Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » Agar Anak Menjadi Saleh, Orangtua Harus Terlebih Dahulu Saleh


Pedoman Karya 1:55 PM 0

ORANGTUA YANG SALEH. Direktur Pesantren Ulama Tarjih Unismuh Makassar, Dr KH Abbas Baco Miro, saat membawakan khutbah Idul Adha 1443 H, di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 09 Juli 2022, yang dihadiri belasan ribu jamaah. 






----

Ahad, 10 Juli 2022

 

 

Agar Anak Menjadi Saleh, Orangtua Harus Terlebih Dahulu Saleh

 

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).  Untuk mendapatkan anak yang saleh, maka orangtua terlebih dahulu berusaha menjadi orang yang saleh. Karena siap menjadi orangtua artinya siap menjadi teladan untuk keluarga, bukan sekadar memberi makan dan mencukupi kebutuhan anak.

“Keberhasilan Ibrahim ‘alaihissalam mendapatkan karunia anak saleh seperti Ismail ‘alaihissalamadalah, karena beliau sendiri berhasil mendidik dan membentuk dirinya menjadi seorang hamba yang saleh,” kata Direktur Pesantren Ulama Tarjih Unismuh Makassar, Dr KH Abbas Baco Miro, saat membawakan khutbah Idul Adha 1443 H di Kampus Unismuh Makassar, Sabtu, 09 Juli 2022.

Sekretaris Majelis Tarjih Muhammadiyah Sulsel kemudian mengutip Surah Al-Mumtahanan, ayat 4, yang terjemahannya, “Sungguh telah ada untuk kalian teladan yang baik dalam diri Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya.”

Pujian Allah Azza wa Jalla untuk Ibrahim ‘alaihissalam, katanya, tentu saja didapatkannya setelah ia berusaha dan berusaha menjadi sosok pribadi yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.

“Pertanyaannya sekarang untuk kita semua adalah, siapakah di antara kita yang sejak awal menjadi orangtua sudah berupaya belajar dan berupaya menjadi orangtua yang saleh? Apakah kesibukan kita mensalehkan pribadi kita sudah menyamai kesibukan kita mengurus rezeki dan urusan dunia lainnya?” tanya Kiai Abbas.

Selain berupaya menjadi orangtua yang saleh, Nabi Ibrahim juga bersungguh-sungguh meminta kepada Allah Azza wa Jalla agar diberikan anak yang saleh.

Allah Ta’ala mengabadikan doa-doa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam tentang itu di dalam al-Qur’an, antara lain Nabi Ibrahim berdoa, “Tuhanku, karuniakanlah untukku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shaleh.” (Al-Shaffat, ayat 100). Juga doa dalam Surah Ibrahim, ayat 40, “Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang menegakkan shalat, juga dari keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku.”

“Mungkin banyak di antara kita yang sekadar mau memiliki anak yang saleh, tapi siapa di antara kita yang sungguh- sungguh berdoa memintanya kepada Allah dengan kelopak mata yang berderai air mata? Siapa di antara kita yang secara konsisten menyelipkan doa-doa terbaiknya untuk keluarga dan anak-anaknya?” tanya Kiai Abbas.

Jika kita memang sungguh-sungguh bercita-cita mendapatkan anak saleh, katanya, maka kita harus berpikir dan berupaya sungguh-sungguh pula mencari jalannya, sama bahkan lebih dari saat kita bercita-cita ingin mempunyai penghasilan yang besar, rumah tinggal impian dan kendaraan idaman kita.

Karena itulah, kita sebagai orangtua harus terus belajar dan belajar menjadi orangtua yang saleh dan cakap, antara lain dengan mengetahui semua panduan dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik anak, serta memahami bagaimana menghadapi karakter anak kita yang berbeda-beda.

“Kita tidak dilarang mempelajari konsep pendidikan anak dari siapa saja, tapi selalu ingat bahwa konsep pendidikan dan pembinaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang terbaik dan yang wajib untuk kita jalankan. Tentu saja kita tidak lupa untuk meneladani jejak para sahabat Nabi dan Ahlul Bait beliau secara benar, dan tidak berlebih-lebihan,” tutur Kiai Abbas.

Sesibuk apapun urusan dunia kita, kita harus menyediakan waktu untuk belajar menjadi orangtua yang shaleh dan cakap.

“Itulah harga yang harus kita bayar untuk menyelamatkan keluarga kita dari kobaran api neraka yang membara,” tandas Kiai Abbas.

Di akhir kutbahnya, Pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulsel mengutip sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apabila seorang insan meninggal dunia, akan terputuslah seluruh amalnya kecuali dari tiga hal, dari sedekah jariyah, atau dari ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang berdoa untuknya.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan oleh al-Albani)

“Melalui hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan bahwa anak yang saleh adalah investasi yang tak ternilai harganya. Anak yang saleh adalah pelita yang tak padam meski kita telah terkubur dalam liang lahat. Anak yang saleh adalah sumber pahala yang tak putus meski tubuh kita telah hancur berkalang tanah. Sebaliknya, anak-anak yang tidak saleh kelak akan menjadi sumber bencana bagi kehidupan kita para orangtua di akhirat, wal ‘iyadzu billah,” kata Kiai Abbas.

 

Belasan Ribu Jamaah

 

Pelaksanaan Shalat Ied di Halaman Kampus Unismuh, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Sabtu, 09 Juli 2022, dihadiri belasan ribu jamaah, termasuk sejumlah akademisi dan politisi.

Akademisi yang hadir antara lain Prof Ambo Asse (Rektor Unismuh Makassar, Ketua Muhammadiyah Sulsel), Prof Irwan Akib (Direktur Program Pascasarjana Unismuh Makassar), Prof Zakir Sabara (Guru Besar Universitas Muslim Indonesia / UMI Makassar), Prof Ridwan (Guru Besar Universitas Negeri Makassar / UNM).

Politisi yang hadir antara lain Ashabul Kahfi Djamal (Anggota DPR RI / Fraksi PAN), Usman Lonta (Anggota DPRD Sulsel / Fraksi PAN), Jamaluddin Jafar (Sekretaris DPW PAN Sulsel), Hamzah Hamid (Ketua PAN Makassar / Anggota DPRD Makassar).

Juga hadir Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Makassar / mantan Wakil Walikota Makassar, Dr Syamsu Rizal MI, Direktur PT Prima Karya Manunggal, Abdul Rachmat Noer, Sekretaris KAHMI Sulsel, Hidayat Muallim, Ketua Peradi Makassar, Jamil Misbach, serta Ketua Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Unismuh Makassar, Kamaruddin Moha.

Jamaah memadati halaman Unismuh mulai dari depan kantor rektorat lama, lapangan parkir depan FKIK, halaman Pascasarjana, halaman FKIP, pelataran Balai Sidang Muktamar 47, hingga lantai 1 dan lantai 2 Masjid Subulussalam Al-Khoory Unismuh. (asnawin)


-----

Baca juga:

Akademisi, Politisi, dan Belasan Ribu Jamaah Ikuti Shalat Idul Adha 1443 di Kampus Unismuh Makassar

Cepatnya Sekarang Waktu Berlalu

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply