-----
PEDOMAN KARYA
Selasa, 30 Desember 2025
Selamat Tahun
Baru; Janus juga Yesus
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Bila, berguru di pasaran Google dan
PAI/Prof. Kecerdasan Buatan atau Professor 'Artificial Intelligence', mengenai
tapak jejak bermulanya tradisi perayaan tahun baru Masehi, maka akan
bermunculan, di antaranya;
Dinukilkan kira-kira pada tahun 46 sebelum
Masehi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari raya untuk
menghormati dewa Janus. Pada masa itu, masyarakat Romawi merayakannya dengan
pesta serta permohonan perlindungan kepada para dewa untuk menghadapi tahun
yang baru.
Bahkan, di seluruh dunia, orang-orang
telah merayakan awal tahun baru selama ribuan tahun. 4.000 tahun yang lalu.
Namun, bangsa Babilonia merayakan tahun baru selama bulan baru pertama di akhir
Maret setelah ekuinoks musim semi — hari dengan jumlah kegelapan dan sinar
matahari yang sama.
Tahun Baru Masehi adalah perayaan
pergantian tahun berdasarkan kalender Gregorian yang digunakan secara
internasional, jatuh pada tanggal 1 Januari. Hal itu, menandai dimulainya tahun
baru yang dihitung dari tahun kelahiran Yesus Kristus atau Anno Domini/AD,
dirayakan dengan pesta kembang api, resolusi tahun baru, dan tradisi berkumpul,
menjadikannya salah satu hari libur global yang paling ramai dipentaskan
pembakaran petasan.
Sejarah pembakaran petasan bermula di
Tiongkok kuno, diperkirakan saat Dinasti Han di abad ke_2SM. Ketika itu,
Masyarakat Tiongkok kuno di daerah Liuyang menggunakan batang bambu alami.
Ketika batang bambu dilemparkan ke dalam api, kantong udara di dalamnya memanas
dan meledak dengan suara keras.
Suara ledakan keras ini, yang disebut
"Bauzu/petasan" dalam bahasa Tiongkok, dipercaya dapat mengusir roh
jahat, hantu, dan monster. Termasuk, monster legendaris Nian yang meneror saat
Tahun Baru Imlek, sehingga membawa keberuntungan dan kedamaian bah rongga
lobang batang bambu.
Penggunaan batang bambu dilubangi memamg
jauh sebelum penemuan bubuk mesiu modern.
Penemu bubuk musiu, yakni pada abad ke_9
oleh pendeta bernama Li Tian atau Li Liang, dianggap sebagai penemu bubuk
mesiu. Bubuk mesiu ini, kemudian dimasukkan ke dalam bambu atau selongsong
kertas, menggantikan bambu alami, untuk menciptakan ledakan yang lebih kuat dan
konsisten. Tanggal 18 April diperingati di Tiongkok sebagai hari penemuan
petasan untuk menghormati Li Tian.
Jadi pada awalnya, memang esensi dari
petasan digunakan untuk tujuan ritual dan spiritual, bukan untuk hiburan,
seperti sekarang.
Namun, hiburan berhamburan demikian, kesan
ritualnya mungkin juga bertautan dengan misinya juga. Hal demikian, memang
kesan sama dan hanya di dalam polesan yang dikemasinnya saja dengan durasi
ledakan petasan masa kini yang agak berbeda.
Bahkan, penggemarnya bukan saja orang kaum
Konghocu dan penganut Kristen saja, tetapi sebagian besar kaum yang beragama
Islam pun turut meramaikannya juga. Sekalipun, telah mengetahui akan orientasi
kesannya dan pesan agama tentang kemubazirannya di dalam Firman Allah pun
dilanggarnya juga dengan masa bodoh.
Kemubaziran, sebagaimana QS Al-Isra: 26-27
yang berarti "... dan pelakunya disebut sebagai "saudara setan".
Justru, lebih memilih esensi persaudaraan dan demi toleransi berkarakter akhir
dari diksi ayat tersebut. Lebih aneh lagi, memborong petasan untuk diledekin
barengan dengan keluarga sembari berdiksi 'ayo .. joing yo' beli petasan untuk
berhiburan tahun baru.
Ayo Ledakin Petasanmu
Ayo, Ledakan terus saja petasan sebelum
ledakan yang sesungguhnya menghangusin tanpa tersisa
Ayo, ledakan terus petasanmu sehingga
kehabisan energi durjana berapian, berhingga tepian kuburan di dalam harakiri
berakhir tahun
Ayo, nyalakan. mau merah kuning
atau apapun membubung tanpa henti mengiang
ngerang
Juga, hampa lagi gulungan kabutan saling
berhadap kiri kanan di dalam mengawali tahun baru, supaya dunia akan hampa
kelabuan lagi di dalam bertenda biru berlangit jingga
Insya Allah. semoga takbir tetap Lillah
akan berkalam kepada Allahu Akbar, dan goresan pun tetap mengalir bah curah
hujan bertakbiran.
Goresan Hujan Berkalam
Hujan menggempur bumi, bukan berarti
bencana akan tetapi berkah mesti disyukuri
Sama halnya dengan terik kerontang juga
sebagai tanda berhikmat untuk tafakur atau direnungkan.
Dibalik nan demikian, tentu ada berkah
Rahmatan lil alamien mesti dibaca dengan kebeningan logika nurani sebagai tanda
dan tanpa bisa dipungkiri
Terkecuali, hanya pasrah yang tulus secara
tulen lillahi ta'ala. Bukan jua semata sebagai resiko,
bah detik bergantinya angka 00, namun
mesti diterima dan disyukuri
Wallahualam, sembari menggempurin bah
tinta berhujan goresan berkalam rahmatan lil alamin tanpa redup berhingga wassalam
Hanya Hujan Redup
Curah Hujan akhir bulan Desember memang terasa sesak semakin sasar bergejolak
tak karuan, seiring detak hari musim harakiri pergantian tahun_
Curah hujan memang alami mesti disyukuri
tanpa bisa lagi dipungkiri, dikarenakan esensi curah hujan memang bertakbir
berasaskan takdir.
Hujan berakar memang berkarakter
tulus di dalam mengalir dan hanya kepada
Rabb_nya berzikir tak mungkin dilanggar.
Tentu, berbeda sangat dengan nan
berpawang dan bergerbong sok berkaraktek, namun tetap beriring dengan
sirkulasi berakademis Iblis pula. Sikap karakter demikian, memang selalu suka
polesan ngelas yang tercampur aduk. Bah gelora rasa membara berdetak lagi
berkecamuk yang tiada terkira tertanda
remuk dan juga tak mungkin reda, malah semakin mantap .
Terkecuali, hanya hujan saja nan akan
redup di dalam curahannya. Namun, esemsi ke_rahmatan lil alamin_nya tetap akan
berangka fantastis berhingga kiamatan.
Berangka Kosong Fantastis
Kalau bisa dihitung nilai hiburan untuk
berkalangnya detik angka 00 hingga berkuburan tahun baru mendunia.
Koq hanya untuk berreinkarnasi ke 010,
mungkin akan menghabisi ratusan trilyunan, baik berhamburan untuk pembakaran
petasan maupun bisnis aduh lendiran bokongan saja.
Tentu, dilakukan oleh para pelancong yang
gemar berlogika isi batokan tertukar denan ampas ceboan. Belum lagi angka
hiburan gulita tak karuan yang lainya.
Namun,
itulah gejolak kehidupan
bergelora memamerin
akan lakon sandiwara duniawian doang.
Memang penuh fatamorgana fantastis 00/ kosong
melompong menjadi pilihannya, yakni hanya
berangka 0 saja.
Angka '0'
Kalau mau bermain brilian, sekalian
ratusan triliunan, itu pun bila bisa ketemu dan juga ia mau.
Bukan sekedar rupian recehan batokan yang
hanya berisi otak ampasan ceboan 0 doangan.
Dan berdoangan, itu berarti akan tetap
kadarnya pada super kedunguan yang tidak ada lagi yang dapat bersandingan 0 di semesta ini.
itu si... hanya sisa hintungan hari dalam
detak berdetik guna berangka 0 berjangka 01 saja !
Jadi, tidak terlalu keliru, manakala saya
berdiksi; Selamat merayakan 'tahun baru' guna meraih angka 0. Baik yang
mendewakan Janus juga menuhankan Yesus maupun
kaum beragama Islam yang telah masa bodoh
dengan Firman Tuhan di dalam QS Al-Isra: 26-27, sebagaimana dengan nyata di
atas berkalam.
Wallahu a’lam.
