-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 29 Januari 2026
Metformin atau Glimepiride?
(Menimbang Efektivitas dan Nilai Biaya Terapi
Diabetes)
Oleh: Rizky Indah Pratiwi
(Mahasiswa Program Doktoral Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Jokyakarta / Dosen Universitas Megarezky, Makassar)
Diabetes melitus tipe 2 merupakan salah
satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Prevalensinya terus meningkat
seiring perubahan gaya hidup, urbanisasi, dan penuaan populasi.
Di tengah beban penyakit yang tinggi,
persoalan terapi diabetes tidak hanya menyangkut efektivitas klinis, tetapi
juga efisiensi biaya dan dampaknya terhadap kualitas hidup pasien.
Dalam konteks inilah perbandingan antara
dua obat antidiabetik oral yang paling sering digunakan, metformin dan glimepiride,
menjadi relevan untuk dibahas melalui pendekatan cost-utility analysis (CUA).
Metformin selama ini direkomendasikan
sebagai terapi lini pertama diabetes tipe 2. Obat ini bekerja dengan
meningkatkan sensitivitas insulin dan menurunkan produksi glukosa di hati. Di
sisi lain, glimepiride, golongan sulfonilurea, bekerja dengan merangsang
sekresi insulin dari pankreas.
Keduanya efektif menurunkan kadar glukosa
darah, tetapi memiliki profil manfaat, risiko, dan biaya yang berbeda.
Perbedaan inilah yang menentukan nilai utilitas terapi bagi pasien dan sistem
kesehatan.
Dalam praktik klinis, efektivitas sering
kali menjadi fokus utama. Namun, efektivitas semata tidak cukup. Terapi yang
efektif tetapi mahal atau menurunkan kualitas hidup pasien akan membebani
sistem kesehatan, terutama dalam skema pembiayaan publik seperti BPJS
Kesehatan.
Di sinilah CUA menjadi alat penting karena
tidak hanya menghitung biaya dan hasil klinis, tetapi juga mengaitkannya dengan
kualitas hidup pasien, biasanya dalam satuan quality-adjusted life years
(QALYs).
Metformin memiliki sejumlah keunggulan
dalam perspektif utilitas. Selain efektif menurunkan HbA1c, metformin relatif
aman, tidak menyebabkan kenaikan berat badan, dan memiliki risiko hipoglikemia
yang rendah. Efek samping yang paling sering muncul bersifat gastrointestinal
dan umumnya dapat ditoleransi.
Dari sisi biaya, metformin termasuk obat
generik dengan harga terjangkau, sehingga memberikan nilai ekonomi yang baik
bagi pasien maupun sistem kesehatan.
Sebaliknya, glimepiride juga efektif
menurunkan kadar glukosa darah, bahkan dalam beberapa kasus menunjukkan
penurunan yang lebih cepat. Namun, risiko hipoglikemia dan peningkatan berat
badan menjadi catatan penting.
Hipoglikemia bukan hanya persoalan klinis,
tetapi juga berdampak langsung pada kualitas hidup pasien, produktivitas kerja,
dan potensi biaya tambahan akibat kunjungan medis atau rawat inap. Dalam
kerangka CUA, faktor-faktor ini dapat menurunkan nilai utilitas glimepiride
meskipun biaya obatnya relatif rendah.
Perbandingan biaya antara metformin dan glimepiride
sering kali tampak sederhana jika hanya melihat harga obat. Namun, analisis
yang lebih komprehensif menunjukkan bahwa biaya terapi diabetes mencakup lebih
dari sekadar obat.
Biaya pemeriksaan laboratorium, penanganan
efek samping, komplikasi jangka panjang, hingga kehilangan produktivitas akibat
gangguan kesehatan harus diperhitungkan. Dari sudut pandang ini, terapi yang
menurunkan risiko komplikasi dan mempertahankan kualitas hidup pasien memiliki
nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Pendekatan CUA membantu pembuat kebijakan
dan tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih rasional. Dalam banyak
studi, metformin menunjukkan rasio biaya-utilitas yang lebih baik dibandingkan
sulfonilurea, terutama ketika mempertimbangkan outcome jangka panjang.
Hal ini menjelaskan mengapa metformin
tetap menjadi tulang punggung terapi diabetes tipe 2 di berbagai pedoman klinis
internasional. Namun, penting dicatat bahwa CUA bukan alat untuk menyeragamkan
terapi.
Setiap pasien memiliki kondisi klinis,
toleransi obat, dan kebutuhan yang berbeda. Pada pasien tertentu, glimepiride
tetap memiliki tempat, terutama jika metformin tidak ditoleransi atau
kontraindikasi.
Di sinilah peran klinisi menjadi krusial
dalam menyeimbangkan bukti ilmiah, preferensi pasien, dan keterbatasan sumber
daya. Dalam konteks sistem kesehatan nasional, diskusi tentang metformin dan glimepiride
juga berkaitan erat dengan keberlanjutan pembiayaan.
Diabetes adalah penyakit kronis yang
memerlukan terapi jangka panjang. Tanpa strategi pemilihan obat yang berbasis
nilai, beban biaya akan terus meningkat dan berpotensi mengganggu stabilitas
sistem kesehatan. Oleh karena itu, integrasi hasil CUA ke dalam kebijakan
formularium dan panduan terapi menjadi langkah yang semakin penting.
Pada akhirnya, pertanyaan “metformin atau glimepiride?”
bukan sekadar soal mana yang lebih kuat menurunkan gula darah. Pertanyaan yang
lebih penting adalah: terapi mana yang memberikan manfaat paling besar dengan
biaya yang paling rasional, sekaligus menjaga kualitas hidup pasien.
Dalam era keterbatasan sumber daya,
pendekatan berbasis cost-utility bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Dengan
menimbang efektivitas, risiko, dan nilai biaya secara seimbang, pengelolaan
diabetes dapat menjadi lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan
pasien.***
