Sabtu, 14 Februari 2026
Abdul Mu'ti Sampaikan 4 Pesan dalam Rakernas Majelis Dikdasmen Muhammadiyah
MAKASSAR — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti menyampaikan empat pesan penting saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen-PNF) PP Muhammadiyah di Hotel Four Points Makassar, Jumat (13/2/2026). Keempat pesan itu menegaskan arah penguatan sekolah Muhammadiyah agar lebih substantif, kolaboratif, dan berdampak nyata.
Di hadapan Pengurus Majelis Dikdasmen-PNF Muhammadiyah se-Indonesia, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa forum nasional tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus menghasilkan kerja nyata yang terukur.
*Rakernas Harus Melahirkan Kerja Nyata*
Pesan pertama yang ditekankan Abdul Mu’ti adalah pentingnya tindak lanjut konkret setelah forum berakhir. Ia mengingatkan agar Rakernas tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan dokumentasi kegiatan.
Menurut dia, semangat dan gagasan besar yang mengemuka selama forum harus diterjemahkan dalam rencana aksi yang dijalankan di daerah. Keberhasilan Rakernas, tegasnya, bukan diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari program yang benar-benar berjalan dan memberi dampak pada sekolah.
Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian organisasi yang berhenti pada laporan administratif dan unggahan dokumentasi, tanpa memastikan keberlanjutan program.
*Perkuat Sinergi Pemerintah dan Muhammadiyah*
Pesan kedua berkaitan dengan pentingnya sinergi antara Kemendikdasmen dan Majelis Dikdasmen-PNF Muhammadiyah sebagai mitra strategis. Abdul Mu’ti menilai Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan yang luas dan pengalaman panjang dalam mengelola sekolah.
Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi kunci dalam memperluas akses serta meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah.
Ia menegaskan, tantangan pendidikan nasional tidak bisa diatasi oleh pemerintah sendiri. Diperlukan dukungan dan partisipasi aktif organisasi kemasyarakatan untuk mempercepat perbaikan kualitas layanan pendidikan.
*Jadikan Forum sebagai Ruang Berbagi Praktik Baik*
Pesan ketiga adalah menjadikan Rakernas sebagai ruang saling menginspirasi dan berbagi praktik baik. Abdul Mu’ti mendorong peserta untuk memanfaatkan forum nasional sebagai sarana konsolidasi pengalaman dan inovasi yang telah berhasil diterapkan di daerah.
Menurut dia, berbagi praktik baik antarwilayah dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan. Sekolah yang telah berhasil dalam tata kelola, penguatan literasi, atau inovasi pembelajaran dapat menjadi rujukan bagi daerah lain.
Dengan demikian, Rakernas tidak hanya menjadi forum perumusan kebijakan, tetapi juga wahana pertukaran gagasan dan solusi konkret terhadap persoalan pendidikan di lapangan.
*Fokus pada Substansi, Bukan Seremonial*
Pesan keempat menyentuh aspek budaya organisasi. Abdul Mu’ti mengingatkan agar kegiatan seremonial tidak mendominasi agenda kerja. Ia menilai seremoni tetap penting, tetapi tidak boleh mengurangi fokus pada kerja substantif dan program berkelanjutan.
Secara tidak langsung, ia menekankan pentingnya indikator kinerja yang jelas dan terukur. Keberhasilan organisasi pendidikan, menurut dia, harus dinilai dari capaian program dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, bukan dari frekuensi kegiatan formal.
Penegasan ini menjadi refleksi bagi pengelola sekolah Muhammadiyah untuk memperkuat tata kelola, menyusun target yang terukur, serta memastikan setiap program memiliki hasil yang dapat dievaluasi.
Rakernas Majelis Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah 2026 membahas penguatan tata kelola, peningkatan mutu, serta kolaborasi strategis dalam membangun sistem pendidikan yang berkemajuan.
Melalui empat pesan tersebut, Abdul Mu’ti berharap sekolah Muhammadiyah semakin kokoh sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nasional, tidak hanya kuat secara tradisi, tetapi juga unggul dalam implementasi dan kinerja nyata di lapangan.