otoriter”, meskipun sudah diterangkan pada awal
pelaksanaan kegiatan, bagi yang tidak setuju dengan aturan dipersilakan
meninggalkan lokasi kegiatan; kedua, kesukarelaan para peserta dengan kegiatan
tersebut, barangkali diantara mereka sudah terbiasa dengan shalat lail, tentu
dalam kondisi berjamaah akan lebih bersemangat; ketiga, faktor imamahnya yang
memimpin shalat lail. Sosok Ustadz Abd. Rahman merupakan sosok yang bacaan
shalatnya cukup merdu, tartil dan tenang, itu menambah khusyu’nya shalat lail.
DAD di ta’mirul Masajid itu yang membekas bagi saya hingga kini adalah sosok
imamah yang memimpin shalat lail Ustadz Adb. Rahman dan imam masjid Ta’mirul
Masajid yang bacaannya cukup khas dengan intonasi bacaan yang mantap.
Selain memimpin ibadah shalat lail,
Ustadz Abd. Rahman juga memandu peserta untuk benar dan lancar dalam membaca
al-Qur’an atau mengoreksi bacaan al-Qur’an yang tidak sesuai dengan tajwid.
Kebiasaan yang singkat selama DAD itu menjadi motivasi bagi sebagian peserta
untuk terus belajar. Mungkin benar ungkapan yang mengatakan bahwa urusan
spiritualitas atau ibadah, urusan agama atau urusan apapun itu, kalau berjumpa
dengan orang yang tepat, maka akan menambah motivasi dan semangat.
Situasi spiritualitas yang sama
masih saya rasakan ketika mengikuti pengkaderan lanjutan Darul Arqam Madya
(DAM), imamahnya masih Ustdaz Abd. Rahman. Dalam tradisi pengkaderan IMM kala
itu terpola sosok yang akan ditugaskan untuk menjadi imamah, tidak setiap
instruktur dapat ditugaskan sebagai imamah, meski semua instruktur dapat
berperan sebagai imamah, tapi sosok imamah haruslah figur yang mampu memandu
dan memimpin urusan spiritualitas. Saya
menyaksikan imamah yang ditugaskan dalam setiap pengkaderan merupakan sosok
yang tawadduh dan tentu sosok yang tepat menjadi imam shalat dan menjadi
teladan bagi peserta.
Nilai keutamaan IMM itu yang
menonjol adalah soal spiritualitas ini, apabila urusan spiritualitas tidak
ditangani dan dikelola dengan baik dalam pengkaderan, seakan-akan seluruh
proses pengkaderan itu tidak memiliki makna, itulah sebabnya kala itu, allahuyarham
Ustadz Abd. Rahman dalam berbagai pengkaderan strategis ditugaskan untuk
menjadi imamah, beliau dapat dipandang sebagai sosok yang merawat identitas
gerakan dan tradisi bermuhammadiyah dengan istiqamah. Saya kira kesan seperti
ini, juga dirasakan oleh kader-kader IMM yang ketika mengikuti pengkaderan
berjumpa dengan imamahnya Ustadz Abd. Rahman.
Setelah keterlibatan yang intensif
dalam urusan pengkaderan IMM, beliau mulai dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan
Muhammadiyah, dari level bawah hingga level wilayah, beliau selalu ada dalam
bidang yang ditekuninya yakni urusan dakwah, pengkaderan dan urusan pendidikan.
Insya Allah amal sholehnya itu dan jejak kebaikannya yang terus dilestarikan
para muridnya dan mereka yang pernah dibimbingnya akan menjadi amal sholeh
baginya dan menerangialam
kuburnya...........bersambung!!!!!