Kampus dan Gerakan Kesenian

Rektor UNM Periode 2024-2028, Prof Karta Jayadi (kiri), diharapkan membawa angin segar pemikiran dan kehidupan kesenian serta spirit pembaharuan dalam pengelolaan enerji SDM, seperti di era periode 80-90-an dimana UNM memiliki SDM teater dan tari yang memungkinkan Asia Ramli Prapanca (kanan) bisa hadir sebagai sutradara teater yang fenomenal di antara jagat teater kontemporer Indonesia.    

 

------

PEDOMAN KARYA

Selasa, 07 Mei 2024

 

Kampus dan Gerakan Kesenian

 

Oleh: Halim HD

(Networker-Organizer Kebudayaan)

 

Modernisasi dan institusionalisasi lembaga pendidikan dalam hampir semua seginya tampak menjadi pelatuk yang menggerakkan dunia kesenian jika kita mengambil kasus dalam kaitannya dengan pergeseran dan pergantian pengelolaan sanggar-grup tari, teater, musik dan senirupa misalnya.

Indikator ini menunjukkan bahwa terjadi pergeseran yang sangat menarik dalam konteks bahwa lembaga pendidikan memainkan peranan penting dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM).

Namun pada sisi lainnya, kita juga menyaksikan suatu proses sejenis keterputusan relasi antara lembaga pendidikan kesenian dengan keluarga-keluarga tradisi yang sesungguhnya dahulu keluarga tradisi ini memiliki peranan penting dalam posisi sebagai SDM pendidik kesenian.

Hal yang terakhir ini tampaknya kuat kaitannya dengan masalah birokrasi dan sertifikasi yang dijadikan ukuran formal, yang sekaligus juga politik pendidikan dan politik kebudayaan lembaga pendidikan menghapus nilai pengalaman sebagai ukuran di dalam pendidikan kesenian dan pengelolaan kebudayaan.

Namun ironi pula yang kita dapatkan ketika kampus kesenian yang sangat mengandalkan sertifikasi dan memunculkan para pemegang sertifikat bahkan dengan tingkat doktoral, namun kesenian di kampus justru tak cukup berkembang.

Kita bisa melihat dalam satu-dua dekade terakhir ini ada belasan lulusan doktoral dalam kajian seni pertunjukan dan jenis kesenian lainnya di kampus-kampus di Makassar.

Tampaknya, dan ini ironis, betapa tak ada korelasi antara kapasitas kajian dengan lahirnya pemikiran kesenian untuk menciptakan karya baru. Jikapun ada, terasa itu sebagai proyek dalam rangka yang tak cukup untuk dijadikan khasanah. Jika karya tak lagi dilahirkan, adakah hal lain yang bisa kita harapkan?

Di antara pesimisme yang ada dan dorongan harapan yang masih kita sandarkan kepada kemungkinan-kemungkinan pemikiran yang bisa muncul yang mungkin masih lindap dalam lipatan birokrasi, barangkali ada baiknya kita mencoba menguak kondisi jumud ini melalui tawaran tawaran gagasan.

Beberapa hari yang lalu, melalui WA saya mendapatkan informasi tentang pergantian Rektor UNM dan terpilihya rektor baru periode 2024-2028, Prof Dr H Karta Jayadi MSn. Sambil mencoba mengingat rentang waktu yang lampau dan mengingat alur pemikiran yang pernah ada dan memperbandingkan dengan kondisi yang kini kita hadapi, adakah kemungkinan dari pergantian Rektor UNM dan hadirnya rektor baru bisa membawa angin segar pemikiran dan kehidupan kesenian serta spirit pembaharuan dalam pengelolaan enerji SDM?

Tak ada salahnya kita berharap, menyandarkan asa itu kepada penanggungjawab kampus UNM yang dahulu prodi keseniannya memiliki daya dorong penciptaan yang memukau.

Siapa yang tak tahu pada periode 1980-90-an, kampus UNM memiliki SDM teater dan tari yang memungkinkan Asia Ramli Prapanca bisa hadir sebagai sutradara teater yang fenomenal di antara jagat teater kontemporer Indonesia.

Jika kita bicara tentang hadirnya sutradara Asia Ramli Prapanca beserta aktor-aktornya, kita tak bisa melupakan sosok Halilintar Lathief (HL) yang banyak memberikan inspirasi dalam pengolahan tubuh dan eksplorasi spirit dalam konteks revitalisasi tradisi pada masa kini berkaitan dengan konsep “pakkuruk sumangek” (call back the spirit) seperti yang digambarkan oleh Anderson Sutton dalam bukunya “Calling Back the Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi, Oxford Univ. Press, 2002, New York, p. 3).

Latar Nusa, Laboratorium Tari Nusantara yang didirikan oleh HL merupakan lembaga yang menjadikan dirinya laboratorium sebagai titik balik penting dalam proses memahami tradisi ke dalam suatu ruang kehidupan. Salah satu aspek terpentingnya, bagaimana tradisi menjadi enerji untuk menciptakan karya-karya lainnya.

Dalam proses pembangunan dan modernisasi pada periode rezim Orde Baru, kita melihat realitas yang banal ketika tradisi menjadi sejenis seremonial yang hanya digunakan untuk kepentingan upacara resmi kaum elite. Politik kebudayaan itu telah menggerus posisi-fungsi dan makna tradisi sesungguhnya.

Berdasarkan pengalaman itulah Halilintar Lathief yang bukan hanya meninjau masalah itu secara kritis, melainkan lebih dari itu menciptakan proses kerja yang radikal berdasarkan tafsir dan praktek dari metode tradisi yang ditelusurinya melalui riset dan interaksi serta pengalaman bersama para empu.

Lintasan pengalaman yang sangat inspiratif yang dilakukan oleh Halilintar Lathief merupakan khasanah yang harus kita renungkan dan pikirkan ulang sehubungan dengan posisi-fungsi kampus dalam kaitannya dengan pengembangan SDM dunia kesenian.

Bukankah kampus juga berposisi sebagai laboratorium kebudayaan, di samping ilmu pengetahuan dan pendidikan? Kita berharap ada suatu policy praktis dari perubahan kepemimpinan UNM ke dalam praktek yang berangkat dari dasar pemikiran tentang perlunya kampus menciptakan relasi yang intensif kepada kolega kaum kesenian untuk mengembangkan SDM.

Kampus harus menciptakan ruang dialog untuk membuka kemungkinan proses pemikiran serta terciptanya sistem produksi kebudayaan. Dalam konteks itulah dan melalui refleksi perjalanan UNM pada beberapa dekade yang lampau membuktikan bahwa UNM memiliki sesuatu yang bisa menjadi kontribusi penting dalam percaturan dunia panggung melalui karyanya dalam seni pertunjukan di Indonesia.

Menimbang pemikiran itu dan sandaran harapan kepada pengelola kampus UNM yang baru, kita ingin melihat adanya gerakan kesenian menuju gerakan pembaharuan kebudayaan di negeri ini.

Kemungkinan-kemungkinan hal itu bisa terjadi jika kampus membuka selebar-lebarnya ruang dialog yang intensif, yang bisa menyentuh kedalaman enerji kreatif SDM yang ada di dalam kampus dan SDM kaum seniman yang selama ini jumud dan dibekuk oleh birokrasi.***


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama