Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita


Muhammad Dg Patompo dari tentara menjadi Walikota Makassar, sementra KH Fathul Muin Dg Maggading dari pejuang kemerdekaan menjadi seorang tokoh pergerakan organisasi Muhammadiyah di Makassar.



-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 21 November 2020



Fathul Muin Dg Maggading dan HM Dg Patompo



Oleh: Syandri Syaban Lc MAg


Mohammad Dg Patompo dan KH Fathul Muin Dg Maggading adalah dua tokoh di Kota Makassar yang sama-sama memiliki peran penting saat proses merebut kemerdekaan dari penjajah Belanda. 

Setelah Indonesia merdeka, masing-masing mengambil peran yang berbeda. Muhammad Dg Patompo dari tentara menjadi Walikota Makassar, sementra KH Fathul Muin Dg Maggading dari pejuang kemerdekaan menjadi seorang tokoh pergerakan organisasi Muhammadiyah di Makassar.

Muhammad Dg Patompo sebenarnya bukan kelahiran Makassar, bahkan tidak lahir di Provinsi Sulawesi Selatan. Menurut buku Tokoh-Tokoh di Balik Nama-Nama Jalan Kota Makassar, Patompo lahir pada 17 Agustus 1926 di Polewali Mandar. (Ahyar Anwar & Asjan Abidin, 2018:74).

Banyak kisah di balik perjalanan kehidupan militer Muhammad Dg Patompo. Meski dari hasil penelusuran penulis, Dg Patompo menyimpan rasa hormat kepada KH Fathul Muin. 

Di antara sebabnya, selain karena Pak Kiyai lebih senior dalam perjuangan merebut kemerdekaan, juga dilatari oleh perasaan utang budi.

Kisah itu berawal sekitar tahun 1953, ketika pergerakan DI/TII masih merajalela di luar kota Makassar, Patompo nyaris menjadi komandan batalyon Oosterling berkat rekomendasi dari Kapten Andi Abdul Lathif. Namun sebelum mengisi jabatan itu, Patompo diuji dengan cara memimpin pasukan di sekitar Taman Nasional Bantimurung. 

Selama dua bulan Patompo dan pasukannya itu bertahan di Camba. Setelah dua bulan berlalu, Patompo dan pasukannya diperintahkan Mayjen Andi Mattalatta memasuki kota Makassar yang berjarak sekitar 70 kilometer dari tempat Patompo dan pasukannya bermarkas.

Ketika Patompo dan pasukannya belum jauh meninggalkan Camba, mereka dicegat serombongan gadis. Gadis-gadis itu menawarkan makan jagung bakar bersama. Ajakan itu tidak ditolak oleh Patompo. 

Selanjutnya dia memerintahkan dua peletonnya meneruskan perjalanan. Pasukan yang tersisa di samping Patompo adalah satu peleton dan beberapa staf kompi.

Rupanya di sekitar Bantimurung pasukan DI/TII memasang perangkap. Suara tembakan dari jauh membuat Patompo sadar dan berusaha mengejar dua peleton pasukannya yang sudah terlanjur maju dan terjebak dalam pertempuran. 

Setelah melihat anak buahnya dalam posisi sangat buruk, Patompo bersama pasukannya yang tersisa mencari jalan aman untuk menyelamatkan diri.

Bantuan kemudian datang lalu mencari Patompo dan pasukannya yang tercerai berai. Seminggu kemudian barulah Patompo ditemukan. Dia lalu dibawa ke oditur militer untuk diadili. Berungtungnya ia tidak dipecat tapi pangkatnya yang masih letnan dua harus turun satu tingkat.

Dari informasi sejarah yang ditemukan penulis, dapat diketahui bahwa dalam kondisi terdesak inilah KH Fathul Muin yang ketika itu belum menjabat sebagai Ketua Cabang Muhammadiyah Makassar memberikan bantuan penyelamatan kepada Patompo dan pasukannya yang terjebak oleh serangan pasukan DI/TII. 

Apatah lagi daerah Camba merupakan daerah yang tidak asing bagi KH Fathul Muin yang juga merupakan salah satu daerah di tanah kelahirannya. Inilah yang melatarbelakangi Patompo sangat hormat kepada KH Fathul Muin Dg Maggading.

Sering kali kebijakan-kebijakan Patompo ketika memimpin Makassar ditentang oleh Kiai Fathul Muin dengan sangat keras. Puncak-puncak pertentangannya adalah sekitar tahun 1968-1970 ketika Patompo membolehkan perjudian dengan nama Lotto sebagai salah satu sumber pendapatan daerah.

Ada satu kisah yang teramat lucu dan diceritakan oleh mantan ajudan Dg. Patompo yang bernama Andi Jamaluddin Santo, tentang keseganan Mohammad Dg Patompo (yang kemudian lebih akrab disebut HM Dg Patompo) kepada KH Fathul Muin Dg Maggading. 

Di kala itu, Dg Patompo memerintahkan kepada ajudannya agar segera membuat undangan dalam rangka pertemuan tokoh-tokoh agama dan petinggi Ormas Islam. Ia pun mewanti-wanti kepada ajudannya agar mengundang beberapa orang saja.

Tanpa disangka dan diperkirakan sebelumnya, Andi Jamaluddin Santo turut mengundang “Dg Maggading” sebagai tokoh agama Islam yang diundang dengan hormat oleh Walikota Makassar pada pertemuan tersebut.

KH Fathul Muin Dg Maggading, merupakan ulama kharismatik dan juga selaku salah satu pimpinan persyarikatan Muhammadyah di Kotamadya Tingkat II Ujung Pandang.

Di kala itu, saat tiba dirl ruang kerja walikota, masing-masing para undangan dipersilahkan duduk. Dg Patompo, pada waktu itu masih duduk di belakang meja kerjanya.

Begitu KH Fathul Muin Dg Maggading masuk di ruang kerja sang Walikota, tiba-tiba Daeng Patompo berteriak keras sembari bersembunyi di kolong meja kerjanya lalu berucap “bukan itu” teriaknya sambil menunjuk ke arah tamu dalam hal ini Kiai Haji Daeng Maggading.

Betapa kagetnya Andi Jamaluddin Santo, sekaligus sangat geli melihat Sang Walikota bersembunyi di bawah meja. 

Sebenarnya daftar undangan, Kiai Haji Daeng Maggading tidak termasuk dalam daftar. Mengapa demikian? Karena Daeng Patompo tidak berani untuk bertemu dengan KH Daeng Maggading disebabkan sangat segan pada figur dan ulama kharismatik tersebut. (Mattaliu Abdurrazaq “H. M. Daeng Patompo, Biografi Perjuangan, 1997).

Itulah! Daeng Patompo tanpa sadar bersembunyi di bawah kolong meja kerjanya.


Umar segera pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pundaknya. (int)



----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 22 November 2020



Kisah Pemimpin yang Minta Maaf kepada Rakyatnya




Suatu sore, Khalifah Umar bin Khattab mengajak sahabatnya Aslam blusukan ke kampung terpencil di sekitar Madinah.

Di dekat sebuah gubuk reot, langkah Umar terhenti. Ia mendengar tangisan seorang gadis kecil.

Karena penasaran, Umar pun mengajak Aslam mendekati gubuk lusuh itu memastikan keberadaan penghuninya.

Khalifah Umar berpikir mungkin penghuni gubuk itu membutuhkan bantuan. Umar pun sampai.

Di dalam gubuk, seorang perempuan dewasa sedang duduk di depan perapian.

Perempuan itu terlihat sedang mengaduk-aduk bejana. Setelah mengucapkan salam, Umar meminta izin untuk mendekat.

Khalifah Umar bertanya, "Siapa yang menangis di dalam?"

"Anakku," jawab perempuan itu agak ketus

"Kenapa anak-anakmu menangis? Apa dia sakit?" tanya Umar.

"Tidak, mereka lapar," jawab perempuan itu.

Seketika Umar dan Aslam tertegun, sementara gadis di dalam gubuk masih saja menangis.

Dalam keadaan seperti itu, perempuan yang menjadi ibunya terus saja mengaduk bejana.

"Apa yang kau masak? Mengapa tidak juga matang masakanmu?" tanya Umar penasaran.

"Kau lihatlah sendiri!" jawab perempuan itu.

"Apakah kau memasak batu?" tanya Umar kaget.

"Aku memasak batu-batu ini untuk menghibur anakku. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Dia tidak mau melihat ke bawah, apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum," kata perempuan itu.

"Lihatlah aku. Aku seorang janda. Sejak pagi tadi, aku dan anakku belum makan apa-apa. Jadi anakku pun kusuruh berpuasa, dengan harapan ketika waktu berbuka kami mendapat rezeki. Namun ternyata tidak. Sesudah maghrib tiba, makanan belum ada juga. Anakku terpaksa tidur dengan perut kosong. Aku mengumpulkan batu-batu kecil, memasukkannya ke dalam panci dan kuisi air. Lalu batu-batu itu kumasak untuk membohongi anakku dengan harapan dia akan tertidur lelap sampai pagi. Ternyata tidak. Mungkin karena lapar, sebentar-sebentar dia bangun dan menangis minta makan," ucap perempuan itu.

"Namun apa dayaku? Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin. Dia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya," lanjut perempuan itu.

Perempuan itu tidak tahu jika yang dihadapannya adalah Khalifah Umar. Mendengar semua itu, Aslam sempat hendak menegur tetapi dicegah oleh Umar.

Umar lantas menitikkan air mata. Ia segera bangkit lalu mengajak Aslam kembali ke Madinah.

Sampai di Madinah, Umar segera pergi ke Baitul Mal dan mengambil sekarung gandum. Umar langsung mengangkut karung gandum tersebut di pundaknya.

"Wahai amirul mukminin, biarlah aku yang memikul karung itu," kata Aslam mencegah Umar.

Wajah Umar marah padam.

"Aslam, jangan jerumuskan aku ke dalam neraka. Kau akan menggantikan aku memikul beban ini, apakah kau mau memikul beban di pundakku ini di Hari Pembalasan kelak?" kata Umar dengan nada tinggi.

Aslam tertunduk mendengar perkataan Khalifah Umar. Sembari terseok-seok, Khalifah Umar mengangkat karung itu dan diantarkan ke gubuk tempat tinggal perempuan itu.

Sesampai di sana, Umar meminta Aslam membantunya menyiapkan makanan. Umar sendiri yang memasak makanannya.

Setelah matang, Umar segera mengajak keluarga miskin tersebut makan. Melihat mereka bisa makan, Umar pun merasa tenang.

Umar kemudian pamit. Ia meminta perempuan itu esoknya menemui Khalifah Umar di kediamannya.

"Berkatalah yang baik-baik. Besok temuilah amirul mukminin dan kau bisa temui aku juga di sana. Insya Allah dia akan mencukupimu," kata Umar sebelum pergi.

Keesokan harinya, perempuan itu pergi menemui khalifah. Dan alangkah terkejutnya ia, karena khalifah tersebut adalah pria yang kemarin telah memasakkan makanan untuk dia dan anaknya. 

"Aku mohon maaf. Aku telah menyumpahimu dengan kata-kata dzalim kepada engkau. Aku siap dihukum," kata perempuan itu.

"Ibu tidak bersalah, akulah yang bersalah. Aku berdosa membiarkan seorang ibu dan anak kelaparan di wilayah kekuasaanku. Bagaimana aku mempertanggungjawabkan ini di hadapan Allah? Maafkan aku, ibu," kata Khalifah Umar. 

----

-- Kisah ini sudah sangat populer di kalangan umat Islam. Kami mengisahkannya kembali untuk pembaca sekalian. Mudah-mudahan bermanfaat. (Asnawin Aminuddin)


JADI KERA. Sebagian dari mereka yang takut melanggar aturan beribadah pada hari Sabtu, sudah berupaya mengingatkan agar tidak melakukan siasat seperti itu, namun peringatan tersebut mereka abaikan. Maka Allah pun melaknat mereka dan mengutuk mereka menjadi kera. (int)






----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 21 November 2020

 

 

Kisah Bani Israil Dikutuk Menjadi Kera

 

 

Di sebuah daerah pantai, hiduplah sekelompok masyarakat yang tentu saja sumber penghidupan mereka yaitu nelayan atau menangkap ikan. Mereka adalah umat Nabi Musa, yang lebih dikenal dengan sebutan Bani Israil.

Pada masa itu, umat Nabi Musa diwajibkan beribadah pada hari Sabtu. Tidak boleh ada pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan pada hari Sabtu selain beribadah, termasuk menangkap ikan yang merupakan mata pencaharian utama mereka.

Mereka secara turun temurun menjalankan dan mematuhi aturan tersebut. Namun, pada suatu masa, mereka dikejutkan dengan banyaknya ikan yang bermunculan di tepi pantai pada hari Sabtu.

Anehnya, kemunculan ikan dalam jumlah sangat banyak itu hanya terjadi pada hari Sabtu, dan tidak terjadi pada hari-hari lain, padahal hari Sabtu merupakan hari yang diwajibkan bagi mereka untuk beribadah. Tidak boleh ada aktivitas lain, termasuk menangkap ikan, bahkan mereka pun berpuasa pada hari Sabtu.

Namun sebagian dari mereka tergoda melihat banyaknya ikan yang bermunculan di tepi pantai pada hari Sabtu. Mereka tidak sadar bahwa Allah sedang menguji seberapa besar keteguhan mereka pada ajaran Nabi Musa dan juga diteruskan oleh Nabi Daud.

Karena tidak ingin melanggar secara langsung aturan beribadah pada hari Sabtu, mereka pun berupaya menyiasatinya.

Caranya, mereka memasang perangkap pada hari Jumat sore menjelang masuknya hari Sabtu, kemudian mereka tetap beribadah pada hari Sabtu, dan pada hari Ahad barulah mereka memeriksa perangkap yang telah dipasang dua hari sebelumnya.

Hasilnya, perangkap-perangkap yang mereka pasang ternyata sudah dipenuhi ikan. Tentu saja mereka pun bergembira-ria dengan banyaknya hasil tangkapan ikan tersebut.

Ternyata, cara atau siasat yang mereka lakukan itu pun tetap merupakan pelanggaran. Dan sebagian dari mereka yang takut melanggar aturan beribadah pada hari Sabtu, sudah berupaya mengingatkan agar tidak melakukan siasat seperti itu, namun peringatan tersebut mereka abaikan.

Maka Allah pun melaknat mereka dan mengutuk mereka menjadi kera. Peristiwa ini terdapat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah, ayat 65, “Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, jadilah kamu kera yang hina.”

Dalam ayat lain, Allah berfirman, “Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.” (QS Al-A’rah: 163)

Mereka yang melanggar aturan beribadah pada hari Sabtu dikutuk oleh Allah menjadi, sedangkan mereka yang berupaya mengingatkan dan takut melanggar, dihindarkan dari kutukan tersebut.

Hal itu ditegaskan Allah pada surah yang sama pada ayat ke-165, “Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Asnawin Aminuddin, diramu dari beberapa sumber)


 


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim, No. 656) (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 21 November 2020


KALAM



Malaikat Berkumpul pada Shalat Subuh



Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang shalat isya` berjama’ah maka seolah-olah dia telah shalat malam selama separuh malam. Dan barangsiapa yang shalat subuh berjamaah maka seolah-olah dia telah shalat seluruh malamnya.” (HR. Muslim, No. 656)

...

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan para malaikat malam dan malaikat siang berkumpul pada shalat fajar (subuh).” (HR Bukhari No. 137, dan Muslim, No. 632)

Ketua Badan Legislasi DPR RI, Dr Supratman Andi Agtas SH MH mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, melalui kuliah umum yang digelar Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin, Kamis, 19 November 2020. (ist)
 

 

 

 

 

----------

Jumat, 20 November 2020

 

 

Sosialisasi UU Cipta Kerja di Unhas, Ketua Badan Legislasi DPR RI: Tidak Ada Niat Kemudaratan

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Ketua Badan Legislasi DPR RI, Dr Supratman Andi Agtas SH MH mensosialisasikan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, melalui kuliah umum yang digelar Fakultas Hukum (FH) Universitas Hasanuddin, Kamis, 19 November 2020.

Kuliah umum dilangusngkan secara luring terbatas di Baruga Baharuddin Lopa, Fakultas Hukum Unhas, dan terhubung secara virtual melalui aplikasi zoom meeting.

Supratman menjelaskan banyak hal mengenai UU Cipta Kerja, salah satunya mengenai tujuan hadirnya UU yang diharapkan meningkatkan lapangan kerja dan kewirausahaan melalui kemudahan berusaha. Selain itu, Undang-Undang ini juga menjamin hak-hak pekerja melalui perlindungan pekerjaan.

“Secara praktikal, dalam rangka menyederhanakan regulasi, saya menganggap ini metode tepat sebagai rujukan peraturan kedepan dalam rangka menciptakan harmonisasi.  Tidak ada niat sedikitpun DPR dan pemerintah memberikan kemudoratan bagi bangsa dan negara. Persoalan tentang ada yang kurang atau lebih tentu akan disempurnakan dengan melibatkan kepentingan dari seluruh stakeholder,” jelas Supratman.

Dia mengatakan, pembahasan RUU Cipta Kerja di Baleg DPR RI dilakukan sejak 14 April 2020 melalui rapat di Panja Baleg DPR RI yang dilakukan secara terbuka dan disiarkan langsung oleh TV Parlemen dan kanal media sosial serta dihadiri secara terbuka oleh media.

Selain itu, dalam proses pendalaman materi RUU Cipta Kerja, Baleg DPR RI juga melakukan serangkaian Rapat Dengar Pendapat Umum (RDUP) dengan menghadirkan para narasumber dari berbagai kalangan seperti akademisi, asosiasi, serikat pekerja, dan tokoh masyarakat sesuai materi.

Hadirnya UU Cipta Kerja diharapkan menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi nasional, khusunya dalam mendorong terciptanya transformasi ekonomi yang mampu menghadirkan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat.

“UU ini terdiri dari 15 Bab dan 186 Pasal. Roh UU Cipta Kerja terletak pada satu konsepsi baru dalam produk perundang-undangan yang termuat dalam Bab 3 tentang Peningkatan Ekosistem Investasi dan Kegiatan Berusaha. Banyak hal yang terlalu diributkan pada klaster ketenagakerjaan, padahal dalam penyusunannya kita buat tim perumus untuk bersungguh-sungguh memperhatikan hak-hak pekerja,” sambung Supratman.

Setelah menjelaskan secara umum tentang UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab secara luring maupun daring. Kegiatan berlangsung lancar hingga pukul 12.00 Wita. (kiya)

 



PEDOMAN KARYA

Jumat, 20 November 2020


KALAM



Bangun Malam Itu Lebih Kuat



Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.

Sesungguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang.

Dan sebutlah nama Tuhan-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (QS 73/Al-Muzzammil, ayat 6-8)




PEDOMAN KARYA

Jumat, 20 November 2020


KALAM



Menjaga Shalat Sunnah Subuh



Dikisahkan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata:

"Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah melakukan satu shalat sunnah pun yang lebih beliau jaga dalam melaksanakannya melebihi dua rakaat shalat sunnah subuh.” (HR Bukhari 1093, dan Muslim 1191)

 



PEDOMAN KARYA

Kamis, 19 November 2020


Spotlight Budaya:



Ketika "Anak-anak Bermain Teater"-nya Bahar Merdu



Oleh: Mahrus Andis


Rabu malam, 18 November 2020, saya nonton teaternya Bahar Merdu di Warkop Etika Studio-Tamalate Makassar. 

Usai menonton, dilanjutkan diskusi.  Hasymi, esais dan mantan pimpinan Teater Tiga, bertindak selaku Pelempar Wacana (kata lain istilah pemantik). Saya dan Halim HD (penulis dan budayawan nasional asal Solo) menjadi figurasi dialog (pengganti klausa penanggap) di forum diskusi.

Kata Hasymi, Anak-anak Berteater yang kita tonton ini membuat saya "ngeri". Bahar Merdu, sepertinya, menunggangi karakter anak-anak dengan pesan-pesan vulgar, berisi visi-misi sutradara yang dipaksakan. Dan ini sangat tidak edukatif dalam konteks sistem pembinaan karakter sebab sukma pertumbuhan masa kreatif anak-anak terkesan "dibingkai" dalam struktur ideologi "Baharisme".

Sebagai pengamat, tentu Hasymi memiliki alasan. Namun, saya menepis alasan itu, apabila disebut "menunggangi" karakter anak-anak. Justru saya melihat bahwa pada dimensi tertentu, Bahar Merdu selaku sutradara, melakukan suatu eksperimen dengan melahirkan "wajah lugu kekanak-kanakan" (baca: lewat casting anak-anak) untuk mencipta lukisan teatrikal tentang berbagai ornamen interaksi sosial. 

Bagi Bahar, anak-anak adalah ideologi lukisan yang indah. Mereka adalah kanvas, warna-warni cat, gerak kuas dan teksturasi masa depan yang memiliki kekuatan dalam menyuarakan realitas-imajinatif di habitat pemikiran sutradara.

Di beberapa segmen adegan, anak-anak tampil sebagai emak-emak yang kaya dengan gosip. Di momen yang lain, ada adegan yang mengusung semangat kultural "kondobuleng" dan intrik kekuasaan politik dari potret lanskap pemikiran anak-anak (boleh dibaca: kekanak-kanakan). 

Inilah realitas sosial yang dibingkai oleh realitas-imaji sang sutradara, melalui wajah lugu anak-anak. 

Namun, namanya Hasymi yang sejak di tahun 80-an dia mengakui bahwa saya adalah "manusia kodrat" yang diciptakan Tuhan untuk selalu menyanggah pemikirannya, tidak luntur melakukan pembelaan. 

Dia tetap menilai bahwa ideologi Baharisme akan menjadi ancaman bagi dinamisasi karakter anak-anak untuk merengkuh kemerdekaan berpikirnya.

Lantas apa jawaban Bahar Merdu? Dia tidak menjawab, sebab di prolog teaternya dia sudah berteriak "Ini teater, teater, teater, dan bukan perahu !"

Artinya, realitas imaji lewat teater, bukan perahu yang ditumpangi untuk menggolkan ideologi sutradara. 

Teater adalah lukisan sosial dan bukan penjara dari sebuah paham, yang barangkali oleh Hasymi disebut aliran "Baharisme". Entahlah. 

Malam itu saya sempat melihat kepala budayawan Halim HD manggut-manggut, separuh wajah tertutup masker dan mungkin juga ia tersenyum miring tanpa saya, Hasymi, dan Bahar mengetahuinya. Yang jelas, malam itu, saya terhibur. ***




PEDOMAN KARYA

Kamis, 19 November 2020



"Ini Bukan Festival" Wujud Kerja Jejaring dan Pengorganisasian Berkeseniaan



MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Halim HD, Networking Kebudayaan, mengapresiasi penyelenggaraan "Ini Bukan Festival" yang diadakan oleh kolaborasi lintas seniman di Sulawesi Selatan. 



Dia mengatakan, kegiatan berkesenian itu perlu diorganisasikan dan terus dibangun jejaringnya.

"Inilah yang membuat saya tertarik datang ke M,akassar, sebagai bentuk dukungan terhadap penyelenggaraan Ini Bukan Festival," kata Halim di hadapan peserta workshop bertema Komunitas Sebagai Basis Sistem Produksi, di Etika Studio, Jl Tamalate I Makassar, Kamis, 19 November 2020.

Materi workshop yang diprint satu lembar, yang dipegang oleh peserta, katanya, sama dengan yang dia ajarkan untuk mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. 

Selain Komunitas Sebagai Basis Sistem Produksi, materi lainnya yakni Pengembangan Komunitas dan Jaringan Kerja Kebudayaan serta Komunitas Sebagai Jaringan Distribusi Kreatif.

Selain memberi materi workshop, Halim HD juga jadi pembicara dalam Dialog Mengenang Karya Andi Ummu Tunru. 

Dia jadi pembicara bersama Andi Redo dari Batara Gowa dan Dr Halilintar Latief, yang dipandu Dr Asia Ramli Prapanca. Sebelum sesi dialog dilakukan pertunjukan Ma'lino Dance, In Memoriam Andi Ummu Tunru oleh Batara Gowa.

Gelaran "Ini Bukan Festival" menampilkan seniman lintas generasi dari beberapa daerah, seperti Makassar, Gowa, Maros, Bulukumba, dan Barru. 

Perhelatan yang menampilkakn seni tari, musik, rupa, teater, dan sastra ini diselenggarakan di Etika Studio, Jln Tamalate I Makassar, mulai 15-21 November 2020.

Selama kegiatan, pengunjung tak hanya dihibur oleh pertunjukan kesenian tapi juga mendapat edukasi melalui diskusi yang menghadirkan pelaku kesenian maupun akademisi. 

Selain itu, pengunjung bisa membeli kerajinan unik, kaos dan kuliner di area pasar, yang menghadirkan pelaku UMKM, di antaranya ada Egg Box, nasi kuning Berkah, Circle Eleven dan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil Mikro (ASPPUK) Maros, Pangkep dan Barru.

Salah satu kegiatan yang sudah dilaksanakan adalah bedah buku Sanja Mangkasara "Attayang Ri Masunggua" karya Syahril Patakaki Dg Nassa, yang menghadirkan Dr Kembong Daeng, sebagai pembahas, dan Dr Asis Nojeng sebagai moderator.

Acara bedah buku dan pembacaan karya sastra ini dihadiri antara lain oleh antropolog dan budayawan, Dr Halilintar Latief, aktivis LSM, Asmin Amin, serta sejumlah penulis dan penyair. 

Kembong Daeng, menyebut puisi bebas dalam bahasa Makassar ini merupakan pengembangan sastra Makassar. 

Selama ini sastra Makassar hanya mengenal, antara lain royong, doangang, kelong-kelong, sinrilik, pakacaping, tulikiama, dondo dan toeng bambo. 

Menurut Kembong, kelebihan dari buku yang ditulis Syahril Patakaki karena disertai aksara lontarak. 

"ecara keseluruhan, saya sangat terharu terhadap isi buku puisi ini. Karena banyak kosa kata yang digunakan sudah jarang dipakai, baik dalam penuturan maupun penulisan," kata Kembong Daeng yanv sehari-hari menjabat Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah JBSI-FBS Universitas Negeri Makassar (UNM). 


Pertunjukan di Panggung


Di panggung "Ini Bukan Festival" juga tampil mahasiswa Unismuh Makassar, yang tergabung dalam Bengkel Seni, Bahasa dan Sastra Indonesia (BASSI). Mereka menampilkan musik akustik dan monolog "Bertarung dalam Sarung" karya Alfian Dipahatang.

Juga ada pertunjukan monolog "Opo" karya Bahar Merdhu yang dibawakan Arzety dari Maros. Sementara dari Grisbon menampilkan musik milenial dan pertunjukan teater "Anak-anak yang Bermain Teater". 

Usai pertunjukan, dilanjutkan dengan diskusi yang menampilkan Bahar Merdhu, penulis dan sutradara teater dan Moch Hasymi Ibrahim, budayawan Sulsel.

Dr Halilintar Latief, salut atas penyelenggaraan event ini yang mengindikasikan antusiasme orang berkesenian. Namun event ini juga mengingatkan bahwa warga membutuhkan gedung kesenian yang representatif.

"Karena kalau kota ini mau jadi kota dunia, indikatornya hanya tiga, yakni museum, perpustakaan dan gedung kesenian, bukan mal dan pusat-pusat perbelanjaan," pungkasnya. (dinto)


Jika kamu berwudhu maka lepaslah dua ikatan, dan jika kamu melanjutkan dengan shalat, maka lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga pada pagi harinya kamu mulai dengan penuh semangat dan jiwamu pun sehat.  (Foto: Asnawin Amimuddin / PEDOMAN KARYA)



-------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 19 November 2020


KALAM



Memulai Pagi dengan Semangat dan Jiwa yang Sehat



Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda: “Setan akan mengikat tengkuk salah seorang dari kalian saat tidur dengan tiga ikatan. Setan akan membisikkan kepadamu bahwa malam masih panjang. Jika kamu terbangun lalu berdzikir pada Allah lepaslah satu ikatan. 

Jika kamu berwudhu maka lepaslah dua ikatan, dan jika kamu melanjutkan dengan shalat, maka lepaslah seluruh ikatan itu, sehingga pada pagi harinya kamu mulai dengan penuh semangat dan jiwamu pun sehat. 

Namun jika tidak, maka kamu akan memasuki waktu pagi dengan jiwa yang keji dan penuh kemalasan.” (HR Bukhari)

Sebanyak 203 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kini tengah melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) Plus di Makassar, Gowa, Takalar, Wajo, Sidrap, dan Pinrang.

Ke-203 mahasiswa tersebut terdiri atas 89 mahasiswa Program Studi Teknik Pengairan, 77 mahasiswa Prodi Teknik Elektro, dan 37 mahasiswa Prodi Arsitektur. Inzet: Hamzah Al Imran.


 


---------

Kamis, 19 November 2020

 

 

Mahasiswa Fakultas Teknik Unismuh KKP Plus di Makassar, Gowa, Takalar, Wajo, Sidrap, dan Pinrang

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Sebanyak 203 mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kini tengah melaksanakan Kuliah Kerja Profesi (KKP) Plus di Makassar, Gowa, Takalar, Wajo, Sidrap, dan Pinrang.

Ke-203 mahasiswa tersebut terdiri atas 89 mahasiswa Program Studi Teknik Pengairan, 77 mahasiswa Prodi Teknik Elektro, dan 37 mahasiswa Prodi Arsitektur.

“KKP Plus ini dimulai pada pertengahan Oktober 2020, dan berlangsung selama tiga bulan,” kata Dekan Fakultas Teknik Unismuh Makassar, Dr Ir Hamzah Al Imran MT, didampingi Wakil Dekan I Amrullah Mansida ST MT, kepada wartawan di Makassar, Kamis, 19 November 2020.

Dia menjelaskan, mahasiswa melaksanakan KKP Plus selama tiga bulan, terdiri atas dua bulan untuk KKP Plus, ditambah satu bulan untuk pemenuhan mata kuliah Al-Islam dan Ke-Muhammadiyah-an (AIK).

“Jadi mereka juga melaksanakan praktek lapangan mata kuliah Al-Islam dan Ke-Muhammadiyah-an, dengan tugas khusus mengunjungi cabang dan ranting Muhammadiyah, membantu membuka ranting Muhammadiyah bila belum ada di lokasi KKP mereka, membantu pelaksanaan program kerja yang belum jalan, serta kegiatan pengembangan cabang dan ranting Muhammadiyah di lokasi KKP masing-masing,” tutur Hamzah.

Sebelum berangkat ke lokasi KKP Plus, mahasiswa terlebih dahulu mengikuti Pembekalan KKP Plus yang dihadiri Rektor Unismuh Prof Ambo Asse, Wakil Rektor 1 Dr Ir Abdul Rakhim Nanda MT, Ketua LP3M Dr Abubakar Idhan MP, Dekan Fakultas Teknik dan para wakil dekan, serta ketua dan sekretaris program studi.

“Sebelum berangkat, kami sudah membekali mereka beberapa informasi dan pengetahuan yang perlu mereka ketahui. Kami juga mengingatkan mereka agar mengikuti semua petunjuk di lokasi pekerjaan, termasuk mengikuti standar protokol kesehatan Covid-19, menjaga nama baik persyarikatan Muhammadiyah, menjaga nama almamater Unismuh Makassar, serta menjaga waktu-waktu shalat dan mengajak orang untuk shalat berjamaah setiap masuk waktu shalat,” tutur Hamzah. (zak)






PEDOMAN KARYA

Rabu, 18 November 2020


KALAM



Seperti Sekelompok Orang Berlayar



Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan orang yang bertahan pada batas-batas hukum Allah dan orang yang jatuh di dalamnya (melanggar) adalah seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal. Ku

Sebagian dari mereka mendapat tempat di bagian bawah dan sebagian lagi di bagian atas perahu. 

Orang yang berada di bawah perahu bila mencari air untuk minum, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas sehingga mengganggu orang yang berada di atas. 

Lalu salah seorang yang berada di bawah mengambil kapak untuk membuat lubang di bawah kapal. 

Orang-orang yang berada di atas mendatanginya dan berkata: “Apa yang kamu lakukan?” 

Orang yang di bawah itu berkata: “Kalian telah terganggu olehku sedangkan aku sangat memerlukan air”. 

Bila orang yang berada di atas itu mencegahnya dengan tangan mereka, maka mereka telah menyelamatkan orang tadi dan menyelamatkan diri mereka sendiri, namun apabila mereka membiarkan saja berarti dia telah membinasakan orang itu dan diri mereka sendiri”. (HR Bukhari, No: 2489)


 "Nabilang temanku, sebagai orang kampus, kita harus berbicara secara empiris. Berdasarkan data dan fakta. Temanku bilang, faktanya, Muhammadiyah itu lahir pada 18 November 1912, sedangkan NU lahir pada 31 Januari 1926. Jadi, Muhammadiyah sudah 14 tahun berdiri sebelum NU didirikan, tapi dasar perjuangan keduanya sama-sama bidang pendidikan," tutur Daeng Nappa'. (int)



-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 18 November 2020


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Ternyata Muhammadiyah Jauh Lebih Tua dari NU



"Baru kutau' ternyata Muhammadiyah jauh lebih tua dari NU (Nahdlatul Ulama)," ungkap Daeng Nappa' kepada Daeng Tompo'' saat ngopi pagi di teras rumah Daeng Nappa'.

"Darimanaki' tauki?" tanya Daeng Tompo'.

"Kemarin ada teman dosen yang ajak ngopi di warkop dekat kampus. Kebetulan di situ juga hadir rektorna dan juga ada dekan," tutur Daeng Nappa'.

"Terus," potong Daeng Tompo'.

"Terus itu rektorna bilang, Muhammadiyah itu berdiri belakangan untuk mengimbangi perjuangan dakwah NU," tutur Daeng Nappa'.

"Terus," potong Daeng Tompo'.

"Terus itu temanku bilang, justru NU muncul belakangan untuk mengimbangi perjuangan dakwah Muhammadiyah," tutur Daeng Nappa'.

"Jadi?" potong Daeng Tompo'.

"Jadi berdebatki, dan itu yang dekan mendukung pendapat rektorna bahwa NU memang jauh lebih tua dibanding Muhammadiyah," tutur Daeng Nappa'.

"Jadi?" potong Daeng Tompo'.

"Nabilang temanku, sebagai orang kampus, kita harus berbicara secara empiris. Berdasarkan data dan fakta. Temanku bilang, faktanya, Muhammadiyah itu lahir pada 18 November 1912, sedangkan NU lahir pada 31 Januari 1926. Jadi, Muhammadiyah sudah 14 tahun berdiri sebelum NU didirikan, tapi dasar perjuangan keduanya sama-sama bidang pendidikan," tutur Daeng Nappa'.

"Deh, lancarta' menjelaskan di'. Sampai-sampai kihapalki tanggal kelahiranna," kata Daeng Tompo' sambil tersenyum.

"Kuhapalki karena berkesan sekali kurasa itu pembicaraanga di warkop kemarin," kata Daeng Nappa'.

"Berkesan karena apa?" tanya Daeng Tompo' masih sambil tersenyum.

"Berkesan karena barusanku liat ada rektor dikasi kuliah sama dosen bawahanna di warung kopi," kata Daeng Nappa' lalu tertawa dan keduanya pun tertawa-tawa. (asnawin)

---

Tombolo', Rabu, 18 November 2020


"Daeng Nappa', kita ini sudah tua teman. Lebihmi setengah abad umurta'. Sudah waktunyami kita rajin-rajin beribadah, dan mengurangi hepi-hepi," kata Daeng Tompo'. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 17 November 2020


Obrolan Daeng Tompo' dan Daeng Nappa':



Kita Ini Sudah Tua Teman



"Cemburuku' kurasa liatki teman-temanta'," kata Daeng Nappa' kepada Daeng Tompo' saat ngopi pagi di teras rumah Daeng Tompo' seusai jalan-jalan subuh.

"Apana kicemburui?" tanya Daeng Tompo'.

"Cemburuka' karena banyak temanta' yang punya waktu untuk jalan-jalan, punya uang untuk makan dan minum di restoran, dan banyak juga yang bisa hepi-hepi tanpa beban," tutur Daeng Nappa'.

"Daeng Nappa', kita ini sudah tua teman. Lebihmi setengah abad umurta'. Sudah waktunyami kita rajin-rajin beribadah, dan mengurangi hepi-hepi," kata Daeng Tompo'.

"Jadi tidak bolehmaki' kumpul-kumpul dan gembira-gembira bersama teman-teman?" tanya Daeng Nappa' dengan nada protes.

"Bukan tidak boleh teman. Silakan saja, tapi kurang-kurangimi, karena kita tidak tahu kapan meninggal, dimana kita meninggal, saat sedang apa ketika meninggal," ujar Daeng Tompo'.

"Ededeh, kita' itu bikin takut-takutki' belah," tukas Daeng Nappa'.

"Janganmaki' takut, santaimaki'. Minummi dulu kopita'," kata Daeng Tompo' sambil tersenyum kepada Daeng Nappa'. (asnawin)


Sampeang, Bulukumba, 17 November 2020


Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. (Foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 17 November 2020


KALAM



Mengingat Allah Sambil Duduk



"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka."

(QS 3 / Ali 'Imran: Ayat 190 - 191)

 



PEDOMAN KARYA

Senin, 16 November 2020


KALAM



Seorang Buta Minta Keringanan kepada Rasulullah



Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata,

“Seorang buta pernah mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki seseorang yang akan menuntunku ke masjid.” 

Lalu dia meminta keringanan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumah, maka Rasulullah pun memberikan keringanan kepadanya. 

Ketika orang itu beranjak pulang, Rasulullah kembali bertanya, “Apakah engkau mendengar panggilan shalat (azan)?” laki-laki itu menjawab, “Iya.” Beliau bersabda, “Penuhilah seruan tersebut (hadiri jamaah shalat).” [HR. Muslim]

 


MAUDU' LOMPOA. Acara Maudu' Lompoa di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara'bombang, Kabupaten Takalar,  Ahad, 15 Nobember 2020, lebih terasa sebagai sebuah acara festival budaya dibandingkan acara keagamaan Islam. (Foto-foto: Asnawin Aminuddin / PEDOMAN KARYA)



------

PEDOMAN KARYA

Ahad, 15 November 2020



Maudu' Lompoa di Cikoang Takalar, Maulid atau Festival Budaya?



Sudah cukup lama penulis memendam keinginan menghadiri dan menyaksikan secara langsung pelaksanaan acara Maudu' Lompoa, di Desa Cikoang, Kecamatan Mangara'bombang, Kabupaten Takalar.

Dan keinginan tersebut baru terwujud pada pelaksanaan acara Maudu' Lompoa, pada hari Ahad, 15 November 2020.

Penulis berkesempatan hadir atas ajakan pengusaha perhotelan Arwan Tjahjadi yang juga sangat ingin menyaksikan acara tersebut.




Maudu' Lompoa secara harfiah berarti Maulid Besar, dan sejatinya merupakan acara peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Konon, acara Maudu' Lompoa sudah diadakan secara rutin sejak sekitar 400 tahun lalu.

Dalam pelaksanaan Maudu' Lompoa pada Ahad, 15 November 2020, ada acara seremoni yang dimulai sekitar pukul 12.15 Wita, pada sebuah baruga yang terletak di tepi Sungai Cikoang dan berdampingan dengan Kantor Sekretariat Lembaga Adat Karaeng Laikang.

Acara seremoni Maudu' Lompoa bahkan dihadiri unsur pemerintah kabupaten, termasuk Kapolres Takalar AKBP Beny Murjayanto, Dandim 1426/Takalar, dan sejumlah undangan, serta diisi ceramah maulid.




Juga ada pembacaan ayat suci Al-Qur'an, namun acara itu juga diramaikan tari-tarian dan para penarinya yang semuanya perempuan, tak satu pun yang memakai jilbab. Tentu saja jauh dari kesan Islami dan tidak menggambarkan sebagai acara keagamaan Islam.

Penceramah maulid pun nyaris tidak mengutip ayat Al-Qur'an maupun hadits, bahkan lebih banyak bercerita sejarah Maudu' Lompoa yang diawali kedatangan Jalaluddin Al-Aidid di Cikoang sekitar 400 tahun lalu.

Jalaluddin Al-Aidid yang diyakini sebagai keturunan Ali bin Abi Thalib, datang ke Kerajaan Gowa sekitar 400 tahun lalu, dan sempat menjadi guru dari Pahlawan Nasional Sultan Hasanuddin (Sultan Hasanuddin kemudian menjadi Raja Gowa), sebelum akhirnya memutuskan menetap di daerah Cikoang.




Pihak panitia mengatakan, acara Maudu' Lompoa yang dilaksanakan tahun ini, tidak dihadiri perwakilan kerajaan se-Nusantara sebagaimana tahun-tahun sebelumnya karena masih dalam suasana pandemi Covid-19

Meskipun demikian, acara Maudu' Lompoa tahun ini tetap ramai, bahkan lebih ramai dibanding tahun lalu, padahal ada beberapa kegiatan yang ditiadakan, seperti lomba tangkap bebek di sungai.

Selain acara seremoni, juga ada banyak perahu di tepi sungai, mobil, dan bangunan yang dibuat khusus untuk acara Maudu' Lompoa, yang semuanya dihiasi pakaian dan bakul berisi songkolo' (nasi ketan), serta telur rebus yang dibungkus atau diberi pewarna sehingga kelihatan meriah dan menarik.




Orang-orang yang ada di atas perahu, mobil, dan bangunan khusus, umumnya juga berpakaian adat.

Telur dan asesoris yang ada di atas beberapa perahu dibagikan dan diperebutkan pengunjung sesaat setelah selesai acara seremoni di baruga, tapi tampaknya tidak semua makanan dan asesoris di atas perahu dibagikan kepada pengunjung.

Panitia memperkirakan jumlah pengunjung berkisar 5.000-an, pengunjung sangat padat dan mereka sulit berjalan bebas di jalanan yang memang sangat sempit yakni lebarnya hanya sekitar 3 meter.




Selain karena pengunjung memang sangat banyak, pada kedua sisi jalan yang sempit itu juga berjejer penjual pakaian, makanan, dan berbagai macam asesoris, termasuk penjual pulsa.

Jembatan panjang yang melintang di atas Sungai Cikoang juga ramai oleh pengunjung. Mereka menyaksikan keramaian dan juga memanfaatkan lokasi tersebut untuk berfoto-ria.

Masih ada lagi arena bermain disediakan untuk para pengunjung, sehingga suasana acara Maudu' Lompoa nyaris sempurna sebagai sebuah acara festival budaya.




Dengan demikian, acara Maudu' Lompoa di Cikoang lebih terasa sebagai sebuah acara festival budaya dibandingkan acara keagamaan Islam.




Dalam kunjungan di acara tersebut, penulis juga sempat foto bersama Raja Laikang ke-17, H Andi Sukwansyah A Lomba Kr Nojeng (kedua dari kiri), serta pengusaha perhotelan Arwan Tjahjadi (paling kiri), di Kantor Sekretariat Lembaga Adat Karaeng Laikang. (Asnawin Aminuddin)

----