------
Sabtu, 07 Februari 2026
Haedar Nashir: Saya Ketum PP Muhammadiyah,
Saya Alumni IPM
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir tampil dengan pakaian
baju batik corak kuning dan juga songkok recca (songkok khas Sulawesi Selatan)
pada pembukaan Muktamar Ikatan Pelajar Muhmmadiyah (IPM) ke-24, di Balai Sidang
Muktamar 47 Kampus Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar, Jumat, 06
Februari 2026.
Sambil tersenyum ia mengatakan baru dua kali
memakai songkok recca di kepalanya. Pertama ketika Muktamar Muhammadiyah ke-47
dilangsungkan di Makassar tahun 2015, dan kedua pada Muktamar IPM ke-24 juga di
Makassar tahun 2026.
“Saya baru dua kali memakai pecis khas
Sulawesi Selatan ini. Di Muktamar Muhammadiyah dan di Muktamar IPM,” kata Haedar
yang langsung disambut tepuk tangan muktamirin dan undangan yang hadir.
Ia selanjutnya memberikan semangat kepada
pengurus dan kader IPM dengan mengatakan dirinya adalah Ketua Umum PP
Muhammadiyah dan dirinya dulu juga pengurus IPM.
“Saya Ketua Umum Pimpinan Pusat
Muhammadiyah, tetapi saya juga alumni IPM,” kata Haedar yang kembali disambut
tepuk tangan meriah, termasuk dari sejumlah pejabat yang hadir antara lain Menko
Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Wamen Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI)
Dzulfikar Ahmad Tawalla, Rektor Unismuh Makassar Dr Abd Rakhim Nanda, dan Ketua
Umum PP IPM Riandy Prawita.
Pejabat lain yang hadir yaitu Dirut Perum
Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, Anggota DPR RI Ashabul Kahfi, Muslimin Bando, Gubernur
Sulsel, Walikota Makassar Munafri Arifuddin, Bupati Maros Chaidir Syam, Bupati
Gowa Husniah Talenrang, Bupati Sidrap Syaharuddin Alrif, serta sejumlah pejabat
lainnya.
Haedar Nashir mengatakan, dirinya pernah
di Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Kelompok SMA Negeri 10 Bandung. IPM Cabang
Cibeding Kota Bandung tahun 1975-1977. Pimpinan Wilayah IPM Daerah Istimewa
Yogyakarta tahun 1981-1982, serta di Pimpinan Pusat IPM tahun 1983-1986.
“Kalau kalian memakai jas berwarna kuning
ini, itu pilihan saya ketika saya di PP IPM,” kata Haedar yang lagi-lagi disambut
tepuk tangan meriah dari muktamirin.
Ia menyebut istrinya, Siti Noordjannah
Djohantini (mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Aisyiyah), juga adalah produk
Ikatan Pelajar Muhamadiyah.
“Jadi kami ikut serta dalam perjalanan IPM,
tetapi ketika kita berada di rumah besar Muhammadiyah, IPM, Pemuda Muhammadiyah,
IMM, NA (Nasyiatul Aisyiyah), HW (Hizbul Wathan), Tapak Suci, semua melebur
menjadi satu kekuatan besar yang bernama Persyarikatan Muhammadiyah,” tandas
Haedar.
Ia juga mengingatkan pentingnya penguatan
nilai ideologis, tradisi ilmu, dan spirit pembaharuan dalam gerakan pelajar. Haedar
memandang IPM memiliki peran strategis membentuk karakter pelajar yang beriman,
berilmu, dan berakhlak, sehingga regenerasi kepemimpinan harus sejalan dengan
nilai-nilai Persyarikatan Muhammadiyah.
“IPM harus terus menjadi gerakan pelajar
yang berpijak pada iman, ilmu, dan amal, serta mampu memberikan kontribusi
nyata bagi umat dan bangsa,” tegas Haedar.
Muktamar, lanjutnya, bukan sekadar agenda
rutin, melainkan forum untuk melakukan evaluasi menyeluruh, menguatkan komitmen
kebersamaan, serta melahirkan keputusan yang berdampak bagi Persyarikatan
Muhammadiyah, umat, dan bangsa.
Dalam amanatnya, Haedar juga menyinggung
identitas IPM yang lekat dengan spirit literasi melalui semboyan: “Nuun wal
qolami wa maa yasthuruun”, yang artinya demi pena dan apa yang mereka tuliskan,
sebagai penegasan pentingnya kader pelajar membangun tradisi berpikir, ilmu,
dan pembaharuan.
Ia juga menuturkan pengalaman pribadinya
sebagai alumni IPM, yang menjadi pengingat bahwa kaderisasi adalah jalur
panjang pembentukan kepemimpinan, bukan sekadar pergantian posisi.
“Capaian dan kebanggaan organisasi akan kehilangan makna jika tidak dijaga dengan fondasi iman, amal, takwa, dan tauhid, serta dijalankan dengan kecakapan ilmu dan keahlian,” kata Haedar. (asnawin)
