Fredy Leiwakabessy: Kesenjangan Perguruan Tinggi di KTI dan Jawa Perlu Segera Diatasi

RAPAT KERJA. Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa selaku Ketua Dewan Pembina KPTN-KTI memberikan sambutan sekaligus materi pada Rapat Kerja KPTN-KTI, di Hotel Unhas & Convention Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu, 19 Agustus 2026. (ist) 

 

-------

Kamis, 20 Agustus 2026

 

KAMPUS

 

Fredy Leiwakabessy: Kesenjangan Perguruan Tinggi di KTI dan Jawa Perlu Segera Diatasi

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Kesenjangan antara perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia (KTI) dengan perguruan tinggi di Pulau Jawa dan wilayah barat Indonesia, masih menjadi persoalan yang perlu segera diatasi.

Karena itulah perguruan tinggi di kawasan timur Indonesia diharapkan dapat memperoleh dukungan yang lebih kuat dari Pemerintah Pusat, sehingga mampu berdiri sejajar dengan perguruan tinggi di Jawa dan wilayah Indonesia Barat.

“Kita ingin agar ketertinggalan kawasan timur bisa segera diatasi, dan bisa berdiri sejajar dengan perguruan tinggi yang ada di kawasan Indonesia Barat,” kata Ketua Konsorsium Perguruan Tinggi Negeri Kawasan Timur Indonesia (KPTN-KTI) yang juga Rektor Universitas Pattimura, Prof. Fredy Leiwakabessy, pada Rapat Kerja KPTN-KTI di Hotel Unhas & Convention Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, Rabu, 19 Agustus 2026.

Ia mengatakan, Konsorsium PTN KTI memiliki anggota sekitar 47 perguruan tinggi, tetapi dalam Raker KPTN-KTI 2026 di Unhas, hanya 17 rektor yang dapat hadir karena keterbatasan anggaran.

“Kawasan timur ini menjadi masa depan Indonesia, kekayaan sumber daya alam yang melimpah, tapi sumber daya manusia masih terbatas. Dengan begitu, perlu kita perjuangkan sama-sama Indonesia Timur,” kata Prof Fredy.

Menanggapi persoalan anggaran tersebut, Rektor Unhas Prof Jamaluddin Jompa selaku Ketua Dewan Pembina KPTN-KTI meminta pemerintah pusat agar memberikan kebijakan afirmasi bagi perguruan tinggi di kawasan timur.

Menurut dia, perlakuan yang sama tanpa mempertimbangkan kesenjangan kondisi antarwilayah, justru berpotensi memperlebar ketimpangan kualitas pendidikan tinggi.

“Tindakan afirmasi itu wajib hukumnya. Jika tidak ada kebijakan afirmasi dari pemerintah, penyempitan gap tidak akan pernah terjadi,” kata Jamaluddin Jompa.

Raker KPTN-KTI 2026 turut dihadiri Anggota Komisi XI DPR RI, Kamrussamad, serta Deputi Bidang Fasilitasi Penerapan dan Transformasi Hilirisasi Industri Mineral Badan Industri Mineral (BIM), Agung Budiwibomo. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama