Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Empat Kiai-nya Wafat, Peringatan Bagi Muhammadiyah Sulsel


Pedoman Karya 6:55 AM 0

EMPAT KIAI. Muhammadiyah Sulsel kehilangan empat kiai (alim ulama) dalam tempo lima bulan. Dimulai dari wafanya KH Nasruddin Razak (kiri atas), menyusul KH Abdullah Renre (kiri bawah), lalu KH Iskandar Tompo (tengah atas), dan kemudian KH Dahlan Yusuf.


 



-------

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 15 Januari 2022

 

 

Empat Kiai-nya Wafat, Peringatan Bagi Muhammadiyah Sulsel

 

 

Oleh: Asnawin Aminuddin

(Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah Sulsel)

 

Muhammadiyah Sulsel kehilangan empat kiai (alim ulama) dalam tempo lima bulan. Dimulai dari wafanya KH Nasruddin Razak pada 06 Agustus 2021, menyusul KH Abdullah Renre pada 28 Agustus 2021, lalu KH Iskandar Tompo pada 02 September 2021, dan kemudian KH Dahlan Yusuf pada 13 Januari 2022.

Pertama, KH Nasruddin Razak. Beliau adalah mantan dosen Universitas Diponegoro (Undip) Semarang kemudian beralih menjadi dosen Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar.

Di persyarikatan Muhammadiyah, KH Nasruddin Razak yang kelahiran Rappang, 06 Maret 1938, menjabat Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulsel periode 2000 – 2005. KH Nasruddin Razak wafat dalam usia 83 tahun.

Kedua, KH Abdullah Renre. Beliau adalah doktor sejarah Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar. Pria kelahiran Sinjai, 31 Desember 1949, pernah dua periode menjabat Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Gowa.

Beliau wafat saat masih mengemban amanah Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel, dan Direktur Pesantren Ulama Tarjih (PUT) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

Ketiga, KH Iskandar Tompo. Beliau juga wafat saat masih menjabat Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel. Pria kelahiran 08 Januari 1949, dikenal sebagai kader tulen Muhammadiyah.

KH Iskandar Tompo meniti kekaderannya dari Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) bahkan pernah mendapat amanah sebagai Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Wilayah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra, periode 1975-1978), dan Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Selatan dan Tenggara (Sulselra, 1986-1990).

Semasa hidupnya, KH Iskandar Tompo pernah menjadi Anggota DPRD Sulsel (1999-2004), Anggota DPRD Makassar (2004-2009), Pimpinan Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Sulawesi Selatan Gombara Makassar (1992 s/d 1993), serta Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.

KH Abdullah Renre dan KH Iskandar Tompo wafat dalam usia 72 tahun. Keduanya lahir pada tahun 1949, dan wafat pada tahun 2021.

Keempat, KH Dahlan Yusuf. Beliau adalah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kementerian Agama (Kemenag), dan pernah menjabat Kepala Kantor Departemen Agama (Kakandepag) Kabupaten Sinjai, lalu kemudian pejabat di Kemenag Sulsel hingga pensiun.

KH Dahlan Yusuf, sebagaimana KH Abdullah Renre, dan KH Iskandar Tompo, juga pernah mendapat amanah sebagai Wakil Ketua Muhammadiyah Sulsel, dan juga pernah aktif di kepengurusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel dan pengurus IMMIM. Beliau wafat dalam usia 80 tahun.

 

Bukan Peristiwa Biasa

 

Yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini yaitu kehilangan empat kiai dalam tempo lima bulan, bukanlah peristiwa biasa-biasa saja bagi Muhammadiyah Sulsel, karena sangat tidak mudah menghasilkan tokoh yang akhirnya mendapat gelar kiai dari masyarakat.

Saya cukup mengenal keempat tokoh yang sudah almarhum ini. Mereka berempat sesungguhnya merasa risih mendapat gelar dan panggilan kiai, bahkan KH Abdullah Renre berkali-kali menyatakan menolak dipanggil kiai.

“Saya sering dipanggil kiai, tapi saya menolak gelar itu, karena saya merasa tidak pantas,” kata KH Abdullah Renre dalam beberapa kesempatan.

Sikap tersebut menunjukkan betapa tawadhu-nya beliau, dan betapa beliau tidak berambisi mengejar gelar kiai. Sesungguhnya orang-orang seperti inilah yang pantas mendapatkan gelar kiai.

Muhammadiyah Sulsel (termasuk Aisyiyah Sulsel dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Sulsel) memang memiliki banyak sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi, bahkan ada juga lembaga pengkaderan khusus Ma’had Al-Birr dan Pesantren Ulama Tarjih (PUT) di Unismuh Makassar.

Muhammadiyah Sulsel juga tidak kekurangan kader yang aktif berorganisasi mulai dari IPM, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Pemuda Muhammadiyah, Tapak Suci Putra Muhammadiyah, Nasyiatul Aisyiyah, dan Aisyiyah.

Pun banyak yang berproses sebagai da’i atau penceramah agama, tapi sangat sedikit di antara mereka yang akhirnya mendapat gelar kiai. Mungkin bisa dihitung dengan jari.

Pengurus Muhammadiyah Sulsel dan pengurus Muhammadiyah daerah se-Sulsel sudah banyak yang bergelar doktor, bahkan ada yang guru besar alias profesor, tapi sangat kecil persentasenya yang konsen atau konsisten berdakwah di mimbar-mimbar masjid dan mimbar-mimbar pengajian.

Akibatnya, Muhammadiyah memang dikenal dengan berbagai amal usahanya, mulai dari sekolah, pondok pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, dan lain-lain, tapi orang-orang Muhammadiyah tidak dikenal di tengah masyarakat, khususnya di masjid-masjid, karena memang tidak terlalu banyak kader Muhammadiyah yang aktif berdakwah di masjid atau mengisi pengajian.

Padahal da’i yang rajin dan konsisten berdakwah inilah yang akhirnya mendapat gelar kiai dari masyarakat.

Sebenarnya bukan gelar kiai-nya yang ingin dikejar, melainkan keberadaan mereka di tengah masyarakat, di tengah umat, serta pengakuan dari masyarakat, khususnya umat Islam, bahwa pengurus dan kader Muhammadiyah juga banyak yang pendakwah, banyak yang konsisten berdakwah hingga usia tua, serta banyak yang luas wawasan dan dalam ilmu agamanya.

 

Kiai Wafat, Ilmu Dicabut

 

Di sisi lain, wafatnya para kiai secara tidak langsung merupakan bagian dari proses dicabutnya ilmu di tengah masyarakat, khususnya ilmu agama di tengah umat.

Dari Abdullah bin Amr bin Ash radiallahu anhu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam bersabda: “Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata’ala tidak mencabut ilmu sekaligus dari hamba-Nya, tetapi Dia mencabut ilmu tersebut dengan diwafatkannya para ulama. Sehingga, tidak ada satu ulama pun yang tersisa. Pada saat itulah manusia mengangkat pemimpin dari mereka yang bodoh. Dan pada saat pimpinan yang bodoh tersebut ditanyai, maka para pemimpin tersebut memberikan fatwa tanpa berdasarkan ilmu, sehingga mereka tersesat dan menyesatkan. (HR Bukhari dan Muslim)

Muhammadiyah sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia, khususnya di Sulawesi Selatan, hendaknya memperhatikan masalah ini. Wafatnya empat kiai dalam tempo lima bulan, bukanlah peristiwa biasa-biasa saja.

Ini adalah peringatan bahwa Muhammadiyah harus terus-menerus mencetak da’i dan ulama, baik melalui pendidikan formal, maupun pendidikan non-formal, serta mendorong dan membantu para da’i dan ulama tersebut untuk terus menerus menambah dan mengembangkan ilmunya.

Cara yang bisa ditempuh antara lain Muhammadiyah sebaiknya sesering dan sebanyak mungkin mengadakan pengajian rutin, baik di masjid-masjid, maupun di berbagai kegiatan lainnya.

Muhammadiyah harus hadir di tengah umat, hadir di tengah masyarakat, dengan cara mengisi pengajian di masjid-masjid dan pengajian-pengajian yang diadakan oleh masyarakat, lembaga, kantor, maupun organisasi-organisasi.

Mudah-mudahan dengan cara itu, Muhammadiyah Sulsel tidak kekurangan da’i, tidak kekurangan ulama, dan juga tidak kehabisan kiai.

 

Sabtu, 15 Januari 2022

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply