Sebelas Jam Menari di Hari Tari

Maestro Tari Hj Munasiah Daeng Djinne di antara penari. (Dokumentasi Bagahawan Ciptoning)

 

-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 02 Mei 2026

 

Hari Tari se-Dunia 2026:

 

Sebelas Jam Menari di Hari Tari

 

Oleh: Yudhistira Sukatanya

(Penulis, Sutradara, Budayawan)

 

Kegiatan Perayaan Hari Tari Sedunia (HTS) 2026 diselenggarakan pada hari Rabu, 29 April 2026, sejak pukul 10.00-21.00 Wita di Kawasan Trans Studio Mal (TSM) Makassar. Tema kegiatan HTS tahun 2026 ini: “Makassar Menari; Gunung-Pesisir Menuju Panggung Dunia”. Event ini gratis ditonton dan terbuka untuk umum.

Ketua Pelaksana Dr Nurlina Syahrir, mengatakan, tahun 2026 ini, acara akbar tersebut melibatkan ratusan penari lebih dari 35-an grup, antara lain dari grup tari asal Makassar, SMKN 2 Gowa, Sanggar Panrannuangku UPT SMPN 2, Mappakasunggu,Takalar, Barru, Sulawesi Selatan.

Juga ada dari Sanggar Seni Tipalayo Mammesa Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat dan Palu Sulawesi Tengah. Mereka menarikan aneka ragam tarian, mulai tari tradisi, kontemporer, hingga modern.

Pembukaan acara berlangsung di pelataran depan Trans Studio Mal Makassar menampilkan Tari “Pagellu“ dari Tanah tinggi Toraja disambung dengan Tari Pakarena “Makbiring Kassi, Tari “Galaganjur“ disajikan oleh 150-an penari alumnus SMKI dan alumni Jurusan   Sendratasik UNM, diperkuat oleh dua maestro; Maestro tari Hj Munasiah Daeng Jinna, dan Maestro Gendang, Serang Dakko dari Sanggar Alam, Gowa.

“Hari Tari Sedunia dapat berperan untuk membangun ekosistem, memperluas jejaring komunitas seni tari, membuka peluang kolaborasi lintas daerah. Untuk momentum ini, pelaku seni tari lintas generasi diharapkan pula memanfaatkan kesempatan untuk dapat semakin percaya diri ketika menampilkan karya dan menari. Dalam konteks ini, kami tetap mengutamakan karya dari khasanah budaya lokal Sulawesi Selatan,” kata Nurlina Syahrir.

Tari adalah presentasi kultural. Tubuh yang menari dapat dibaca sebagai wacana pertunjukan yang menampilkan dan menyimpan arsip gerak tubuh budaya tertentu pada suatu kurun waktu tertentu yang masih lekat dalam ingatan, riwayat lintasan sejarah masa lampau hingga kini.

Meski demikian gerak tubuh menari tidak dapat serta-merta tersimpan sebagai arsip, sebagaimana rekaman seperti video visual art, foto, tulisan atau lukisan karena ungkapan gerak tari dari tarian yang sama, pada waktu dan tempat berbeda, sangat memungkinkan terjadinya perubahan dan adaptasi penyajiannya.

Oleh sebab itu, repetisi kegiatan menari pada waktu dan tempat berbeda, senantiasa penting terus dilakukan untuk komunikasi, adaptasi, pengarsipan riwayat perkembangan gerak tubuh dan pengetahuan seni tari demi keberlanjutan keberadaan kebudayaan tertentu di masa datang.

Widi Fahmy Syariff, koordinator acara, mengatakan, penampilan tari HTS 2026 ini didukung sepenuhnya oleh Balla Mangkasara, Konri- Konservatori Tari Sulsel, Fakultas Seni UNM, SMKN 1 dan 2 Kabupaten Gowa.

Seluruh pendukung dapat menjadi media interaksi, komunikasi dan belajar bagi seluruh pemangku kepentingan.

“Dalam HTS kali ini, kami memilih kembali kawasan TSM untuk melibatkan serta mendekatkan pegiat seni tari dengan generasi Z kelahiran tahun 1997 hingga 2012 yang tumbuh seiring perkembangan budaya teknologi digital. Juga melibatkan generasi Alpha kelahiran 2012–2025, generasi digital native sejati yang lahir di era smartphone dan Artificial Inteligence (AI). Mereka yang dikenal sangat familiar dengan internet, mandiri, kreatif, namun memiliki kebiasaan fokus rendah dan kurang berinteraksi sosial, termasuk dengan kegiatan seni budaya,” ungkap Widi.

Melalui peringatan HTS ini, masyarakat kembali diajak bergembira sambil mengenal berbagai jenis tarian dari berbagai genre budaya.

“Bersama merawat, melestarikan warisan sekaligus, memanfaatkan dan mengembangkan seni tari tradisional, serta ikut merasakan kegembiraan melalui gerakan tari kontemporer, pop, modern,” timpal Nurlina.

Di sore hari HTS menampilkan penari tunggal, Fathir, dengan judul karya: “Penjara Tradisi“. Jelang magrib lanjut kembali mempertunjukkan Tari “Pagellu” dan “Galaganjur” di Kawasan depan pintu barat TSM. Ditutup dengan penampilan Dance Kazaki Art School di Depan “Oh Some”.

Acara ini tetap dapat berlangsung meriah meski tanpa sponsor, sesuai kesepakatan dengan pihak TSM. Sebelas jam menari di Hari Tari Sedunia 2026. Ditonton oleh ratusan pengunjung mal, silih berganti dari pagi, siang, hingga malam hari.

 

Tamamaung, 30 April 2027


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama