PEDOMAN KARYA
Senin, 19 Oktober
2015
Definisi dan
Langkah Penulisan Sejarah
Kata atau istilah
sejarah berasal dari kata syajarah (Bahasa Arab) yang berarti pohon. Kata
syajarah ini digunakan karena pada awal perkembangannnya di Nusantara
(Indonesia), sejarah dititik-beratkan kepada silsilah para raja dan bangsawan,
yang akan menyerupai pohon bila dilukiskan dalam bentuk skema.
Sejarah adalah
peristiwa yang dilakukan manusia pada masa lampau di tempat tertentu, dan pada
waktu tertentu. Sebagai peristiwa masa lampau, sejarah sering dipahami dalam
dua hal, yaitu sejarah sebagai realitas peristiwa (history as actuality), dan
sejarah sebagai kisah peristiwa (history as written).
Sejarah sebagai
realitas peristiwa bersifat unik, terjadi hanya satu kali, dan mustahil
terulang, sedangkan sejarah sebagai kisah peristiwa masa lampau adalah realitas
peristiwa masa lampau yang menjadi tugas sejarawan untuk menelitinya melalui
jejak yang ditinggalkan lalu kemudian direkonstruksi menjadi kisah.
Ada beberapa
fungsi dan kegunaan sejarah, antara lain sejarah sebagai nasehat (JAS MERAH =
jangan sekali-kali melupakan sejarah), sejarah sebagai alat pembuktian (sejarah
telah membuktikan bahwa...), sejarah sebagai guru (sejarah mengajarkan kepada
kita bahwa...), serta sejarah sebagai i'tibar dan proses pengharapan (wal
tandzur nafsun maa qaddamat li gad).
Peristiwa yang
terjadi pada masa lampau sebelum ada tulisan disebut prasejarah. Jadi, sejarah
ada setelah adanya jejak, bekas, atau bukti tertulis. Peristiwa masa lampau
yang dapat dijadikan sasaran penelitian untuk selanjutnya direkonstruksi
menjadi kisah, hanyalah yang meninggalkan jejak, bekas, atau bukti.
Peristiwa yang
dapat menjadi sasaran penelitian ilmu sejarah adalah peristiwa yang dilakukan
oleh manusia atau memengaruhi secara langsung proses kehidupan manusia.
Berikutnya yaitu
peristiwa yang meninggalkan jejak, bekas, atau bukti (tertulis, lisan, dan
benda), serta peristiwa yang telah berlalu, prosesnya telah selesai, atau telah
terdapat penggalan tertentu, meskipun peristiwanya masih berproses.
Adakah perbedaan
antara data dan fakta sejarah? Data sejarah adalah sesuatu yang terkait secara
langsung dan diperoleh dari jejak, bekas, atau bukti peristiwa. Sedangkan fakta
sejarah adalah data yang telah diolah dan merupakan simpulan jawaban dari pertanyaan
elementer dan mendasar, yaitu peristiwa apa yang terjadi, siapa pelaku
peristiwanya, serta dimana dan kapan terjadinya.
Kepingan-kepingan
peristiwa yang diperoleh dari jejak, bekas, atau bukti yang dianggap penting,
relevan, dan terpilih itulah fakta yang tentu saja masih bersifat fragmentaris.
Menyusun fakta-fakta yang bersifat fragmentaris ke dalam uraian analitis, sintesis,
sistematis, komunikatif itulah yang disebut rekonstruksi sejarah.
Empat Langkah
Penulisan
Ada empat langkah
dalam penelitian dan penulisan sejarah, yaitu pertama pengumpulan data
(heuristik), kedua pengolahan data (kritik sumber), ketiga interpretasi, dan
keempat historiografi.
Langkah pertama,
pengumpulan data atau heuristik, adalah upaya mencari dan menemukan jejak,
bekas, atau bukti yang disebut sebagai sumber. Sumber dalam hal ini terdiri
atas sumber primer dan sumber sekunder.
Sumber primer
adalah sumber yang berasal dari jejak, bekas, atau bukti yang secara langsung
ditinggalkan atau direkam oleh pelaku sendiri atau pihak lain pada saat
peristiwa terjadi, seperti catatan harian, notulen rapat, memoar, laporan
kejadian, dan arsip-arsip lainnya.
Sedangkan sumber
sekunder adalah sumber yang tidak secara langsung merupakan jejak, bekas, atau
bukti yang ditinggalkan oleh pelaku atau pihak lain pada saat peristiwa
terjadi.
Langkah kedua,
kritik sumber (pengolahan data) adalah upaya memastikan bahwa data yang
diperoleh melalui langkah heuristik (langkah pertama) benar-benar valid,
penting, relevan, dan lolos seleksi.
Langkah ketiga,
interprestasi, adalah upaya menentukan perspektif, memberikan penjelasan dan
penafsiran terhadap fakta-fakta serta menghubungkan antara satu fakta dengan
fakta lainnya.
Dalam kaitan
dengan interpretasi inilah yang memungkinkan terjadinya bermacam-macam versi
dalam pengisahan suatu peristiwa atau penulisan sejarah.
Langkah keempat,
historiografi, adalah upaya menuliskan data yang telah ditingkatkan menjadi
fakta, kemudian diinterpretasi dan direkonstruksi dengan menghubungkan antara
satu dengan lainnnya, sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh, sistematis, dan
informatif.
Sebagai hasil
akhir laporan penelitian dan penulisan sejarah, misalnya tentang Muhammadiyah
Sulawesi Selatan, tentulah berupa buku sejarah yang di dalamnya termuat secara
lengkap dan sistematis segala seluk-beluk, semua aktivitas, dan keseluruhan
proses dinamika perkembangan Muhammadiyah sejak awal berdirinya hingga
penggalan sejarah yang ditentukan. (asnawin)
----
Keterangan:
--- Tulisan ini
diringkas dari materi tertulis Dr KH Mustari Bosra (sejarawan Universitas
Negeri Makassar/Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulsel) pada Workshop
Penulisan Sejarah dan Profil Muhammadiyah se-Sulsel, di kampus Universitas
Muhammadiyah Parepare (Umpar), Sabtu, 15 November 2014.

Penulisan sejarah
BalasHapus