Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » Pekerti Antara Proyekalisasi


Pedoman Karya 1:53 AM 0

Namun, mungkin disayangkan tata pengelolanya terkesan kurang elok, dan mengarah pada approach politis dan proyekalisasi. Di samping, proses pengelolaan pelatihan agak kaku dan monoton bersifat doktrinisasi _ terkesan memaksakan konsep tanpa dinamis. Hal ini, membuat peserta mengikuti merasa terpaksa diikuti_ terbayangi rasa takut tak dianugerahi kelulusan bersertifikatan,__ sungguh disayangkan dan menyedihkan.


 

------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 13 Oktober 2022

 

 

Pekerti Antara Proyekalisasi

 

 

Oleh: Maman A Majid Binfas

(Akademisi, Sastrawan, Budayawan)

 

Esensi Pekerti (Pengembangan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional, red) pada awalnya mungkin asas agak elok, ditujukan untuk dosen muda yang belum mahir dan bukan dari jurusan pendididikan. Kemudian, disusul program Applied Approach (AA) yang ditujukan bagi para dosen senior tanpa klarifikasi asal pendidikan __ disamaratakan pula.

Kedua pelatihan di atas ini, bertujuan meningkatkan kompetensi profesional dosen dalam memangku jabatan fungsional, terutama dalam peningkatan keterampilan pedagogi.

Program Pekerti dan AA mulai dikembangkan pada tahun 1993 dan telah mengalami berbagai perubahan dengan maksud agar dapat mengakomodasi kebutuhan masing-masing perguruan tinggi.

Dan sejak Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan diterbitkan, Dikti memberikan otonomi dalam menyelenggarakan Pekerti kepada masing-masing perguruan tinggi mengacu kepada materi yang didesain oleh Dikti, sehingga setiap perguruan tinggi berkesempatan menyelenggarakan Pekerti tanpa harus menunggu kegiatan diselenggarakan oleh Dikti yang tempatnya terbatas untuk seluruh PTS yang ada.

Namun, mungkin disayangkan tata pengelolanya terkesan kurang elok, dan mengarah pada approach politis dan proyekalisasi. Di samping, proses pengelolaan pelatihan agak kaku dan monoton bersifat doktrinisasi _ terkesan memaksakan konsep tanpa dinamis. Hal ini, membuat peserta mengikuti merasa terpaksa diikuti_ terbayangi rasa takut tak dianugerahi kelulusan bersertifikatan,__ sungguh disayangkan dan menyedihkan.

Alangkah eloknya Pelatihan Pekerti, agar berbudi pekerti sehingga dimengerti dan menyegarkan juga mencerahkan. Mungkin eloknya,

Materi diupayakam tidak terlalu banyak, dikarena terkesan monoton sehingga melelahkan bagi peserta. Apalagi pemateri masih terkesan kurang memadai dan kaku di dalam power keilmuwan. Alangkah baiknya Pekerti, proses pelaksanaan dipertajam esensi pada tujuan utamanya untuk membuat RPPS dan tindakan kelas yang sangat urgen berkaitan.

Mestinya, peserta diklarifikasi, berdasarkan kadar pengetahuan yang telah dialaminya, terutama yang telah melakukan / ikut sebagai tim akreditasi di kampusnya masing_masing. Dikarenakan hampir 60 % materi Pekerti, sangat berkaitan dengan pengisian borang akreditasi dan mungkin pula telah dialami oleh sebagian besar peserta dalam proses mengajarnya sebelum mengikuti Pekerti_ sungguh melelahkan.

Di samping, kiranya pelatihan Perkerti tetap mengedepankan welasih saling mencerahkan, dan tidak terkesan kurang asik dalam saling asah asuh asih.

Manakala, esensi saling demikian, maka Peserta tidak merasa risih_seakan terpaksa ikutan dikarenakan menjadi syarat birokratisasi admin saja._sungguh aduhai menyedihkan tanpa inovatif kreatif.

Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran yang langsung memecahkan masalah yang sedang dihadapi oleh mahasiswa di kelas, berdasarkan kondisi.

Dimensi proses pembelajaran mesti selalu bersifat inovatif. Sifat inovatif menjadi bagian proses pembelajaran yang berorientasi pada strategi belajar, baik pelajar maupun pengajar.

Tentu proses itu, tidak lepas dari metode atau upaya meningkatkan semua kemampuan positif pembelajaran. Memang dalam proses pembelajaran tentu untuk pengembangan kadar potensi sehingga tercapai dicita_citakan atau diharapkan. Hal demikian sebagaimana diharapkan Undang-Undang Pendidikan Nasional.

Jadi, proses pembelajaran sebaiknya tidak monoton dan kaku, tetapi membuat suasana kelas ceria dan mengesan bermakna yang mencerahkan sehingga menghasilkan output memadai.

Manakala prosesnya memadai sehingga tidak terkesan pelaksanaan Pekerti hanya politis proyekalisasi saja. Dan kesan ini yang sempat ditanyakan sama Prof Sofyan Anif, Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan beliau juga menyatakan sepakat dengan kesan demikian.

Pelaksanaan Pekerti UMS sangat berkesan inovatif dan biaya pelatihan pun juga terjangkau dan memadai.

Termasuk, sebagain besar pematerinya agak memadai_tanpa dipungkiri masih ada juga cela yang mesti diakui kekurangan sebagai manusia biasa yang tak sempurna, _ tentu hal wajar dan mesti dimaklumi.

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply