Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » » » Bulukumba Bisa Menjadi Contoh Pengembangan Ternak Sapi di Sulsel


Pedoman Karya 9:00 PM 0

PERCONTOHAN. Manajer Arkaba Farm, Mrs Sri Nurmala Tohl (pakai jilbab, kedua dari kiri), didampingi beberapa pejabat SKPD Bulukumba, berbincang dengan seorang petani, di Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba, Kamis, 15 Juli 2021. (ist)






------ 

Jumat, 16 Juli 2021

 

 

Bulukumba Bisa Menjadi Contoh Pengembangan Ternak Sapi di Sulsel

 

 

Arkaba Farm Australia Jajaki Kerjasama Peternakan di Bulukumba

Populasi Sapi Ternak di Bulukumba Berkisar 77.000 Ekor

Sri Nurmala Tohl: Ternak Sapi di Indonesia Dikandangkan, di Australia Dilepas Bebas

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Populasi sapi ternak di Bulukumba kurang lebih 77.000 ekor yang tersebar pada beberapa kecamatan, dan terbanyak di Kecamatan Bulukumpa, Kecamatan Ujungloe, Kecamatan Kajang, Kecamatan Gantarang, dan Kecamatan Rilau Ale.

Dengan populasi sapi ternak sebanyak itu dan luas areal pertanian yang memadai, maka Bulukumba bisa menjadi contoh pengembangan ternak sapi di Sulawesi Selatan pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

“Bulukumba bisa menjadi contoh pengembangan ternak sapi dan kami berharap Bulukumba nanti menjadi bukti nyata kerjasama dengan kami ke depan,” tutur Manajer Arkaba Farm, Mrs Sri Nurmala Tohl, saat melakukan presentase di hadapan Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf dan Wakil Bupati Andi Edy Manaf, serta beberapa kepala SKPD terkait, di Pendopo Rujab Bupati Bulukumba, Rabu malam, 14 Juli 2021.

Perempuan asal Sulawesi Selatan yang tinggal di Australia itu bertemu dengan Bupati Bulukumba untuk menjajak kerjasama antara Arkaba Farm (sebuah perusahaan multinasional yang bergerak di bidang peternakan dan pertanian di Australia bagian selatan) dengan Pemerintah Kabupaten Bulukumba.

Sri Nurmala Tohl mengatakan, berternak sapi adalah mata pencaharian, namun peternakan sapi di Australia sangat bertolak-belakang dengan peternakan sapi di Indonesia.

Di Australia, kata Sri, ternaknya dilepas bebas di areal peternakan yang luas, sedangkan di Indonesia sapinya rata-rata dikandangkan, padahal kelebihan ternak yang dilepas adalah peternak yang mengatur ternaknya, bukan ternak yang mengatur peternaknya, dalam arti bukan peternak yang datang memberikan makanan dan minuman kepada ternak.

“Sebaliknya jika ternak itu dikandangkan, kita begitu repot datang pagi, siang, malam untuk mengontrol dan waktu kita habis setiap hari untuk melihatnya,” kata Sri.

Terkait pemilihan jenis sapi apa yang diternakkan, Sri memberikan saran agar sapi yang dipilih adalah jenis sapi yang cocok dengan kondisi air dan udara yang ada di Kabupaten Bulukumba.

“Tidak perlu ikut-ikutan memelihari jenis sapi yang ada di daerah lain, jika pakannya tidak tersedia atau terbatas di daerah ini,” kata Sri.

Meski lahan atau hamparan di Bulukumba tidak seluas di Australia, Sri Tohl berharap ada beberapa areal yang nantinya dijadikan percontohan bagaimana berternak tanpa kandang.

“Mudah-mudahan nanti kami bisa kembangkan dan memberikan edukasi, saling bertukar pemikiran dan pengalaman supaya sektor peternakan kita lebih baik dan lebih maju lagi,” kata Sri.

 

Faktor Keamanan

 

Bupati Bulukumba, Andi Muchtar Ali Yusuf, mengatakan, kebiasaan mengandangkan ternak sapi di Bulukumba terutama karena faktor keamanan.

“Jika ternak sapi dilepas, kadang sapi tersebut naik mobil avansa (baca: dicuri),” kata Andi Utta, sapaan akrab Muchtar Ali Yusuf sambil tertawa.

Selain faktor keamanan yang akan menjadi perhatian, katanya, perubahan mindset (cara pandang) kepada peternak juga menjadi penting. Jika selama ini berternak sapi hanya pekerjaan sampingan, maka saatnya berternak sapi itu dijadikan mata pencaharian utama.

“Syaratnya, harus bersungguh-sungguh menjadi peternak, harus menguasai ilmu dan teknik berternaknya,” kata Andi Utta.

Ia mengaku heran, petani atau peternak kita kebanyakan belum sejahtera, padahal potensi alam untuk berternak sangat bagus.

“Peternak di Jepang itu hidupnya mewah padahal lahan mereka terbatas,” ungkap Andi Utta.

Ia berharap kehadiran Manajer Arkaba Farm, Mrs Sri Nurmala Tohl, dapat memberikan edukasi dan berbagi pengalaman dalam berternak serta menjajaki prospek kerjasama ke depan dengan Pemkab Bulukumba.

Dalam kunjungannya pada hari kedua di Bulukumba, Sri Nurmala Tohl didampingi Dinas Peternakan Bulukumba, melakukan kunjungan di lapangan bertemu dengan para peternak di Kecamatan Bontotiro dan meninjau lokasi yang cocok untuk peternakan sapi di Kecamatan Rilau Ale. (asdar)

 

 

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply