Khutbah Jumatan Presiden Prabowo

Esensi dari khutbah / pidato jumatan Presiden Prabowo, sungguh berkesan pada penjahit kulit bawang dengan gaji Rp700 ribuan hingga melupakan sholat jumatan. Dikarena keperihan mengupas bawang merah berhingga menitihkan air mata, diakibat oleh semburan gas propanethial S-oxide_nya. (ist) 

 

------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 20 Agustus 2026


Khutbah Jumatan Presiden Prabowo


Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Khithabah / khutbah dalam bahasa Arab juga boleh diartikan dengan orasi, ceramah, atau pidato. Terlepas dari diksi tersebut, di dalam goresan ini akan menukil gas propanethial S-oxide dari pidato Presiden  Prabowo dengan elemen doa bergasing gas.

Gas propanethial S-oxide merupakan senyawa kimia berbelerang yang menguap menjadi gas dan memicu keluarnya air mata.

Esensi dari khutbah / pidato jumatan Presiden Prabowo, sungguh berkesan pada penjahit kulit bawang dengan gaji Rp700 ribuan hingga melupakan sholat jumatan. Dikarena keperihan mengupas bawang merah berhingga menitihkan air mata, diakibat oleh semburan gas propanethial S-oxide_nya.

Sekalipun, kemudian semburan gas propanethial S-oxide oleh penasihat Presiden Hasan Hasbi menangkalnya dengan ocehan, namun sebagian besar publik menanggapi beragam langgam.

Langgam Pidato Mengupas Bawang

Sebagaimana yang dipublikasikan Kompascom pada 17 Agustus 2026, 09.54 WIB and Stay updated 24/7. Follow @jogjastudent, saya kutip apa adanya.

Di mana, Penasihat Khusus Presiden Bidang Komunikasi Hasan Nasbi pasang badan mengenai Presiden RI Prabowo Subianto yang menyebut upah untuk mengupas bawang sebesar Rp700.000 per kilogram. Hasan menyampaikan hal itu di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).

Hasan mengajak masyarakat untuk fokus pada substansi dari pidato Prabowo dan melihat gagasan besar yang disampaikan Presiden. Menurut Hasan, masyarakat sebaiknya tidak terfokus pada satu atau dua kalimat dari pidato yang kemudian menjadi pembahasan.

“Kita pikirkan substansi dari pidato besar Presiden ya. Yang satu kalimat, dua kalimat digoreng itu saya rasa kita harus apa? Belajar untuk tidak terfokus. Itu algoritma juga itu,” ujar Hasan di Istana, Jakarta, Senin (17/8/2026).

Hasan kemudian menegaskan, “Satu kalimat, dua kalimat, tapi pikirkan substansi besar dan gagasan besar dari pidato presiden. Sebaiknya seperti itu.” Pernyataan Prabowo soal upah buruh pengupas bawang Rp700.000 per kilogram sebelumnya viral di media sosial.

Sekalipun, esensi tanggapan Hasan Hasbi tidak berpengaruh akan gas propanethial S-oxide di mata publik. Dan justru semakin merusak akar mata hati nurani kemanusiaan.

Bahkan, Pusat Studi Hak Asasi Manusia (PUSHAM) UII mengkritik tajam pidato Presiden Prabowo Subianto di Sidang Tahunan MPR pada 14 Agustus 2026.

Pidato dinilai penuh puja-puji diri sendiri, tidak menyentuh persoalan mendasar, seperti ruang sipil yang menyempit dan jaminan HAM yang melemah.

Pemerintah dipamerkan program populis seperti Makan Bergizi Gratis dan Kopdes Merah Putih tanpa membahas masalah struktural mulai dari keracunan makanan, landasan hukum lemah, tata kelola buruk, hingga pemborosan anggaran.

Pidato itu pun disebut, bernuansa megalomaniak karena terkesan mengutamakan pujian dan angka keberuntungan ketimbang kejujuran menyampaikan kondisi nyata bangsa yang lagi dirundung duka dan korban gempa.

 

Doa Menag Tanpa Duka

Lebih aneh lagi, esensi bacaan wiritan doa Menteri Agama RI; Nasaruddin Umar pun tak ada ucapan untuk korban gempa NTT, hanya semata diisi Pujian ke Presiden Prabowo

Tidak juga keliru, manakala Warganet di media sosial menyoroti ucapan doa Nasaruddin karena diisi ucapan syukur atas kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Gibran dan tidak menyinggung bencana yang baru terjadi di NTT.

Salah satu bagian doa Menag adalah ucapan rasa syukur karena di bawah Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dilakukan berbagai ikhtiar untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial.

“HambaMu juga bersyukur karena di bawah presiden kami, Bapak Haji Prabowo Subianto, dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dilakukan berbagai ikhtiar yang sungguh-sungguh untuk mewujudkan cita-cita keadilan dan kesejahteraan sosial,” demikian bagian doa tersebut.

Menag juga menyebut berbagai program strategis pemerintah telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Selain itu, ia memasukkan angka 77,85 persen yang disebut sebagai “puncak kerukunan sosial keagamaan tertinggi” yang belum pernah dicapai sepanjang sejarah bangsa.

Namun, tidak ada doa secara khusus untuk korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Doa buat korban bencana mana? Doa buat menjaga lisan mana?” ujar warganet Arif Zulfikar.

Dalam doa tersebut, Menag cuma secara umum memohon agar bangsa Indonesia dijauhkan dari berbagai fitnah, bencana, dan perpecahan yang dapat melemahkan sendi-sendi kekuatan bangsa.

Nasaruddin juga mendoakan para leluhur dan pahlawan yang gugur dalam perjuangan merebut serta mempertahankan kemerdekaan. Ia kemudian memohon agar Indonesia menjadi negeri yang penuh berkah, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Wirid doanya ditutup dengan permohonan ampun kepada Allah SWT serta agar bangsa Indonesia diberi keteguhan dan pertolongan dalam menghadapi berbagai tantangan.

Bukankah korban gempa NTT menjadi bagian dari Bangsa Indonesia yang mesti diteguhkan sehingga dimerdekakan dari dukanya.

 

Bukankah Kemerdekaan

Lebih kurang pukul sebelas kemudian, berlalu_setelah detik detik peringatan hari kemerdekaan akan beresensi sejati dari diksi bukankah mesti berawalan

Bukankah esensi kemerdekaan dari buah duka berguguran yang mesti dimekarkan

Bukankah, esensi kemerdekaan dari buah derita kelam yang mesti dicerahkan

Bukankah, esensi kemerdekaan dari buah beban batin yang mesti dibebaskan

Bukankah, esensi kemerdekaan dari buah kepedihan yang mesti kebahagiaan

Bukankah, esensi kemerdekaan dari buah kehancuran yang mesti dimakmurkan

***

Bukan esensi kemerdekaan “yang bukan bukan” bah dipertontonkan_ sebaliknya, bah hari ini juga kemarin kepada kita / publik sebagai pemilik yang sah Negeri Indonesia tercinta ini. Pemilik yang sah mencintai dengan mengisi gebyar kemerdekaan kita yang beresensi sejati. Tentu, esensinya nan sejati hampa berkhutbah dengan diksi hanya ber_gas propanethial S-oxide doamgan di antara kita di dalam mengisi gebyar kemerdekaan sejati.

 

Kemerdekaan Kita

Baru akhir bulan Juli, sudah ada pesan diksi syair Kemerdekaan. Begitu semangatnya rakyat Indonesia mengingat hari 17 Agustus_nya.

Namun, semangat warganya tak dibarengi dengan itikad baik dari para pemimpinnya_sungguh aduhai_ Kemerdekaan Kita !

Kemerdekaan bukan sekedar hiasan kata kata kosong tanpa arti

Tetapi, merdeka adalah akar kata cinta nan berbudi luhur sejati // berikrar nurani di dalam batin berjiwa raga 

dari akar iqro bismirobbikalladzi kholaq nan berarti "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan"

Hingga merdeka bah Bulan purnama //menerangi malam gulita

Bagai Matahari menerangi jagat raya tanpa arogansi rasa benci

Kemerdekaan //itu berbagi kebahagiaan //juga saling menghargai perbedaan

Merdeka //setia tetap satu

Indonesia bangsa kita

Sekali Merdeka// kita tetap Merdeka// bukan pula hanya beraduhai_

 

Adahui Tanah Airku

Ini nihilan di limpahan padi

 

Adahui Tanah Airku

Ini kerontangan di kehijauan melambai

 

Adahui Tanah Airku

Ini ujian atau cobaan malapetaka

 

Adahui Tanah Airku

Ini, tentu hanya Tuhan Maha Tahu

 

Adahui Tanah Airku

ini bukan bah diksi 'tikus mati di lumbung padi'

 

Adahui Tanah Airku

bukan jua bah ocehan khotbah di atas bukit batuan tak bertuan.

***

Jadi, bukan konon lagi mengenai esensi istilah tuan “khutbah di atas bukit” merujuk pada dua hal utama yang terkenal, yakni ajaran penting Yesus Kristus dalam Alkitab: Matius pasal 5, 6, dan 7, dan novel sastra Indonesia karya Kuntowijoyo tahun 1971.

Esensi Novel karya Kuntowijoyo tersebut, berkisah tentang perjalanan batin Barman, seorang lanjut usia yang telah pensiun dan mapan. Ia mencari makna hidup sejati yang ditemani oleh Gadis muda cantik bernama Popi di sebuah vila di atas bukit pegunungan.

Di mana, Barman mencoba merenungkan arti hidup, kematian, dan nilai spiritual jauh dari keramaian kota.

Tentu, berbeda pada alur kesan tentang pengawalnya antara khutbah “Khotbah di Atas Bukit” dengan Khutbah / Pidato Presiden Prabowo di atas bukit mimbar senayan. Tentu, khutbah seorang Presiden mesti dikawal ketat oleh ajudannya berbintang amboi dengan iringan bacaan wirid doa pujian ber_gas propanethial S-oxide hingga memeremkan esensi dari akar sholat jumatan yang telah berkalam! _Wallahualam.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama