Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Kisah Percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati


Asnawin Aminuddin 10:42 AM 0

DATU MUSENG DAN MAIPA DEAPATI. Verdy R Baso (kiri), penulis pertama buku Datu Museng dan Maipa Deapati, bersama wartawan Pedoman Karya, Asnawin Aminuddin, di kediaman Verdy R Baso, di Perumnas Tamalate, Makassar, Selasa, 12 Januari 2021. (Foto dokumentasi pribadi)



-----------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 16 Januari 2021

 

 

Kisah Percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati

 

 

Kisah percintaan Datu Musing Dan Maipa Deapati sangat legendaris pada sekitar tahun 1970-an di Makassar.

Kisah ini menjadi legendari selain karena kisahnya memang sangat menarik dan berulang-ulang dikisahkan oleh para pemain sinrili pada berbagai acara di Makassar, bahkan pernah dijadikan cerita bersambung di Radio Republik Indonesia (RRI) Makassar.

“Masyarakat sangat senang mendengarkan kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati waktu itu, baik pada acara-acara adat yang diceritakan oleh pemain sinrili, maupun yang diceritakan oleh pemain sinrili melalui radio,” tutur Verdy R Baso (84 tahun), penulis pertama buku Datu Museng dan Maipa Deapati, kepada wartawan Pedoman Karya, Asnawin Aminuddin, di kediamannya di Perumnas Tamalate, Makassar, Selasa, 12 Januari 2021.

Sekadar informasi, sinrili (orang Makassar menyebutnya sinrili’ atau sinriliq) adalah tradisi lisan yang berasal dari Kerajaan Gowa, di Sulawesi Selatan, yang berisi cerita kepahlawanan, keagamaan, dan percintaan, yang dibawakan oleh seorang pemain sinrili atau penyinrili (pasinrilik) dengan diiringi musik instrumental, dengan gesekan keso-keso (rebab).

Biasanya pemain sinrili atau penyinrili hanya satu orang. Dia yang menuturkan kisah dan dia pula yang bermain musik dengan alat musik semacam biola, atau kecapi. Alat musik ini ada yang digesek, ada pula yang dipetik.

Oleh masyarakat suku Bugis, sinrili dikenal dengan sebutan akkacaping atau kacaping. Sinrili terbagi dua kategori, yaitu sinrili bosi timurung dan sinrili pakesok-kesok.

Sinrili bosi timurung (hujan turun) adalah sinrili yang dilantunkan pada saat keadaan sepi dan orang-orang sedang tertidur lelap.

Sinrili bosi timurung tidak diiringi oleh alat musik apapun, dan dilantunkan dengan narasi yang pendek-pendek berisi kesedihan atau curahan hati dari penggubahnya, seperti kecintaan pada seorang gadis, kerinduan pada kekasih, serta rasa kecewa akan jerih payah yang tidak sesuai dengan hasil yang diharapkan.

Sinrili kategori kedua yaitu sinrili pakesok-kesok, yaitu pertunjukan sinrili yang diiringi alunan alat musik berupa kesok-kesok (biola) atau kecapi. (Wikipedia.org)

Sinrili dimainkan siang atau pada malam hari sesudah shalat isya di anjungan rumah atau di tempat terbuka pada waktu-waktu tertentu, antara lain pada acara pesta perkawinan, acara syukuran, dan pesta panen. (KBBI Daring Kemdikbud RI)

Dari kisah yang diceritakan oleh para pemain sinrili itulah, Verdy R Baso menulis ulang kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati secara bersambung di Surat Kabar Harian Pedoman Rakyat.

“Saya tulis ulang kisahnya dan dimuat secara bersambung di Harian Pedoman Rakyat. Pembaca Pedoman Rakyat waktu itu selalu menunggu kelanjutan kisahnya sampai kisah ini berakhir,” kata Verdy.

Kisah yang dimuat secara bersambung di Harian Pedoman Rakyat itu kemudian dibukukan, dan dengan demikian Verdy Rahman Baso menjadi penulis buku pertama Kisah Datu Museng dan Maipa Deapati.

Verdy Rahman Baso yang puluhan tahun menjadi wartawan Harian Pedoman Rakyat menjelaskan, kisah cinta Datu Museng dan Maipa Deapati menceritakan kisah percintaan antara Datu Museng yang merupakan putra bangsawan Kerajaan Gowa, dengan Maipa Deapati yang merupakan putri bangsawan Kerajaan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kisah cinta keduanya berawal ketika Addengareng (kakek dari Datu Museng), melarikan diri bersama cucunya, Datu Museng, menyeberangi lautan nan luas menuju ke negeri Sumbawa.

Addengareng melarikan diri karena terjadi politik adu domba yang dilancarkan oleh penjajah belanda di tanah Gowa, yang membuat bumi Gowa bergejolak dan tidak kondusif lagi untuk dijadikan tempat tinggal yang aman.

Di Pulau Sumbawa itulah akhirnya Datu Museng tumbuh menjadi seorang yang dewasa dan bertemu dengan Maipa Deapati di sebuah rumah pengajian bernama Bale Mampewa.

Akhirnya tumbuh benih cinta di hati Datu Museng sejak pertama kali melihat sosok Maipa Deapati yang anggun dan mempesona. Namun cinta dari Datu Museng kepada Maipa Deapati menjadi sebuah cinta yang terlarang karena Maipa Deapati telah ditunangkan dengan seorang pangeran dari Selaparang Lombok bernama Pangeran Mangalasa.

Kisah percintaan Datu Museng dan Maipa Deapati ini akan kami muat secara bersambung di website www.pedomankarya.co.id, atas seizin Verdy R Baso, yang menyerahkan naskah ketikannya yang sudah diedit kepada Asnawin Aminuddin.

“Silakan dimuat,” kata Verdy. 


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply