Mental Abu Lahab dan Jalan Terjal Menurut Al-Qur’an

Mental Abu Lahab hadir ketika manusia lebih sibuk mempertahankan kemewahan dan keistimewaan daripada membebaskan yang tertindas. Mental Abu Lahab hadir ketika kemiskinan hanya dilihat sebagai angka statistik, hadir ketika anak yatim hanya menjadi objek foto dalam kegiatan seremonial. Dan terakhir mental Abu Lahab hadir ketika kasih sayang kepada sesama dianggap kelemahan, sementara kekuasaan dan keuntungan dipandang sebagai ukuran keberhasilan. (Foto kreasi ChatGPT)  

 

-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 07 Oktober 2026

 

Mental Abu Lahab dan Jalan Terjal Menurut Al-Qur’an


(Renungan Tafsir Transformatif QS. Al-Balad, Ayat 11 - 20)

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Dalam kehidupan manusia, sering kita menyaksikan mental yang senang melihat orang lain berhasil, tetapi tidak tahan melihat orang lain bebas.

Ada yang mudah berbicara tentang kemajuan, tetapi berat ketika diminta berbagi. Ada yang rajin membangun citra kesalehan, tetapi tidak terusik melihat orang lapar, anak yatim terlantar, dan orang miskin yang hidup tanpa perlindungan.

Kondisi inilah yang menarik menjadi renungan melalui QS Al-Balad, ayat 11 hingga 20. Allah berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ

“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu?” (QS Al-Balad: 11–12).

Al-Qur’an kemudian menjelaskan jalan terjal tersebut bukan dengan ritual yang rumit, tetapi dengan tindakan sosial yang sangat konkret, yaitu

فَكُّ رَقَبَةٍ

membebaskan manusia dari perbudakan.

أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ

memberi makan pada hari ketika terjadi kelaparan.

يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ

memberi perhatian kepada anak yatim yang memiliki hubungan dekat.

أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ

membantu orang miskin yang berada dalam keadaan sangat membutuhkan.

Lalu Al-Qur’an menutup rangkaian ayat tersebut dengan iman, saling berpesan tentang kesabaran dan saling berpesan tentang kasih sayang.

Pertanyaan yang perlu menjadi renungan adalah mengapa hal-hal tersebut disebut jalan terjal? Disebut jalan terjal karena menyentuh kepentingan pembebasan manusia atas manusia yang lain. Menghapus relasi kuasa membuat elit qurasy kehilangan kekuasaan, pada saat yang sama para budak menemukan kebebasannya.

Memberi makan orang lapar bukan sekadar memberikan nasi. Tetapi bentuk pengakuan bahwa kehidupan orang lain juga merupakan tanggung jawab moral bagi elit quraisy.

Demikian pula menyantuni yatim dan miskin bukan sekadar amal individual. Ia merupakan pengakuan bahwa masyarakat mempunyai kewajiban untuk tidak membiarkan manusia hidup dalam keterlantaran.

Karena itulah jalan tersebut disebut jalan terjal (al-’aqabah) atau jalan mendaki dan sukar.

Sebenarnya yang sulit bukan mengetahui bahwa kemiskinan itu ada. Yang sulit adalah bersedia mengurangi kenyamanan ketika kenyamanan kita dibangun di tengah ketidaknyamanan orang lain.

Yang sulit bukan berbicara tentang keadilan. Yang sulit adalah menerima konsekuensi ketika keadilan itu menyentuh kepentingan sendiri.

Al-Qur’an memang tidak menyebut Abu Lahab dalam QS Al-Balad. Namun sebagai elit quraisy ketika itu, yang mentalnya ingin melestarikan perbudakan serta menentang ajaran Nabi Muhammad SAW tentang kesetaraan manusia, maka QS Al-Balad, ayat 11 - 20 ini, lebih bersifat universal, menyisir mental Abu Lahab yang tidak ingin menempuh jalan pembebasan dan solidaritas hingga akhir zaman.

Dari sinilah istilah “mental Abu Lahab” dapat digunakan sebagai metafora moral.

Mental Abu Lahab abad ini tidak harus memakai pakaian Quraisy. Mental Abu Lahab bisa mengenakan jas, berbicara dengan bahasa modern, menguasai teknologi, aktif di media sosial, bahkan berbicara tentang agama dan pembangunan.

Mental Abu Lahab hadir ketika manusia lebih sibuk mempertahankan kemewahan dan keistimewaan daripada membebaskan yang tertindas.

Mental Abu Lahab hadir ketika kemiskinan hanya dilihat sebagai angka statistik, hadir ketika anak yatim hanya menjadi objek foto dalam kegiatan seremonial.

Dan terakhir mental Abu Lahab hadir ketika kasih sayang kepada sesama dianggap kelemahan, sementara kekuasaan dan keuntungan dipandang sebagai ukuran keberhasilan.

Al-Qur’an membalik ukuran kehormatan tersebut.

Masyarakat jahiliyah mengenal ukuran kehormatan yang sangat kuat adalah nasab, kekayaan, kekuasaan, dan posisi sosial.

Al-Qur’an menawarkan ukuran yang berbeda.

Ukuran kemuliaan tidak berhenti pada apa yang seseorang miliki, tetapi pada apa yang mereka lakukan untuk membebaskan dan memuliakan manusia lain.

Karena itu, QS Al-Balad menarik untuk dibaca sebagai kritik terhadap masyarakat yang memiliki banyak sumber daya tetapi gagal membangun solidaritas.

Sebuah bangsa dapat membangun gedung-gedung tinggi, jalan tol, kawasan industri dan pusat perdagangan. Tetapi jika di balik semua itu masih terdapat manusia yang lapar, anak-anak yang kehilangan perlindungan, pekerjaan yang tidak  layak, dan kelompok miskin yang terus tersisih, maka pertanyaan Al-Qur’an tetap relevan : Apakah kita sudah menempuh jalan terjal (al-’aqabah?)

Mental Abu Lahab abad ini bisa lebih berbahaya.

Abu Lahab pada zamannya terlihat jelas. Ia menentang dakwah Nabi dan dikenal sebagai salah satu penentang yang paling gigih.

Tetapi mentalitas serupa pada zaman modern ini dapat tampil jauh lebih halus. Mental Abu Lahab tidak selalu datang dengan penolakan terbuka segagaima yang dipragmenkan oleh Abu Lahab. Tapi hadir dalam bentuk ketidakpedulian.

Tidak melarang orang miskin mendapatkan haknya, tetapi juga tidak peduli ketika hak itu tidak terpenuhi.

Tidak menyatakan membenci kaum lemah, tetapi tidak melakukan apa pun ketika mereka dipinggirkan.

Tidak menolak keadilan secara terbuka, tetapi terus menikmati keadaan yang tidak adil.

Inilah yang membuat persoalan moral menjadi lebih rumit. Sebab terkadang manusia tidak menjadi bagian dari kejahatan karena ia melakukan kejahatan secara langsung, tetapi karena ia terlalu nyaman untuk tidak  peduli.

Al-Qur’an menawarkan jalan keluar yaitu: Bebaskan manusia, berikan makan kepada yang lapar, lindungi anak yatim, pedulikan orang miskin, bangun kesabaran, serta tumbuhkan kasih sayang.

Hal hal tersebut di atas adalah jalan terjal yang mungkin tidak menghasilkan popularitas seketika. Jalan yang mungkin tidak memberikan keuntungan politik.

Jalan yang bahkan kadang menuntut seseorang berhadapan dengan kepentingannya sendiri.

Tetapi justru karena itulah ia disebut al-’aqabah.

Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana manusia menjadi baik secara pribadi. Islam juga mengajarkan bagaimana kebaikan itu diwujudkan menjadi pembebasan sosial.

Karena itu, ukuran keberagamaan tidak cukup hanya dilihat dari seberapa sering seseorang berbicara tentang Tuhan. Tapi juga harus nampak dalam memperlakukan manusia.

Sebab seseorang bisa rajin berbicara tentang surga, tetapi belum tentu mau menempuh jalan terjal menuju ke sana.

Mungkin tantangan terbesar umat manusia hari ini bukan hanya kemajuan teknologi, tetapi kemunduran rasa kemanusiaan.

Kita memiliki teknologi yang mampu menghubungkan manusia di seluruh dunia, tetapi masih kesulitan menghubungkan hati manusia dengan penderitaan sesamanya.

Kita memiliki kekayaan yang luar biasa, tetapi distribusinya belum selalu menghadirkan keadilan.

Kita berbicara tentang pertumbuhan ekonomi, tetapi jarang kita peduli siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut.

Di sinilah QS Al-Balad menjadi sangat patut untuk direnungkan.

“Mental Abu Lahab” bukan tentang nama seseorang. Tapi mental yang dapat melanda siapa saja dari masa ke masa.

Mentalitas yang melihat kebebasan orang lain sebagai ancaman.

Mentalitas yang melihat kemiskinan sebagai masalah orang lain.

Mentalitas yang kehilangan empati.

Mentalitas yang nyaman dengan ketimpangan.

Dan sebaliknya, “al-’aqabah” adalah keberanian untuk keluar dari kenyamanan ego menuju tanggung jawab kemanusiaan.

Al-Qur’an seperti sedang mengajukan sebuah pertanyaan kepada setiap zaman:

Ketika kita berhadapan dengan manusia yang lapar, tertindas, miskin dan terlantar, apakah kita memilih berdiri di sisi kenyamanan, atau berani menempuh jalan terjal pembebasan?

Jalan menuju kemanusiaan memang terjal. Tetapi justru di jalan yang terjal itulah iman menemukan bentuk sosialnya berupa kesabaran, kasih sayang, keadilan dan keberpihakan kepada kaum mustad'afiin. Wallahu a'lam bisshawab.

 

Makassar, 07 Oktober 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama