Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Kecewa Demonstran Tidak Mau Dialog, Bupati Bulukumba Luapkan Kemarahannya


Pedoman Karya 12:21 AM 0

TENDANG BAN. Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf mendatangi mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 14 Juni 2021. (Foto-foto tangkapan layar: Asnawin) 
 





Selasa, 15 Juni 2021

 

 

Kecewa Demonstran Tidak Mau Dialog, Bupati Bulukumba Luapkan Kemarahannya

 

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bulukumba melakukan aksi demonstrasi di depan Kantor Bupati Bulukumba, Senin pagi, 14 Juni 2021.

Aksi demonstrasi itu dilakukan oleh PMII Bulukumba guna menuntut dituntaskannya program 100 hari pertama kepemimpinan Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf, dengan Wakil Bupati Andi Edy Manaf.

Mengetahui mahasiswa melakukan aksi demonstrasi, Andi Utta-sapaan akrab Andi Muchtar Ali Yusuf-pun langsung meninggalkan acara video conference pembekalan Kepala Daerah yang dilaksanakan oleh Kemendagri secara virtual, dan keluar ruangan untuk menerima mahasiswa berdialog.

Ajakan dialog itu ternyata ditolak oleh mahasiswa, dan karena kecewa, Andi Utta segera mendatangi mahasiswa yang tengah melakukan aksi demonstrasi, dan kemudian meluapkan kemarahannya dengan menendang ban bekas yang akan dibakar oleh mahasiswa.

“Siapa ini bawa ban, siapa bakar ban?” tanya Andi Utta sambil menendang ban bekas yang akan dibakar oleh mahasiswa.

Tindakan Andi Utta tersebut tidak diterima oleh mahasiswa dan mereka segera berteriak-teriak, tetapi sejumlah aparat polisi dan anggota Satpol PP yang mengawal Andi Utta segera menghalau mahasiswa, dan suasana pun menjadi kacau balau.

Video aksi demonstrasi mahasiswa PMII Bulukumba yang didatangi oleh Bupati Bulukumba itu pun langsung beredar luas di internet, bahkan sudah masuk di Youtube, dan mendapat tanggapan beragam dari berbagai elemen masyarakat.

Ketua Cabang PMII Bulukumba, Andi Chaidir Alif, kepada wartawan mengakui bahwa pihak Pemkab Bulukumba awalnya meminta perwakilan 10 orang untuk masuk ke dalam ruangan kantor Bupati, tetapi pihak mahasiswa menolak tawaran tersebut karena tetap ingin melakukan aksi demonstrasi di jalanan.

“Tiba-tiba Bupati datang dan menendang ban yang belum dibakar. Ini mengganggu jalannya demonstrasi membuat kegaduhan dan terjadi pemukulan terhadap beberapa massa aksi. Kami sangat menyayangkan kejadian ini,” kata Chaidir.

 

Tidak Memiliki Itikad Baik

 

Kasubag Publikasi Setda Bulukumba, Andi Ayatullah Ahmad, kemudian memberi penjelasan bahwa Bupati Bulukumba Muchtar Ali Yusuf justru harus diapresiasi karena menemui para pendemo.

“Ini artinya bupati memiliki respons baik jika ada elemen masyarakat ingin menyampaikan aspirasinya,” kata Ayatullah.

Saat pendemo dari mahasiswa PMII Bulukumba datang di depan Kantor Bupati, katanya, pada saat bersamaan Bupati Muchtar Ali Yusuf sementara mengikuti video conference pembekalan Kepala Daerah yang dilaksanakan oleh Kemendagri.

“Kegiatan materi pembekalan ini sebenarnya tidak bisa ditinggalkan, namun karena bupati menghargai para pendemo maka beliau meminta izin kepada penyelenggara untuk menemui pendemo. Beliau pun turun dari ruangannya dan meminta para pendemo untuk bertemu dan berdialog di tempat parkir mobil Bupati,” tutur Ayatullah.

Beberapa kali dipanggil untuk bertemu di halaman kantor di tempat parkir mobil bupati, pihak pendemo ternyata tidak mau masuk dengan alasan mereka masih mau orasi dan bakar ban.

Bupati Bulukumba Andi Utta sebenarnya berharap para pendemo tidak harus berteriak-teriak di luar, dan berharap mereka langsung masuk di halaman kantor bupati untuk menyampaikan aspirasinya.

Karena ajakan tersebut tidak ditanggapi mahasiswa, maka Andi Utta pun langsung menemui mereka di luar pagar kantor.

“Pak Bupati menganggap para pendemo ini tidak memiliki itikad baik untuk melakukan dialog, makanya dia menendang ban yang hendak dibakar oleh pendemo,” jelas Ayatullah.

Bupati Bulukumba menganggap aksi yang dilakukan oleh mahasiswa patut diapresiasi sebagai kritik membangun kepada pemerintah daerah, tetapi dia menyayangkan adab-adab dan etika untuk menyampaikan aspirasi tidak diindahkan oleh mahasiswa. (dar)


«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply