![]() |
| “Bagaimana nasib riset ketika dana-dana pendidikan dialihkan untuk urusan makan siang bergizi gratis? Tidak ada profesor yang bertanya begitu. 1200 guru besar, zonk.” - Rocky Gerung - |
-----
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 31 Januari 2026
Rocky Gerung,
Untung Aku Bukan Profesor
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Berdasarkan data International IQ
Test dan World Population Review terbaru untuk tahun 2025,
negara-negara di kawasan Asia Timur mendominasi peringkat teratas dengan
tingkat IQ rata-rata tertinggi di dunia.
Peringkat Negara rata-rata IQ: (1)
Tiongkok 107.19; ( 2) Korea Selatan 106.43; (3) Jepang 106.40; (4) Iran 106.30
; (5)Singapura 105.14; (6) Rusia 103.16; (7) Mongolia 102.86; 8) Armenia
102.58; (9) Australia 102.57; dan (10) Spanyol 102.30.
Sekalipun data di atas, masih bervariasi
kadarnya. Namun, penting untuk dicatat bahwa mungkin terdengar mengejutkan,
bila Mongolia berhasil mengamankan posisi ke-7.
Mongolia telah mengalami kemajuan besar di
dalam bidang pendidikan, selama dua dekade terakhir, terutama melalui kerjasama
internasional dan peningkatan akses pendidikan dasar_nya.
Lalu, bagaimana dengan Indonesia dengan
jumlah prosesornya luar biasa dahsyatnya secara kuantitas. Namun, sungguh
disayang, Indonesia belum berhasil menembus peringkat atas. Skor IQ rata-rata
Indonesia saat ini berada di angka 93,18-93,2, menempatkannya di posisi ke-98
dunia.
Bahkan Kamboja, negara yang secara ekonomi
dan pendidikan kerap disandingkan dengan Indonesia, mencatat skor lebih tinggi
yakni 93,97. Bahkan jumlah profesor_nya lebih sedikit, namun berkualitas
bertampak dibandingkan dengan Indonesia.
Tampak Jejak Profesor
Istilah profesor berasal dari bahasa
Latin professor yang berarti seseorang yang mengaku sebagai ahli.
Awalnya, istilah ini dipakai untuk
pengajar senior (lecturer, reader, magister) pada Abad Pertengahan, baru
kemudian menjadi gelar resmi di era Dinasti Tudor (Inggris, 1485-1603).
Selanjutnya, istilah "profesor"
berevolusi dari abad pertengahan, namun John Fisher di Universitas
Cambridge sekitar abad ke-16 sering disebut sebagai salah satu pemegang jabatan
profesor formal pertama, diangkat oleh Lady Margaret Beaufort (ibu Raja Henry
VII) sebagai profesor teologi pertama yang didanai secara khusus di Cambridge
pada tahun 1503.
Sekitar tahun 470-399 SM, Socrates
dianggap sebagai figur guru besar kuno. Ia, dianggap sebagai salah satu figur
guru besar dan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Yunani kuno serta
peradaban Barat.
Socrates dikenal bukan karena mengajar di
kelas formal atau menulis buku, melainkan melalui dialog dan diskusi di tempat
umum di Athena.
Socrates, percaya bahwa pengetahuan sejati
berasal dari diri sendiri, sehingga ia membantu murid-muridnya 'melahirkan'
ide-ide melalui penyelidikan diri, bukan dengan memberi ceramah bah gaya
bersorbanan doangan.
Kemudian, di Indonesia sebagai profesor
pertama, Prof. Dr. Husein Djajadiningrat. Beliau, kelahiran Kramatwatu,
Kabupaten Serang, Banten, dan pertama yang meraih gelar doktor dan profesor.
Ia kuliah hingga meraoh gelar doktor di
Universitas Leiden Belanda pada 3 Mei 1913, dengan disertasi yang berjudul
“Critische Beschouwning van de Sedjarah Banten” (Tinjauan Kritis Tenrang
Sejarah Banten) yang dinilai sebagai Historiografi Modern di Indonesia.
Sementara, di kalangan para sejarawan,
Husein dikenal sebagai “Bapak Metodologi Penelitian Sejarah Indonesia” Ia juga
tercatat sebagai Penanggungjawab surat kabar bulanan berbahasa Sunda “Sekar
Roekoen” yang diterbitkan oleh “Perkumpulan Sekar Roekoen”[kabarexpose.com.
2024/01/03].
Status Profesor Negara Lain
Esensi dari definisi profesor bisa berbeda
di antar negara dan institusi. ada yang bertitelan profesor penuh, madya,
asisten.
Di Amerika Serikat, karena ada banyak
jenis dosen, istilah profesor jadi lebih luas untuk mencakup semua pengajar di
universitas, sementara di tempat lain, profesor tetap terbatas pada puncak
karier akademik. Sementara Inggris, Eropa, Australia: Professor adalah
jabatan sangat tinggi, berbeda dengan Reader/mirip dosen senior, Lecturer
/dosen, atau Assistant Professor/mirip dosen awal.
Dikutip dari University of Leeds, gelar
Dr/Doktor berbeda dengan profesor. 'Dr' menunjukkan seseorang yang telah
belajar dan dianugerahi gelar PhD/Doctor of Philosophy, sehingga menunjukkan
kualifikasi akademik, pemegang gelar universitas tertinggi. Hal ini sama halnya
dengan menuliskan PhD di belakang nama seseorang.
Sebagian besar profesor akan bergelar PhD,
tetapi demikian juga dengan banyak akademisi lain yang bekerja sebagai pengajar
dan peneliti di universitas.
Profesor tidak menunjukkan kualifikasi
gelar, tetapi tingkat status titelan akademik yang paling senior saja. Namun,
gelar profesor di seluruh dunia dapat berbeda-beda aturannya.
Bahkan di Inggris dan sebagian besar
Eropa, Australasia, dan Afrika Selatan, penyebutan profesor dan keprofesoran
merujuk pada hal yang berbeda dengan di Amerika Utara.
Di Amerika Utara, gelar profesor dan
keprofesoran merupakan label yang umum digunakan untuk semua akademisi, baik
untuk penelitian maupun mengajar di perguruan tinggi tanpa dibedakan esensinya.
Perbedaan Gelar Profesor di Negara lain
Di beberapa negara Eropa, seperti Prancis,
Jerman, dan yang lebih terbaru Italia, seorang akademisi yang ingin
dipromosikan menjadi profesor harus terlebih dahulu menulis dokumen akademik
panjang yang menunjukkan kontribusi apa yang telah ia berikan terhadap
pengetahuan melalui riset. Dokumen ini memiliki panjang dan sifat yang mirip
dengan tesis PhD. Lalu kualitasnya dinilai oleh panel profesor yang ahli di
bidang penelitian pelamar.
Proses mencari persetujuan dari komunitas
akademis atas kredensial akademis seseorang untuk jabatan profesor di sana
disebut habilitasi. Jika panel menilai akademisi tersebut layak untuk diangkat
menjadi guru besar, maka ia berhak melamar untuk jabatan guru besar yang
kosong, tetapi tidak ada jaminan untuk diangkat menjadi guru besar.
Di Inggris, promosi jabatan profesor tidak
bergantung pada habilitasi. Setiap universitas mempunyai kebijakan sendiri
mengenai promosi di tingkat mana pun, dan memutuskan siapa yang dipromosikan
atau diangkat menjadi profesor, berdasarkan kriterianya sendiri.
Akademisi yang ingin dipertimbangkan untuk
promosi harus mengajukan permohonan yang menunjukkan bagaimana mereka memenuhi
kriteria universitas. Cara lain untuk mendapatkan jabatan profesor di Inggris
adalah dengan melibatkan akademisi yang hanya melamar jabatan profesor kosong
yang diiklankan dan menjalani proses seleksi [www.detik.com. 19/7/2024].
Untuk menjadi profesor (Guru Besar) di
Indonesia, syarat utamanya adalah memiliki gelar Doktor (S3), pengalaman
minimal 10 tahun sebagai dosen, telah mencapai jabatan fungsional Lektor
Kepala, memenuhi Angka Kredit Kumulatif (KUM) tinggi, serta memiliki publikasi
ilmiah di jurnal internasional bereputasi sebagai penulis pertama, dengan
pengajuan minimal 3 tahun setelah lulus S3. Prosesnya menuntut konsistensi
dalam penelitian, pengajaran (Tridharma Pendidikan), dan pengabdian masyarakat
dengan formalin data berangka.
Angka Profesor Terdata
Memang saat ini, tidak ada data tunggal
global yang pasti mengenai angka/jumlah profesor di dunia untuk tahun 2025.
Namun, gaya tren menunjukkan peningkatan, di Indonesia, diperkirakan jumlanya
tahun 2000 sekitar 8.000 lebih kurang profesor, dan juga negara lain yang terus
menambah profesor.
Sementara data dari lembaga, seperti
Denison University dan Race and Ethnicity in Higher Education menunjukkan
variasi persentase profesor di berbagai institusi dengan perkiraan totalnya
adalah ratusan ribu hingga jutaan profesor di seluruh dunia.
Namun, diindikasikan banyak universitas
melaporkan peningkatan jumlah guru besar di tahun 2025. Bahkan jumlah profesor
di Indonesia, semakin bertambah sekitar 8.000-an dari tahun 2000 hingga
11.000-an pada tahun 2023-2024.
Tahun 2025 belum ada jumlah yang akurat
hingga Unesco pun tidak terdata dan hanya menunjukkan tren peningkatan dahsyat
pengukuhan profesor di berbagai universitas di dunia yang mesti di diksikan
dengan angka.
Profesor dan Diksi Rocky Gerung
Saya kutip apa adanya, diksi yang viral di
berbagai media, tentang ocehan Rocky Gerung yang dikesankan logis. Namun,
kesannya juga terhantam dahsyat kepada akar pusaran titelan bagi guru besar
yang berakademisan, yakni sebagaimana berikut.
“Presiden Prabowo dengan sekitar 1.200
guru besar di Istana, yang memunculkan pertanyaan publik tentang apa saja
substansi yg dibahas dan mengapa isu penting, seperti kebebasan berpikir di
kampus, arah riset nasional, serta prioritas anggaran pendidikan tak terdengar
dalam ruang tersebut, Ia mengaitkan situasi ini dengan pernyataan Gubernur Aceh
Muzakir Manaf, sebagai pengingat bahwa relasi pusat dan daerah perlu dibangun
melalui dialog, empati, dan solidaritas kemanusiaan.”
Terdapat narasi yang mengaitkan Rocky
dengan istilah "titelnya guru besar dengan otak kecil" atau
mengkritik akademisi yang datang ke Istana lebih mementingkan posisi dari pada
menyelesaikan masalah ekonomi nyata.
Anda lihat, kemarin Presiden Prabowo
mengumpulkan 1.200 guru besar di istana. Sampai sekarang saya mau tahu apa
isinya. Pasti nggak ada, kenapa? Tak seorangpun guru besar berani angkat tangan
bertanya pada Presiden Prabowo,” diksi Rocky dengan nada tajam berlangit
menyindir.
Ia melanjutkan, “Bagaimana nasib riset
ketika dana-dana pendidikan dialihkan untuk urusan makan siang bergizi gratis?
Tidak ada profesor yang bertanya begitu. 1200 guru besar, zonk.” Rocky menilai
bahwa forum tersebut minim keberanian untuk menyampaikan kritik konstruktif,
yang seharusnya menjadi ciri khas para akademisi,[alreinamedia.com,2026]
Mungkin saja, Presiden Prabowo, mengundang
hendak bersilaturrahim guna memahami akan aroma titelan guru besar yang di SK
oleh Menterinya selama ini telah bertumpukan.
Silaturrahim Tumpukan
Esensi dari silaturahmi keilmiahan bukan
sekedar nostalgia akan mesen mesum bersalam doangan. Tetapi, jejak wawasan
berjangka jauh untuk membaca tanda tanda zaman di dalam memadukan akar cinta
dari masa ke masa.
Tidak lain, guna mendesain warisan
keilmuan masa depan, demi generasi cemerlang nan gemilang ber_rahmatan
lil alamien berkalamullah lillahi ta'ala.
Dan bukan hanya polesan untuk jangka
bertopengan di dalam kepentingan panggung dagelan sesaat saja, demi sasar
sesatan nan bererumputan plus serumpun ditumpukin dengan bebas bersenyuman
tanpa beban moralan.
Senyuman Diakademisasikan
Sekalipun, senyuman tidak selamanya
berbuah sedekah, namun terkadang juga terpaksa karena kebencian atau kecintaan
berhadapan.
Senyuman mungkin tidak sekedar dianjurkan
untuk rasa terpaksa dan rasa demikian mesti dihindari sehingga tidak berdomain
pada aksara arogansi beradius kesombongan.
Maka, tidak terlalu keliru bila pesan
'sembuhkan kesombongan agar lebih berguna sebagai hamba Tuhan'. Manakala masih
menyuburkannya, maka kemungkinan itu yang beresensi kepada 'asfala safilin'
sehingga tidak menjadi manusia sesungguhnya sebagaimana menjadi makhluk pilihan
diharapkan Tuhan.
Kita, asyik dengan animasi kehidupan
berdimesi arogansi animal berlebihan dan tidak disadari telah menggerogoti jiwa
raga yang juga merampas rasa kemanusiaan yang sesungguhnya, _guna saling
memanusiakan apa adanya sebagai hamba Tuhan.
Bahkan, karakter animal pun telah meraja
dan memangsa, bukan saja di dunia premanisasi yang bersifat belantara. Namun,
silumanan yang berpolesan kuasa akademisikan pun terjadi demikian.
Mungkin, senyuman dalam bingkai fotograf
apapun akan berkesan dalam dimensi soal yang lain pula__ tidak mesti berpuraan
diakademisasikan jua. Namun, radius tatapan nan tajam telah menancap mata batin
pada dasa samudera tanpa tergoyahkan oleh
yoga apapun. Terkecuali, takdir Tuhan berkehandak lain, dan berkeilmuan logis
tak mungkin diingkari akan KemahakuasaanNya. Sebagaimana pengakuan Imam
Al-Ghazali juga Karl Marx akan keluasan ilmu Semesta sehingga masih merasa
bodoh.
Imam Al-Ghazali juga Karl Marx, pun Bodoh
Imam Al-Ghazali: "Semakin tinggi ilmu
seseorang, semakin kecil dirinya" atau ilmu sejati memang esensinya
membawa pada kesadaran akan kebodohan diri dan mengakui akan kebesaran Tuhan,
sehingga merasa diri kecil atau merasa semakin bodoh dan tak berarti apa-apa.
Kalau orang pintar, di antaranya bah Imam
Al-Ghazali dan Karl Marx saja, masih merasa dirinya bodoh, sekalipun diakui
oleh orang lain sangat luar biasa kepintarannya.
Bukan berarti dibiarkan kebodohan
merajakan dirinya. Lalu, membiarkan kebodohan tetap berakutan di dalam lipatan
kedunguan yang luar biasa berarogansi. Bah orang berselimutan kebodohan, tetapi
merasa dirinya paling pintar dengan aksesoris polesan yang ditampak dalam
penampilan doang, dan sebagai landasan logika berkubangan yang berampasan
ceboannya saja. Ampasan demikian, menjadi idiom sorbanannya hingga bertenjangan
kedunguan.
Bahkan, hanya lihai berargumentatif dengan
ber_plagiarisme/mencuri/ merampok karya orang lain/pendapat imam Al-Ghazali
_tanpa mengutip dengan tanda kutip pun. Kemudian, merasa diri pintaran di dalam
akumulasi titelan secara administrasi ala bersorbanan pula.
Akibatnya, kelakuan demikin, biar esensi
misi akar dari Syiar sebagai landasan dari Dinnullah pun, dilelang dengan
polesan kebodohan dikibarin.
Tentu, itu sungguh sangat keliru dan
syarat dengan kesesatan bersasar, mungkin akan lebih elok manakala dimaknai
dengan amalan lillahi ta'ala. Bah kreasi Bung Kecil yang berintro yang
berlanggam Adzan; 'Setara di Mata Semesta'.
Disajikan dalam berbagai atmosfir; ada
sunda parahyangan, sunda cirebonan, melayu, irama nasyid dan mandarin. Sama
dengan adzan, meskipun iramanya beragam, namun satu makna panggilan.
Demikian dengan syair ini, juga disajikan
dalam berbagai langgam namun tunggal dalam penghayatan. Boleh klik untuk
mendengarkannya di dalam [https://suno.com/s/CPxZCQshbfe4QfwD].
Kreasi intro dari Bung Kecil, sang Maestro
Bengawan, bukan sekedar petatah petitih an sich doangan.
Jadi, kalau soal pepatah 'petatah
petitih', cukup dititipkan kepada protokol/Mc pernikahan di kampung sebagai
penghantar dan mengakhiri kosakata di dalam job kearifan lokal berjokian
sebagai penghibur acaranya. Tidak mesti berpangkuan titelan dan juga
bersorbanan yang berderetan dengan menghamburin 'piti atau kepengan' nan
berkeping, baik dari kas Negara maupun organisasi keumatan ala Indonesia
masa kini.
Kini Gelar Profesor Indonesia
Profesor/guru besar yang kini di Indonesia
merupakan jabatan fungsional tertinggi bagi dosen. Bukan gelar akademik,
seperti S3 (Doktor), melainkan pengakuan atas kontribusi besar di dalam
pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengajaran di perguruan tinggi.
Mensyaratkan berkualifikasi Doktor, publikasi karya ilmiah bereputasi, serta
pengalaman mengajar yang cukup, dan diakui secara resmi melalui penetapan oleh
Menteri Pendidikan atau pimpinan perguruan tinggi tempatkan.
Jadi, mungkin diksi Bung Rocky Gerung,
berkesan logisan ditempatkan pada asasnya, dan 'linked'/ditautin dengan 'Untung
Aku Bukan Profesor' bah topik dan lalu disengketakan tanpa kelogisan lagi.
Tentu kebebasan pendapat berakar pikiran bebas tidak mesti dimetodologiskan
pula dengan Socrates yang berjejak alami dengan keilmiahan lahiriah tulen.
Di mana, Socrates yang dianggap figur
Profesor/guru besar kuno dan filsuf paling berpengaruh yang terkenal pun, Ia
bukan karena formalin di dalam mengajar di kelas formal. Melainkan melalui
dialog dan diskusi di tempat umum di Athena. Mungkin, model dialog
Socrates, bah bergaya Bung Rocky Gerung masa kini, andaikan ia disorot dengan
media serba modernisasi saat ini.
Atau boleh diksikan, bersyukur Bung Rocky
Gerung, Aku belum jadi Profesor' sehingga tidak diundang oleh Presiden, dan
disasar pula dengan idiom metafor "titelan guru besar dengan otak
kecil" lebih kurang yang viral bebas di dalam berlanggam._ Wallahu 'alam.
