Select Menu

Favourite

Liputan Utama

Aneka Berita

» » » » Hanya Klausa ‘Jaga Jarak’ Yang Muncul Selama Pandemi Covid-19 di Indonesia


Pedoman Karya 4:18 PM 0

“Bentuk neologisme dari aspek klausa di Indonesia ditemukan hanya ada satu, yaitu klausa jaga jarak. Sementara itu, di Malaysia ditemukan ada empat klausa yang muncul yaitu kita jaga kita, jaga kita, kawalan pergerakan, dan pengambilan vaksin.”

- Prof. Andi Sukri Syamsuri - 
(Guru Besar Linguistik UIN Alauddin Makassar)

 


-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 09 November 2022

 

 

Andi Sukri Syamsuri Jadi Profesor Setelah 16 Tahun Sandang Doktor (7):

 

 

Hanya Klausa ‘Jaga Jarak’ Yang Muncul Selama Pandemi Covid-19 di Indonesia

 

 

Penggunaan Klausa

 

Klausa merupakan satuan gramatikal yang mengandung predikat dan berpotensi menjadi kalimat, namun terdapat perbedaan bentuk neologisme yang muncul di Indonesia dan Malaysia terkait dengan klausa.

Dari segi proporsi kemunculannya, penggunaan klausa di Malaysia lebih dominan daripada di Indonesia. Di Indonesia ditemukan hanya ada satu bentuk penggunaan klausa pada masa pandemi Covid-19 (Coronavirus Disease).

Sementara itu, di Malaysia ditemukan ada empat kategori klausa yang didayagunakan selama masa pandemi Covid-19.

“Bentuk neologisme dari aspek klausa di Indonesia ditemukan hanya ada satu, yaitu klausa jaga jarak. Sementara itu, di Malaysia ditemukan ada empat klausa yang muncul yaitu kita jaga kita, jaga kita, kawalan pergerakan, dan pengambilan vaksin,” kata Andi Sukri Syamsuri.

Hal itu ia sampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik (Bahasa) Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Senin, 31 Oktober 2022.

Andis, sapaan akrab Andi Sukri Syamsuri, membacakan pidato pengukuhan dengan judul “Neologisme Linguistik di Masa Pandemi Covid-19: Studi Kasus di Indonesia dan Malaysia.”

“Bentuk neologisme dari sisi klausa yang ditemukan di Indonesia itu sebenarnya berasal dari bahasa Inggris, yaitu social distancing. Klausa ini mengacu pada pembatasan sosial yang bertujuan untuk mencegah penyebaran Coronavirus Disease,” kata Andi Sukri.

Sementara itu, klausa “kita jaga kita” digunakan untuk melawan penularan Covid-19 di Malaysia.

“Menariknya, klausa kita jaga kita merupakan sebuah lagu dari sebuah film 2019, yang ditulis oleh Altimet dan Bo Amir Iqram. Lagu ini juga dinyanyikan oleh Altimet dan dua lagi penyanyi yaitu Cuurley dan Malik Abdullah. Lagu ini kemudian populer karena menjadi pilihan kerajaan Malaysia sebagai lagu untuk melawan Covid-19,” tutur Andi Sukri.

Hal ini menunjukkan bentuk neologisme “kita jaga kita” di Malaysia itu merupakan bentuk neologisme diakronis, yakni suatu satuan lingual adalah neologisme jika kemunculannya baru.

Ini seperti dikemukakan oleh Janssen (2005) bahwa secara diakronis, neologisme tidak memiliki arti—bukan kata yang “baru” yang abstrak dan tidak lekang oleh waktu, tetapi neologisme adalah kata yang baru dalam bahasa tertentu pada suatu waktu.

 

Penggunaan Kalimat

 

“Kalimat mengacu pada kesatuan ujaran yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan. Kami menemukan bahwa bentuk neologisme pada aspek penggunaan kalimat pada masa pandemi Covid-19 di Indonesia dan Malaysia cenderung lebih sedikit daripada kategori lainnya, seperti frasa dan klausa,” kata Andi Sukri.

Bahkan, di Indonesia tidak ditemukan di dalam data penelitian mengenai bentuk neologisme dari sisi penggunaan kalimat di masa pandemi Covid-19. Sementara itu, di Malaysia ditemukan hanya ada satu wujud neologisme dari sisi penggunaan kalimat pada masa pandemi Covid-19.

Kalimat yang muncul di Malaysia berupa kalimat perintah yang bersumber dari tenaga medis. Kalimat ini pada dasarnya berakar dari Bahasa Inggris, yaitu face shild. Kalimat ini berupa imbauan untuk menggunakan penutup muka sebagai langkah pencegahan Covid-19.

Bentuk neologisme dari sisi penggunaan kalimat tidak ditemukan di Indonesia. Hal ini berbeda dengan di Malaysia, yang menggunakan bentuk neologisme yakni pakai peliput muka.

“Pakai peliput muka adalah kalimat yang berupa himbauan atau perintah untuk menutup muka, memakai masker atau pelindung muka selama pandemi Covid-19,” kata Andi Sukri.

Penggunaan kalimat perintah yang muncul sebagai neologisme itu digunakan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19 di Malaysia. Hal ini seperti Teori Yule (1985) bahwa neologisme biasanya mucul akibat dari perkembangan suatu bahasa yang dipengaruhi oleh berbagai faktor pendukung, sehingga dapat diterima oleh pemakai bahasa tutur itu sendiri.

Pada masa epidemi, muncul beragam istilah atau pengenalan konsep baru untuk merujuk pada pandemi Covid-19. Meskipun, istilah atau konsep baru yang muncul itu, baik di Indonesia maupun di Malaysia, merupakan istilah medis dan berakar dari bahasa Inggris, tetapi pengenalan konsep baru itu telah diadopsi atau diadaptasi ke dalam bentuk bahasa Indonesia.

Bentuk neologisme pakai peliput muka yang muncul di Malaysia misalnya, berasal dari bahasa Inggris face shild. Demikian pula pada frasa penjarakan sosial (social distance), dan klausa kawalan pergerakan (movement control) berakar dari bahasa Inggris.

Bentuk neologisme seperti disebut oleh Cabré (1999) dengan istilah borrowed neologisme (atau neologisme pinjaman).

“Jenis neologisme ini dapat berupa kata true borrowings atau pinjaman asli atau secara bentuk dan makna benar-benar serupa dengan kata asing yang menjadi kata asalnya, serta loan translation atau terjemahan,” kata Andi Sukri. (asnawin / bersambung)


-----

Artikel sebelumnya:

Bagian 6:

Neologisme Diciptakan Guna Mengisi Kekosongan Leksikal

Bagian 5:

Enam Kategori Bentuk Neologisme di Indonesia dan Malaysia

«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments

Leave a Reply