Selamat Tahun Baru; Janus juga Yesus

Tidak terlalu keliru, manakala saya berdiksi; Selamat merayakan 'tahun baru' guna meraih angka 0. Baik yang mendewakan Janus juga menuhankan Yesus maupun kaum beragama Islam yang telah masa bodoh dengan Firman Tuhan di dalam QS Al-Isra: 26-27, sebagaimana dengan nyata di atas berkalam. - Maman A. Majid Binfas -

 

-----

PEDOMAN KARYA

Selasa, 30 Desember 2025

 

Selamat Tahun Baru; Janus juga Yesus

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Bila, berguru di pasaran Google dan PAI/Prof. Kecerdasan Buatan atau Professor 'Artificial Intelligence', mengenai tapak jejak bermulanya tradisi perayaan tahun baru Masehi, maka akan bermunculan, di antaranya;

Dinukilkan kira-kira pada tahun 46 sebelum Masehi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari raya untuk menghormati dewa Janus. Pada masa itu, masyarakat Romawi merayakannya dengan pesta serta permohonan perlindungan kepada para dewa untuk menghadapi tahun yang baru.

Bahkan, di seluruh dunia, orang-orang telah merayakan awal tahun baru selama ribuan tahun. 4.000 tahun yang lalu. Namun, bangsa Babilonia merayakan tahun baru selama bulan baru pertama di akhir Maret setelah ekuinoks musim semi — hari dengan jumlah kegelapan dan sinar matahari yang sama.

Tahun Baru Masehi adalah perayaan pergantian tahun berdasarkan kalender Gregorian yang digunakan secara internasional, jatuh pada tanggal 1 Januari. Hal itu, menandai dimulainya tahun baru yang dihitung dari tahun kelahiran Yesus Kristus atau Anno Domini/AD, dirayakan dengan pesta kembang api, resolusi tahun baru, dan tradisi berkumpul, menjadikannya salah satu hari libur global yang paling ramai dipentaskan pembakaran petasan.  

Sejarah pembakaran petasan bermula di Tiongkok kuno, diperkirakan saat Dinasti Han di abad ke_2SM. Ketika itu, Masyarakat Tiongkok kuno di daerah Liuyang menggunakan batang bambu alami. Ketika batang bambu dilemparkan ke dalam api, kantong udara di dalamnya memanas dan meledak dengan suara keras.

Suara ledakan keras ini, yang disebut "Bauzu/petasan" dalam bahasa Tiongkok, dipercaya dapat mengusir roh jahat, hantu, dan monster. Termasuk, monster legendaris Nian yang meneror saat Tahun Baru Imlek, sehingga membawa keberuntungan dan kedamaian bah rongga lobang batang bambu.

Penggunaan batang bambu dilubangi memamg jauh sebelum penemuan bubuk mesiu modern.

Penemu bubuk musiu, yakni pada abad ke_9 oleh pendeta bernama Li Tian atau Li Liang, dianggap sebagai penemu bubuk mesiu. Bubuk mesiu ini, kemudian dimasukkan ke dalam bambu atau selongsong kertas, menggantikan bambu alami, untuk menciptakan ledakan yang lebih kuat dan konsisten. Tanggal 18 April diperingati di Tiongkok sebagai hari penemuan petasan untuk menghormati Li Tian.

Jadi pada awalnya, memang esensi dari petasan digunakan untuk tujuan ritual dan spiritual, bukan untuk hiburan, seperti sekarang. 

Namun, hiburan berhamburan demikian, kesan ritualnya mungkin juga bertautan dengan misinya juga. Hal demikian, memang kesan sama dan hanya di dalam polesan yang dikemasinnya saja dengan durasi ledakan petasan masa kini yang agak berbeda.

Bahkan, penggemarnya bukan saja orang kaum Konghocu dan penganut Kristen saja, tetapi sebagian besar kaum yang beragama Islam pun turut meramaikannya juga. Sekalipun, telah mengetahui akan orientasi kesannya dan pesan agama tentang kemubazirannya di dalam Firman Allah pun dilanggarnya juga dengan masa bodoh.

Kemubaziran, sebagaimana QS Al-Isra: 26-27 yang berarti "... dan pelakunya disebut sebagai "saudara setan". Justru, lebih memilih esensi persaudaraan dan demi toleransi berkarakter akhir dari diksi ayat tersebut. Lebih aneh lagi, memborong petasan untuk diledekin barengan dengan keluarga sembari berdiksi 'ayo .. joing yo' beli petasan untuk berhiburan tahun baru.

 

Ayo Ledakin Petasanmu

Ayo, Ledakan terus saja petasan sebelum ledakan yang sesungguhnya menghangusin tanpa tersisa

Ayo, ledakan terus petasanmu sehingga kehabisan energi durjana berapian, berhingga tepian kuburan di dalam harakiri berakhir tahun

Ayo, nyalakan. mau merah kuning

atau apapun membubung tanpa henti mengiang ngerang

Juga, hampa lagi gulungan kabutan saling berhadap kiri kanan di dalam mengawali tahun baru, supaya dunia akan hampa kelabuan lagi di dalam bertenda biru berlangit jingga

Insya Allah. semoga takbir tetap Lillah akan berkalam kepada Allahu Akbar, dan goresan pun tetap mengalir bah curah hujan bertakbiran.

 

Goresan Hujan Berkalam

 

Hujan menggempur bumi, bukan berarti bencana akan tetapi berkah mesti disyukuri

Sama halnya dengan terik kerontang juga sebagai tanda berhikmat untuk tafakur atau direnungkan.

Dibalik nan demikian, tentu ada berkah Rahmatan lil alamien mesti dibaca dengan kebeningan logika nurani sebagai tanda dan tanpa bisa dipungkiri

Terkecuali, hanya pasrah yang tulus secara tulen lillahi ta'ala. Bukan jua semata sebagai resiko,

bah detik bergantinya angka 00, namun mesti diterima dan disyukuri

Wallahualam, sembari menggempurin bah tinta berhujan goresan berkalam rahmatan lil alamin tanpa redup  berhingga wassalam

 

Hanya Hujan Redup

 

Curah Hujan akhir bulan Desember  memang terasa sesak semakin sasar bergejolak tak karuan, seiring detak hari musim harakiri pergantian tahun_

Curah hujan memang alami mesti disyukuri tanpa bisa lagi dipungkiri, dikarenakan esensi curah hujan memang bertakbir

berasaskan takdir.

Hujan berakar memang berkarakter tulus  di dalam mengalir dan hanya kepada Rabb_nya berzikir tak mungkin dilanggar.

Tentu, berbeda sangat dengan nan berpawang  dan bergerbong sok  berkaraktek, namun tetap beriring dengan sirkulasi berakademis Iblis pula. Sikap karakter demikian, memang selalu suka polesan ngelas yang tercampur aduk. Bah gelora rasa membara berdetak lagi berkecamuk  yang tiada terkira tertanda remuk dan juga tak mungkin reda, malah semakin mantap .

Terkecuali, hanya hujan saja nan akan redup di dalam curahannya. Namun, esemsi ke_rahmatan lil alamin_nya tetap akan berangka fantastis berhingga kiamatan.

 

Berangka Kosong Fantastis

 

Kalau bisa dihitung nilai hiburan untuk berkalangnya detik angka 00 hingga berkuburan tahun baru mendunia.

Koq hanya untuk berreinkarnasi ke 010, mungkin akan menghabisi ratusan trilyunan, baik berhamburan untuk pembakaran petasan maupun bisnis aduh lendiran bokongan saja.

Tentu, dilakukan oleh para pelancong yang gemar berlogika isi batokan tertukar denan ampas ceboan. Belum lagi angka hiburan gulita tak karuan yang lainya.

Namun,  itulah gejolak kehidupan

bergelora memamerin

akan lakon sandiwara duniawian doang. Memang penuh fatamorgana fantastis 00/ kosong

melompong menjadi pilihannya, yakni hanya berangka 0 saja.

 

Angka '0'

 

Kalau mau bermain brilian, sekalian ratusan triliunan, itu pun bila bisa ketemu dan juga ia mau.

Bukan sekedar rupian recehan batokan yang hanya berisi otak ampasan ceboan 0 doangan.

Dan berdoangan, itu berarti akan tetap kadarnya pada super kedunguan yang tidak ada lagi yang dapat bersandingan  0 di semesta ini.

itu si... hanya sisa hintungan hari dalam detak berdetik guna berangka 0 berjangka 01 saja !

Jadi, tidak terlalu keliru, manakala saya berdiksi; Selamat merayakan 'tahun baru' guna meraih angka 0. Baik yang mendewakan Janus juga menuhankan Yesus maupun

kaum beragama Islam yang telah masa bodoh dengan Firman Tuhan di dalam QS Al-Isra: 26-27, sebagaimana dengan nyata di atas berkalam.

Wallahu a’lam.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama