-----
Senin, 08 Desember 2025
Berita Media Massa
Sering Kalah dari Konten Medsos
PWI Gowa Gelar Diskusi Media dan Lomba
Karya Jurnalistik
GOWA, (PEDOMAN KARYA).
Realitas getir yang kini dihadapi banyak jurnalis yaitu berita serius di media
massa (media cetak, media daring) sering kalah cepat, kalah menarik, bahkan
kalah perhatian oleh derasnya konten media sosial.
Demikian benang merah pemaparan materi Riswansyah
Muhsin (mantan Komisioner KPID Sulsel), Muhammad Idris alias Baba Ong (konten
kreator), serta Andi Baso Tenri Gowa (Pelaksana Tugas Ketua PWI Gowa), dalam
diskusi media di Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Gowa,
Jalan Tumanurung, No. 1 (GOR Bulutangkis) Gowa, Ahad malam, 07 Desember 2025.
“Digital tidak membunuh pers. Yang
hilang adalah mereka yang tak beradaptasi. Gempuran teknologi bukan alasan
untuk menyerah,” kata Riswansyah.
Menghadapi tantangan tersebut, katanya, wartawan
harus meng-upgrade kemampuan dalam mengelola karya tulis di berbagai platform
digital.
“Zaman digitalisasi tak akan mampu
menghilangkan kerja-kerja wartawan dalam menyampaikan berita yang aktual dan
faktual,” tegas Ciwang, sapaan akrab Riswansyah.
Ia kemudian menambahkan bahwa masalahnya
bukan pada teknologinya, melainkan apakah para wartawan siap meninggalkan cara
lama.
“Kalau tidak, kita yang akan ditinggalkan
oleh pembaca. Wartawan harus menjadi multiplatform storyteller, bukan sekadar
penulis teks,” kata Ciwang dalam diskusi bertajuk “Budaya, Jurnalisme, dan
Peran Wartawan Gowa di Tengah Gempuran Digitalisasi Informasi.”
Muhammad Idris menambahkan bahwa berita
harus hidup, bukan sekadar link mati di timeline. Muhammad Idris yang juga
dikenal dengan Baba Ong, membagikan pengalamannya sebagai kreator digital yang
berhasil memonetisasi konten bermuatan jurnalistik.
“Menyebarkan link berita di Instagram,
Facebook, atau YouTube harus dibarengi kreasi. Gunakan kecerdasan buatan untuk
membuat tampilan lebih menarik, integrasikan visualnya, buat judul hidup.
Berita itu harus ‘menggoda diklik’, bukan sekadar numpang lewat,” kata Baba Ong.
Ia juga membongkar bagaimana wartawan bisa
membangun personal branding secara organik.
“Konten bukan hanya diposting, tapi
dikemas. Pilih tagar yang relevan, tulis deskripsi meta yang kuat, konsisten
dengan algoritma. Jangan malu tampil di kamera, follower datang dari wajah,
suara, dan konsistensi, bukan hanya teks,” ujar Baba Ong.
Wartawan senior Andi Baso Tenri Gowa
menimpali dengan mengatakan, digital boleh berubah, tapi martabat profesi
wartawan jangan goyah. Transformasi digital tidak boleh melunturkan etika
jurnalistik.
“Wartawan PWI harus memperkaya diri dengan
wawasan, kemampuan teknis, dan tentu saja menjaga kode etik. PWI berkomitmen
menjaga muruah profesi wartawan, sekaligus mendorong jurnalis untuk adaptif
dengan perubahan zaman,” kata Andi Baso.
Wartawan, katanya, bukan hanya mencetak
berita, melainkan juga membangun peradaban informasi.
“Maka kualitas diri adalah kewajiban,
bukan pilihan,” kata Andi Baso.
Dalam diskusi yang dipandu Ivan Kalembang,
muncul banyak pertanyaan dan pernyataan dari beberapa peserta yang membuat
suasana diskusi menjadi lebih hidup.
Seusai diskusi dilanjutkan dengan pengumuman nama-nama juara lomba karya jurnalistik oleh Yusrizal, serta nama-nama juara pertandingan domino oleh Revin Paturahman, dilanjutkan penyerahan hadiah. Turut hadir dalam acara tersebut wartawan senior Asnawin Aminuddin dan Ismail Situru. (lom)
