------
PEDOMAN KARYA
Kamis, 01 Oktober 2026
Wibawa_an Presiden Prabowo
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Kata wibawa merujuk pada kewibawaan, baik
mengarah pada kekuasaan maupun pengaruh yang disegani dengan kadar yang
dimilikinya.
Islam menilai orang yang berwibawa, yakni
seseorang yang memiliki ketenangan batin, kedalaman iman, serta adab dan sifat
takwa kepada Allah SWT, sehingga disegani orang lain. Namun, lebih dikedepankan
esensi kewibawaan dalam pandangan Islam bukan bersumber dari harta atau
kekuasaan, melainkan dari ilmu pengetahuan dengan pancaran iman dan kedekatan
diri kepada Allah.
Orang yang benar-benar takut kepada Allah
akan memancarkan wibawa alami di hadapan makhluk lainnya. Dalam surah Al-Fath
ayat 29, digambarkan bagaimana para sahabat Nabi memiliki ketegasan terhadap
orang kafir, namun penuh kasih sayang di antara sesama. Hal ini sebagaimana
hadist Rasulullah Saw yang dinukilkan oleh HR. Bukhari yang berarti:
“Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah
orang yang paling baik akhlaknya.”
Kemudian, hadist yang diriwayat Al Uqailiy
/Al Hafidz Al Ghumariy , Al Mudawiy, 1/344. yang berarti;
“Jika seorang hamba takut kepada Allah,
maka Allah menjadikan segala sesuatu takut kepadanya. Dan jika seorang hamba
tidak takut kepada Allah, maka Allah menjadikan, ia takut kepada segala
sesuatu.”
Termasuk, kekharismatik akan nama diemban
sehingga bermakna dan bertautan kepadanya. Bukan hanya sebatas artian
diidentikkan saja. Misalnya, nama Prabowo Subianto memiliki arti yang mendalam,
di mana “Prabowo” berarti kepribadian yang utama dan “Subianto” berarti berhati
baik.
Kombinasi nama tersebut, secara filosofis
mencerminkan karakter yang kuat, keluhuran, serta kewibawaan.
Esensinya, menggambarkan sosok yang
memiliki sifat, moral, dan karakter yang baik serta mulia. Bukan hampa di dalam
kehampaan makna mesti diembannya.
Apalagi telah berkuasa sebagai Presiden,
maka mestinya ia semakin berwibawa karena telah bermahkota presiden bukan
terkesan nan sebaliknya diinisialkan tiara bah diksi londo ireng juga goblok
yang dioralisasikannya.
Mungkin juga tidak atau mestinya bah bait ‘Tiara
inisialin’ berikut ini. Tentu, diksinya yang kesan semakin sialan berpadatan
nan bertautan atau juga sepadan yang bersalaman tanpa dimaknai dengan
kegulitaan.
Tiara Inisialin
Kalau mahkota atau boleh dimaknai dengan
tiara tanpa diinisialin, memang tampilannya harus mempesona di kepala sebagai
lambang harga diri yang direklamekan.
Jadi, inisial tiara bukan tiren, ia mesti
tampil kren di layar kaca, dan bukan tiarap terselubung gaya senyapan sialan!
Kalau inisial nama tiara sebagai mutiara
bermahkota yang disenyapin terus, maka sama halnya dengan jasad yang akan
segera dikremasi saja !
Atau juga berinisal para akrobatik
kesialan yang lain, mesti berani tampil transparan apa adanya, agar lebih
menawan tanpa sial ditebarin di gunung ganang bethadapan.
Mesti disadari kehadiran medsos publik
yang semakin canggih dan terbuka secara global memang daya kritis luar biasa
tajam dan cekatannya semakin cerdas.
Apalagi kehadiran diksi pemimpinnya
dikesankan agak sialan ke sana-sini_yang saban hari semakin tak karuan lagi!
bah ocehan liar di media sosial dituduhkannya. Namun, esensinya tidak bisa
dipungkiri hal demikian, di era masa kini, tentu menjadi kebebasan mimbar
publik untuk menyuarakan hak asasinya masing-masing.
Tentunya, tidak mesti dinafikan dan
dianggap pula sebagai ruang hampa yang terpulang kembali kepadamu/nya jua.
Misalnya, bila ada yang menggores diksi berikut ini, memang tidak mesti
dihindari akan kemunculannya.
“Presiden Prabowo hampa wibawa semakin
ke sini koq semakin semau gue. Ketika mengganti menteri seenaknya pun tanpa
beretika sama sekali. Sekalipun, menjadi hak prerogatif_nya, namun mesti
dikedepankan menghargai esensi moralitas hak asasi dengan kejujuran etis apa
adanya, sehingga dihargai oleh publik yang mengamanahinya.”
Dihargai sebagai esensi kejujuan yang
berjiwa takbiran sesungguhnya. Manakala, esensi kejujuran bertakbiran yang
dilakoninya, tentu kehadirannya akan meruntuhkan dan juga menggetarkan jiwa
raga, baik oleh para perampok uang negara yang beringas maupun orang goblok
sekalipun. Tentu, mereka akan menyadari dirinya atau sebaliknya para pemimpin
akan segera siuman tidak korupsi/merampok yang bukan haknya.
Kejujuran Menyadarkan Perampok
Dalam sub goresan ini, akan dinukilkan
kisah tentang esensi kejujuran Imam Syafi'i saat kecilnya. Di dalam buku
Biografi Imam Syafi'i: Kehidupan, Sikap, dan Pendapatnya yang ditulis oleh
Abdul Aziz asy-Syinawi (2013 : 17–20).
Dikisahkan ketika Imam Syafii, melakukan
perjalanan ke Madinah untuk belajar ilmu agama kepada Imam Malik. Saat
berangkat menuntut ilmu, Ibunya membekali Imam Syafi'i uang sebanyak 400 dirham
yang dijahit rapi di dalam pakaiannya. Sebelum berangkat, ibunya berpesan agar
ia selalu berkata jujur dan tidak pernah berdusta dalam situasi apa pun.
Imam Syafi'i berjanji untuk menepatinya.
Singkat cerita, di tengah perjalanan, kafilah atau rombongan yang ditumpangi
Imam Syafi'i dicegat oleh sekelompok perampok.
Kemudian, para perampok menjarah seluruh
harta benda rombongan. Karena Imam Syafi'i kecil tampak tenang dan tidak
membawa barang di luar, perampok tidak memeriksanya. Namun, pemimpin perampok
lantas bertanya kepada Imam Syafi'i, apakah ia membawa sesuatu?
Imam Syafi'i kecil dengan polos dan jujur
menjawab bahwa ia menyimpan 400 dirham yang dijahit di balik bajunya.
Kemudian, pemimpin perampok mengira anak
kecil itu sedang bergurau atau tidak waras. Saat diminta membuktikannya, Imam
Syafi'i mengeluarkan uang 400 dirham tersebut.
Lalu, pemimpin perampok keheranan dan
bertanya, mengapa ia jujur, padahal tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan
uang tersebut.
Imam Syafi'i menjawab dengan polosnya
bahwa ia telah berjanji kepada ibunya untuk selalu jujur, dan ia takut
melanggar janji itu.
Mendengar jawaban polos tersebut,
maka hati sang pemimpin perampok bergetar hebat. Ia merasa malu; seorang anak
kecil begitu takut melanggar janji kejujuran kepada ibunya, sementara ia
sendiri terang-terangan melanggar perintah Allah sebagai perampok.
Akhirnya, pemimpin perampok dengan
seketika menangis, menyatakan bertaubat. Lalu mengembalikan seluruh harta
rampasan milik rombongan Imam Syafi'i tersebut tanpa kecuali.
Kisah cerita singkat tentang wibawa
kejujuran yang bertakbiran polos dan tulus tanpa polesan sehingga batu cadas
kebengisan hati pemimpin perampok pun bergetar runtuh dengan sendirinya tak
terbantahkan.
Sama halnya dengan esensi dari namanya
yang bermakna kewibawa_an Presiden Prabowo. Dan akan lebih aduhai lagi
bila seiring pula dengan durasi diksi kejujuran ditakbirkan nan polos apa
adanya. Hal demikian yang akan bercermin dengan sendirinya, sebagaimana kisah
kesadaran sang pemimpin para perampok di atas.
Tentu, tidak perlu lagi untuk
berngos-ngosan di dalam membantahin radiasi dari pelintiran tentang durasi
diksi dari orasinya. Namun, kehadiran diksi pelintiran bisa terjadi, memang
secara jujur akibat dari esensi pidato yang dikesankan agak sepontan
kurang elokan. Dan esensi kesannya berlebihan retoris yang
berpelontar-pelanturan, sehingga tanpa berwibawa sebagai tiara pemimpin yang
diidetikan.
Jadi, kalau tidak mau dipelintir, ya,
jangan pula dilontar lanturin diksinya retoris kurang etis. Baik di dalam
berorasi atau berocehan agar tiara kewibawa_an sebagai Presiden Republik
Indonesia yang sesungguhnya. Berhingga berkalam pada diksi yang berinsial
husnul khatimah sebagaimana diharapkan di dalam bersalam_ Wallahualam.
