Mendikdasmen: Tantangan Pendidikan Nasional Tidak Bisa Diatasi oleh Pemerintah Sendiri

Mendikdasmen Prof Dr Abdul Mu’ti memberikan sambutan pada Rakornas Majelis Dikdasmen & PNF PP Muhammadiyah, di Hotel Four Points Makassar, Jumat, 13 Februari 2026. (Foto: Humas Unismuh Makassar)   

 

----

Sabtu, 14 Februari 2026

 

Mendikdasmen: Tantangan Pendidikan Nasional Tidak Bisa Diatasi oleh Pemerintah Sendiri

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Prof Dr Abdul Mu’ti menyampaikan pentingnya sinergi antara Kemendikdasmen dan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen-PNF) Muhammadiyah sebagai mitra strategis.

“Muhammadiyah memiliki jaringan pendidikan yang luas dan pengalaman panjang dalam mengelola sekolah. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah menjadi kunci dalam memperluas akses serta meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah,” kata Abdul Mu’ti.

Hal itu ia sampaikan saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Non-Formal (Dikdasmen & PNF) PP Muhammadiyah di Hotel Four Points Makassar, Jumat, 13 Februari 2026.

“Tantangan pendidikan nasional tidak bisa diatasi oleh pemerintah sendiri. Diperlukan dukungan dan partisipasi aktif organisasi kemasyarakatan untuk mempercepat perbaikan kualitas layanan pendidikan,” kata Abdul Mu’ti.

Di hadapan Pengurus Majelis Dikdasmen-PNF Muhammadiyah se-Indonesia, Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa forum nasional tidak boleh berhenti pada seremoni, melainkan harus menghasilkan kerja nyata yang terukur.

“Perlu tindak lanjut konkret setelah forum berakhir. Rakornas tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan dokumentasi kegiatan,” kata Abdul Mu’ti.

Menurut dia, semangat dan gagasan besar yang mengemuka selama forum harus diterjemahkan dalam rencana aksi yang dijalankan di daerah. Keberhasilan Rakornas, tegasnya, bukan diukur dari kemeriahan acara, melainkan dari program yang benar-benar berjalan dan memberi dampak pada sekolah.

Pernyataan itu sekaligus menjadi kritik terhadap kecenderungan sebagian organisasi yang berhenti pada laporan administratif dan unggahan dokumentasi, tanpa memastikan keberlanjutan program.

Mendikdasmen berharap Muhammadiyah menjadikan Rakornas sebagai ruang saling menginspirasi dan berbagi praktik baik. Abdul Mu’ti mendorong peserta untuk memanfaatkan forum nasional sebagai sarana konsolidasi pengalaman dan inovasi yang telah berhasil diterapkan di daerah.

Menurut dia, berbagi praktik baik antarwilayah dapat mempercepat pemerataan mutu pendidikan. Sekolah yang telah berhasil dalam tata kelola, penguatan literasi, atau inovasi pembelajaran dapat menjadi rujukan bagi daerah lain.

“Dengan demikian, Rakornas tidak hanya menjadi forum perumusan kebijakan, tetapi juga wahana pertukaran gagasan dan solusi konkret terhadap persoalan pendidikan di lapangan,” kata Abdul Mu’ti.

Ia juga memesankan aspek budaya organisasi, bahwa kegiatan seremonial tidak mendominasi agenda kerja. Ia menilai seremoni tetap penting, tetapi tidak boleh mengurangi fokus pada kerja substantif dan program berkelanjutan.

Indikator kinerja, katanya, harus jelas dan terukur. Keberhasilan organisasi pendidikan, menurut dia, harus dinilai dari capaian program dan dampaknya terhadap kualitas pembelajaran, bukan dari frekuensi kegiatan formal.

Rakornas Majelis Dikdasmen-PNF PP Muhammadiyah 2026 membahas penguatan tata kelola, peningkatan mutu, serta kolaborasi strategis dalam membangun sistem pendidikan yang berkemajuan.

Melalui empat pesan tersebut, Abdul Mu’ti berharap sekolah Muhammadiyah semakin kokoh sebagai bagian dari ekosistem pendidikan nasional, tidak hanya kuat secara tradisi, tetapi juga unggul dalam implementasi dan kinerja nyata di lapangan. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama