Puasa tapi Toxic?

Toxic itu bukan hanya di media sosial. Toxic bisa hadir di rumah, di kantor, di masjid, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Ramadhan datang untuk membersihkan itu semua. Membersihkan hati dari iri. Membersihkan lisan dari sindiran. Membersihkan pikiran dari prasangka. Karena hati yang kotor tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah.

 

-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 24 Februari 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

Puasa tapi Toxic?

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah yang masih mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, bulan rahmat, bulan ampunan, bulan pendidikan jiwa. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ï·º, yang akhlaknya adalah Al-Qur’an, teladan kesabaran dan kelembutan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Ramadhan adalah bulan puasa,  namun izinkan saya bertanya dengan jujur kepada diri kita masing-masing. Mengapa masih ada yang mudah marah padahal sedang berpuasa? Mengapa masih ada yang suka menyindir, merendahkan, bahkan menyakiti orang lain, padahal lisannya sedang “berpuasa”?

Inilah yang ingin kita renungkan hari ini yaitu Puasa tapi toxic.

Jamaah sekalian,

Kata “toxic” hari ini sering digunakan untuk menggambarkan sikap yang negatif, menyakiti, penuh emosi, suka menjatuhkan, dan merusak suasana. Ironisnya, kadang sikap itu justru muncul di bulan yang seharusnya paling suci.

Padahal Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Surah Al Baqarah ayat 183 ini dengan jelas mengabarkan bahwa tujuan akhir puasa adalah menggapai derajat takwa, sementara realiasasi takwa itu dapat terlihat dalam akhlak dan kehidupan sehari-hari.

Rasulullah ï·º bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan berbuat bodoh. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan penjelasan dengan tegas bahwa puasa tidak hanya sekadar menahan lapar dan haus saja, akan tetapi juga menahan reaksi, menahan emosi, dan juga menahan ego.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Boleh jadi kita mampu menahan makan dan minum selama belasan jam, tetapi belum tentu kita mampu menahan amarah selama beberapa menit.

Ada yang tersinggung sedikit, langsung membalas. Ada yang berbeda pendapat sedikit, langsung menyerang. Ada yang melihat kesalahan orang lain, langsung menghakimi. Padahal puasa adalah latihan pengendalian diri. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih shabar, makin ridho, maka ada yang perlu kita perbaiki dalam puasa kita.

Rasulullah ï·º bahkan memperingatkan: “Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar dan haus.” (HR. Ahmad) Na’udzubillah.

Jamaah sekalian,

Toxic itu bukan hanya di media sosial. Toxic bisa hadir di rumah, di kantor, di masjid, bahkan dalam percakapan sehari-hari. Ramadhan datang untuk membersihkan itu semua. Membersihkan hati dari iri. Membersihkan lisan dari sindiran. Membersihkan pikiran dari prasangka. Karena hati yang kotor tidak akan pernah merasakan manisnya ibadah.

Apa gunanya tarawih panjang jika hati masih penuh kebencian? Apa gunanya tilawah rutin jika lisan masih menyakiti? Ramadhan bukan hanya bulan menahan, tetapi bulan membersihkan.

Jamaah yang dirahmati Allah, Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum detox hati. Jika dunia mengenal detoks tubuh, maka Ramadhan adalah detoks jiwa.

Buang amarah. Buang dendam. Buang kebiasaan menyakiti. Ganti dengan sabar. Ganti dengan lembut. Ganti dengan doa dan kebaikan.

Karena puasa yang sejati bukan hanya membuat perut kosong, tetapi membuat hati bersih.

Ya Allah, bersihkan hati kami di bulan yang suci ini. Lembutkan lisan kami, tenangkan jiwa kami, dan jadikan puasa kami benar-benar mendidik kami menjadi hamba yang bertakwa. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama