Demokrasi Elektoral Milik Siapa?

 

Ketika modal raksasa sibuk mendikte publik dari atas menara gading, anak pinggiran yang paham denyut tanah kelahirannya hanya butuh satu lontaran narasi yang tepat sasaran, menembus celahkeangkuhan mesin politik, merobohkan hegemoni persepsi, dan membuktikan bahwa uang bisa membeli ruang tayang, tetapi tidak pernah bisa membeli kehendak bebas nurani rakyat. (int)  


 ------

PEDOMAN KARYA

Jumat, 06 November 2026

 

Demokrasi Elektoral Milik Siapa?

 

(Refleksi Sepenggal Kisah Nabi Daud)

 

Oleh: Usman Lonta

(Ketua Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Makassar)

 

Di lembah Elah ribuan tahun silam, pasukan Raja Thalut terjangkit histeria kolektif. Di hadapan mereka berdiri Jalut, manusia raksasa berbobot perunggu, memegang tombak setebal kayu pemintal, dan dilindungi lapisan baju perang yang rapat tanpa celah secara kasat mata.

Tentara Thalut nyaris menyerah sebelum sempat menghunus pedang karena satu kekeliruan fatal. Mereka membiarkan Jalut mendikte tolok ukur kekuatan. Dalam benak pasukan Thalut, bahwa perang hanya bisa dimenangkan jika alat perang bisa melampaui alat perang yang dimiliki oleh Jalut.

Namun di tengah pasukan tentara Raja Thalut, ada seorang pemuda, penggembala, berasal dari kaum pinggiran yang gagah berani mengacungkan tangan untuk siap berhadapan dengan Jalut. Dialah yang kelak dikenal dengan Nabi Daud ‘alaihissalam.

Jika kita mencermati arena demokrasi elektoral hari ini, delusi serupa telah berjangkit pada masyarakat kita. Ada dogma kaku yang ditanamkan ke kepala publik, melalui lembaga survei, konsultan politik, partai politik, hingga para analis politik, bahwa kontestasi elektoral adalah perang kapital mutlak.

Siapa yang tidak memegang logistik puluhan miliar, mesin partai oligarkis, serta tim konsultan mahal pengatur algoritma media sosial, dianggap sekadar remah-remah penghibur panggung.

Politisi mapan hadir persis seperti Jalut modern yang menggunakan baliho raksasa di setiap sudut jalan, bertamengkan pasukan siber, influenzer, sembako, dan relawan bayaran, serta memborong seluruh instrumen pembentuk opini publik.

Sementara politisi anak jalanan (bukan politisi anak nama jalan) yang lahir tanpa previlese trah politik dan sokongan modal, narasi yang dibangun cuma satu, mundurlah, gelanggang ini bukan tempatmu, bukan duniamu.

Dari narasi itulah saya teringat kisah Nabi Daud yang mampu menumbangkan Jalut. Bahkan ketika Raja Thalut mencoba memakaikan baju perang kerajaannya kepada Nabi Daud, anak muda pengembala itu melepasnya.

Nabi Daud AS menyadari bahwa jika ia memaksakan diri memakai pakaian perang tersebut dan menyeret pedang berat, maka ia hanya menjadi tiruan Jalut versi inferior, lamban, canggung, dan bertarung di bawah aturan main yang memang dirancang untuk menghancurkan dirinya.

Kemenangan politik anak pinggiran seperti Nabi Daud tidak pernah lahir dari upaya meniru instrumen raksasa Jalut / oligarki. Menghadapi konglomerasi politik dengan adu tebal modal logistik adalah bunuh diri taktis. Sebaliknya, raksasa politik kontemporer selalu memelihara kelemahan fatal di balik skala masifnya  keangkuhan struktural.

Semakin tebal manipulasi algoritma dan konsultan citra membungkus seorang kandidat, semakin kaku pergerakannya, dan semakin lebar jurang emosionalnya dengan realitas akar rumput.

Algoritma publik bisa direkayasa dengan belanja iklan, tetapi algoritma tersebut beroperasi secara mekanis, dingin, dan steril. Di situlah celah baju perang Jalut berada yaitu ketidakmampuan modal raksasa untuk membeli otentisitas penderitaan dan kegelisahan organik rakyat jelata.

Ketapel Daud dalam politik elektoral bukanlah uang atau mesin buatan, melainkan resonansi nilai yang sangat tajam dan presisi.

Ketika modal raksasa sibuk mendikte publik dari atas menara gading, anak pinggiran yang paham denyut tanah kelahirannya hanya butuh satu lontaran narasi yang tepat sasaran, menembus celah keangkuhan mesin politik, merobohkan hegemoni persepsi, dan membuktikan bahwa uang bisa membeli ruang tayang, tetapi tidak pernah bisa membeli kehendak bebas nurani rakyat. Wallau a’lam bisshawab.

 

Sungguminasa, 06 Oktober 2026

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama