-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 30 Oktober 2026
Keiblisan Melawan
Tuhan
Oleh: Maman A.
Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Diksi keiblisan boleh dimaknai dengan
segala sesuatu yang memiliki sifat, watak atau karakteristik seperti iblis. Di
mana karakteristik dasar iblis dalam teologi memang mifatnya yang suka
menghasut, memfitnah, atau menjerumuskan orang lain ke dalam kesesatan atau
kesengsaraan.
Bahkan, perbuatannya yang sangat kejam,
licik, dan merusak, melampaui batas kemanusiaan. Dikarenakan keakutan sifat
sombongnya sejak diciptakan Adam dengan angkuh menolak peruntah Tuhan untuk
bersujud kepada Nabi Adam. sebagaimana di dalam QS. Al Baqarah: 34 yang
berarti;
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada para malaikat, 'Sujudlah kalian kepada Adam!' Maka mereka pun sujud
kecuali Iblis; ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang
kafir.”
Kemudian, di dalam QS. Al-A'raf ; 12 yang
berarti;
“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud
(kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Aku lebih
baik darinya; Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari
tanah.”
Menurut tafsiran Ibnu Katsir tentang frasa
akhir dari ayat diatas, bahwa Iblis menolak perintah Allah dengan mengajukan
argumen rasional yang keliru. Iblis mengklaim unsur api lebih mulia daripada
unsur tanah karena sifat api yang membubung ke atas (tinggi) dan tanah yang
berada di bawah.
Ibnu Katsir menekankan bahwa ini adalah
bentuk analogi hukum yang rusak (qiyas fasid). Iblis gagal memahami bahwa
kemuliaan sejati seorang makhluk dihadapan Allah tidak diukur dari materi asal
penciptaannya, melainkan dari tingkat ketaatan dan kepatuhan mutlak kepada
pencipta-Nya.
Padahal semulanya, Iblis tinggal dan
beribadah bersama saf para malaikat, menolak tunduk bukan karena tidak tahu
hukum, melainkan karena keangkuhan batiniah yang menolak untuk taat kepada
perintah-Nya.
Kesombongan tersebut yang mengubah status
Iblis dari makhluk yang taat menjadi kafir dan dikutuk oleh Tuhan hingga
kiamatan bersama dengan pengikut setianya. Dan kepada para pengikut setianya
pun dihianatinya dengan ultimatum sangat tegas melalui khutbah Keiblisannya
agar tidak melibatkan dirinya.
Iblis pun Berkhutbah
Kalau sudah diketahui, tidak mesti
diberitahu lagi akan aura roman hitam putih dari segala perbuatan yang memang
ada resikonya
Kecil atau besar mesti ada akibatnya
masing-masing, namun di dalam dunia ghaib tentu berbeda akumulasi dengan dunia
nyata berkalam
Konon, di dalam dimensi keghaiban tidak
mengenal timbang tebang pilih rasa bertameng, secuil apapun mesti disapuratain
dikarenakan gulita bergelimang
Kemunkaran yang sengaja mempermainkan
Tuhan dengan kesesatan nyata dan telah diketahuinya memang berkeiblisan.
Bahkan Iblis pun berkhutbah kepada para
pengikutnya yang diabadikan dengan nyata di dalam QS Ibrahim ayat 22 yang
berarti;
“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan
kepadamu janji yang benar dan aku pun telah menjanjikan kepadamu, tetapi aku
mengingkarinya. Tidak ada kekuasaan bagiku sedikit pun terhadapmu, kecuali aku
(sekadar) menyerumu, lalu kamu mematuhi seruanku.
Oleh karena itu, janganlah kamu
mencercaku, tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku tidak dapat menjadi penolongmu
dan kamu pun tidak dapat menjadi penolongku.
Sesungguhnya aku tidak membenarkan
perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.
Sesungguhnya orang-orang zalim akan
mendapat siksaan yang sangat pedih."
Bara kepedihan bukan hanya setelah di
akhiratan tetapi dunia kini hingga bermautan pun dirasakan akibat dari segala
ditanam mesti dipanen
Wassalam //terpulang mesti berkalam
//Keiblisan pun diketahui memang akan sekalian punahan bersalam
Diketahui akan Punah
Bila telah diberitahu dengan sumpah dan
berjanji akan beresiko tinggi, baik menimpa diri maupun turunan keluarga akan
punah
Kenapa mesti paksakan diri untuk melakukan
kejahatan terselubung nan nyata berkesesatan dan memang telah dikutuk oleh
Tuhan tanpa ampunan
Bahkan Iblis yang disembahin pun, telah
lepas tangan dengan tegas di dalam QS Ibrahim: 22, nyata dibagian akhirnya yang
berarti;
... Sesungguhnya aku/iblis tidak
membenarkan perbuatanmu mempersekutukan aku (dengan Allah) sejak dahulu.
Sesungguhnya orang-orang zalim akan
mendapat siksaan yang sangat pedih."
Sungguh mengherankan, koq mereka masih
memilih jalan kepedihan, padahal Tuhan telah menunjuk jalan "ihdinas
shiratal mustaqim/ Tunjukilah kami jalan yang lurus".
Bukankah QS Alfatihah: 6 tersebut, telah
dihafal dan dilafaz berulang kali disetiap saat, baik dalam sholat maupun
ikrarkan rutinitas lain agar tidak walaḍ-ḍāllīn atau berbuat zalim.
Telah //diketahui akan punah//masih juga
memilih// berdaulat tuanku pada keiblisan an sich
tidak //hanya secara individualisasi
bersorak //tetapi// juga ragam berjejaring antar institusi ormas bercorak
Ormas ala Daulat Tuanku
Ormas atau Organisasi Kemasyarakatan
bukanlah instansi birokrasi yang berhirarki agak berkesan elitis, bah menara
gading yang berdaulat tuanku!
Tetapi, ia hadir memang sebagai wadah
gerakan menjadi tumpuan konsultasi umat semesta di dalam mengatasi problem
kehidupannya sehingga mendapatkan secercah tetesan solusi yang dapat
mencerahkan secara etis menjadi atlasnya!
Begitu pula, esensi dari instansi yang
bersifat sosial keagamaan dan pendidikannya, baik PAUD berhingga perguruan
tinggi maupun beragam lanyanan sosial lainnya.
Kalau kini telah berubah esensi nilai rasa dari akar asasi gerakannya, maka apa bedanya dengan birokrasi hirarki berdaulat tuanku yang lainnya.
Tentu, hal demikian telah jauh dari akar
mendasar yang diikrarkan dengan lillahi ta'ala nan tulus dan tulen oleh
pendirinya masing-masing !
Apalagi, kini terkesan berebutan hanya
demi posisi berdaulat tuanku, maka semakin gulita fondasi ketulusan lillahi
ta'ala secara tulen oleh pendirinya !
Tentunya, wajar juga Kami beramuk muakan
pula akan kelakuan yang menodai niat tulus yang Lillahi ta'ala. Kalaulah, kader
tulen nan demikian, sungguh terasa hina nan memalukan. Justru telah menghina
ayat Tuhan
"Lima takuluna mala taf'alun .."
QS. Ash-Shaff: 2 nan berarti;
"Wahai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" _
Jadi, sekalipun dipolesin khutbah bergaya
sorbanan atau beraktivitas ala akademisi didagelaninya. Namun, sebaliknya
justru berperan berbuhulan ala berkeiblisan melawan Tuhan dan menjadikan
Jejaring Masif (JM) di dalam tindakan yang terselubungan kelam. Wallahualam.
