-----
PEDOMAN KARYA
Senin, 16 Februari 2026
Majelis Taklim Bergembira Membersihkan Masjid dan Hati Menyambut Ramadhan
Dua hari menjelang Ramadhan, seusai shalat subuh berjamaah. Sejumlah ibu-ibu anggota Majelis Taklim Khadijah binti Khuwailid Kompleks Perumahan Bumi / Griya Pallangga Mas 1, Pallangga, Gowa, tidak langsung beranjak meninggalkan masjid.
Tanpa komando, tanpa aba-aba, mereka langsung bergerak. Seolah sudah ada kesepahaman yang terbangun lama di antara mereka tentang apa yang perlu dilakukan.
Ada yang menyapu lantai masjid hingga ke sudut-sudutnya. Ada yang mengelap kaca jendela dan kaca pintu agar kembali bening. Ada yang melipat dan merapikan sajadah, mukena, serta sarung, lalu menyusunnya rapi di lemari.
Sebagian lainnya menyapu halaman masjid, membersihkan daun-daun kering yang gugur, membersihkan tempat wudhu. Semua dikerjakan dengan tenang, penuh kesadaran, dan keikhlasan.
Pagi itu terasa berbeda. Kerja bakti berlangsung bukan dalam suasana terburu-buru, melainkan dalam kegembiraan. Mereka bekerja sambil bercanda. Sesekali terdengar tawa lepas yang memecah keheningan subuh.
Ada rasa bergembira menyambut Ramadhan yang begitu terasa, hadir dalam senyum, obrolan ringan, dan kebersamaan yang hangat. Lelah seolah tak menjadi beban karena dikerjakan bersama.
Sebagian bapak-bapak yang juga usai menunaikan shalat subuh berjamaah tampak duduk-duduk di teras samping masjid. Mereka menyimak dari kejauhan, sesekali tersenyum, memberi semangat dengan kehadiran dan sapaan ringan.
Tanpa banyak kata, tercipta suasana saling mendukung antara jamaah, laki-laki dan perempuan, dalam menyiapkan rumah Allah menyambut bulan suci.
Apa yang dilakukan ibu-ibu Majelis Taklim pagi itu sesungguhnya bukan hanya tentang membersihkan masjid secara fisik. Di balik sapu, lap, dan lipatan sajadah, ada pesan yang lebih dalam: persiapan Ramadhan juga berarti membersihkan hati.
Menyapu lantai seolah mengingatkan untuk menyapu debu-debu prasangka. Mengelap kaca jendela serupa upaya menjernihkan pandangan. Merapikan perlengkapan ibadah menjadi isyarat merapikan niat, agar ibadah di bulan Ramadhan dijalani dengan ketulusan.
Cukup lama mereka bekerja. Hingga akhirnya, ketika pekerjaan dirasa cukup, ibu-ibu itu pun berkumpul. Teh hangat disuguhkan. Lelah perlahan sirna, digantikan rasa lega dan bahagia. Seperti biasa, canda dan tawa kembali mengalir. Obrolan ringan tentang keluarga, kegiatan Majelis Taklim, dan rencana Ramadhan mengisi pagi yang kian terang.
Di momen sederhana itulah denyut kehidupan masjid terasa begitu nyata. Ibu-ibu Majelis Taklim mungkin jarang tampil di mimbar atau struktur formal kepengurusan, tetapi perannya sangat menentukan. Dari tangan-tangan mereka, masjid menjadi bersih dan nyaman. Dari kebersamaan mereka, masjid menjadi hangat dan hidup.
Bergembira menyambut Ramadhan sambil membersihkan masjid dan hati, itulah pelajaran berharga dari pagi itu. Bahwa memakmurkan masjid tidak selalu harus dengan program besar dan rapat panjang, tetapi bisa dimulai dari kerja sunyi, kebersamaan, dan keikhlasan yang dilakukan dengan penuh cinta. (asnawin aminuddin)

