![]() |
| Tetaplah bodoh, kawan, / jika pintar menuntut kita percaya / bahwa kayu gelondongan memang tumbang sendiri, / kebetulan saja sebagian diberi nomor / agar tak tersesat pulang. |
-----
PEDOMAN KARYA
Sabtu, 27 Desember 2025
PUISI
Tetaplah Bodoh
Karya: Fathul
Wahid
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa kayu gelondongan memang
tumbang sendiri,
kebetulan saja sebagian diberi
nomor
agar tak tersesat pulang.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengharuskan kita
sepakat
bahwa sawit juga pohon karena punya
daun hijau,
cukup untuk mengganti nama hutan,
meski akarnya tak lagi sudi menahan
air.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti curiga pada
suara kritis,
dianggap menggiring opini,
menganggap pemerintah tidak bekerja
sempurna,
dan empati harus menunggu siaran
media.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mengajarkan bahwa
bantuan asing
yang tak seberapa itu berbahaya,
bisa meruntuhkan martabat bangsa
yang konon berdiri tegak—tanpa
bantuan siapa-siapa.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar mensyaratkan
bantuan bencana dari diaspora
perlu dipajaki dulu,
agar duka ikut menyumbang
penerimaan negara.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar berarti setuju
cukup menteri memanggul karung
bantuan,
sementara empati dianggap bonus,
tak wajib, apalagi tulus.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menuntut kita percaya
bahwa ribuan korban hanyalah angka,
terlalu kecil untuk disebut bencana
nasional,
hanya cukup jadi catatan kaki
laporan tahunan.
Tetaplah bodoh, kawan,
jika pintar menganggap alih hutan
ke sawit
adalah keniscayaan,
dan banjir selalu bisa kita
titipkan
pada takdir—
agar tangan manusia tetap tampak
tak ternoda.
Mari, tetap bodoh, kawan.
Sebab di negeri ini,
terlalu sering, yang disebut pintar
justru adalah kelihaian
melawan akal sehat,
menyembunyikan fakta,
dan memperdayai sesama.
Kawan, mari, tetap bodoh.
Sleman, 22 Desember 2025
.......
Keterangan:
-- Penulis Prof. Fathul Wahid, S.T., M.Sc., Ph.D. adalah Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Periode 2018-2022, dan Periode 2022-2026.
-- Puisi ini ia posting di akun Instagram-nya, dan mengatakan, ia membacakan puisi ini pada “Kenduri dan Doa ibu-ibu berisik”, Senin sore, 22 November 2025, di Bundaran UGM.
