![]() |
Muhammad Said Welikin (paling kanan) bersama Asnawin Aminuddin (tengah) dan Hasdar Sikki. |
-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 04 Februari 2026
In Memoriam:
Said Welikin: Naluri Wartawan Susah
Dibendung
Muhammad Said Welikin lahir dan besar di
Kota Tual, Provinsi Maluku. Ia kemudian merantau ke Papua, sebelum akhirnya
hijrah ke Makassar. Di kota ini, ia sempat bekerja serabutan, hingga sebuah
pertemuan mengubah arah hidupnya: perkenalannya dengan Hasan Kuba.
Dari Hasan Kuba, pendiri sekaligus
Pemimpin Redaksi Tabloid LINTAS, Said Welikin menemukan panggilan hidupnya
sebagai wartawan. Ia memutuskan menekuni dunia pers, meski saat itu nyaris
tanpa bekal: tidak tahu membuat berita, tidak terbiasa menulis, bahkan belum
lancar mengetik.
“Awalnya dia bahkan tidak tahu mengetik.
Dia memulai mengetik dengan menggunakan dua jari, telunjuk kanan dan telunjuk
kiri,” kenang Hasan Kuba.
Namun semangat dan ketekunan Said Welikin
perlahan mengalahkan keterbatasan. Ia belajar tanpa lelah hingga akhirnya
lancar mengetik, lancar menulis, dan mantap menggeluti dunia jurnalistik.
Ia meninggalkan pekerjaan lamanya dan
total menjadi wartawan Tabloid Lintas, bersama Hasan Kuba dan Hasdar Sikki.
Belakangan, saya pun ikut bergabung di media tersebut.
Said Welikin dikenal menyukai liputan
investigatif, serta gemar mengangkat kisah-kisah orang kecil, kaum pinggiran,
dan mereka yang tertindas.
“Saya suka baca Majalah Tempo,” ujarnya
suatu ketika. Sebuah pengakuan yang mencerminkan seleranya pada jurnalisme yang
tajam dan mendalam.
Ia juga pernah mengikuti lomba penulisan
artikel berita dan keluar sebagai juara. Sebuah pencapaian luar biasa,
mengingat ia memulai karier jurnalistik dari nol, bahkan dari ketidaktahuan
cara mengetik.
Sebagai wartawan Tabloid Lintas, Said
Welikin menjadi anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sempat menjadi
pengurus PWI Sulawesi Selatan. Ia juga pernah menjadi pengurus PWI Kabupaten
Takalar saat organisasi tersebut dipimpin Maggarisi Saiyye Dg. Nyau.
Di luar dunia pers, ia aktif sebagai
Sekretaris Forum Diskusi Pusat Kajian Indonesia Timur Pelangi Nusantara yang
diketuai Arwan Tjahjadi. Forum ini beranggotakan berbagai tokoh lintas profesi,
akademisi, birokrat, politisi, pengusaha, hingga wartawan, dengan tujuan
mengawal, mengkritisi, sekaligus membantu pemerintahan Jokowi–JK, tanpa
diformalkan sebagai organisasi resmi.
Forum tersebut dihadiri antara lain oleh
Ishak Ngeljaratan, Arqam Azikin, Malik B. Masry, La Tunreng, Arwan Tjahjadi,
Jamil Misbach, Asnawin Aminuddin, dan Muhammad Arsan F. Sejumlah tokoh besar
Sulsel juga tercatat sebagai bagian dari forum ini, seperti Prof. Idrus A.
Paturusi, Prof. Qasim Mathar, Prof. Basri Wello, dan HM Alwi Hamu.
Pada 7 November 2013, Said Welikin membuat
blog berita Nalar News (https://nalar-news.blogspot.com/), yang memuat berita,
reportase, cerpen, serta artikel opini karyanya.
Ia juga aktif sebagai Kompasianer. Dalam
profilnya ia menulis: “Saya seorang wartawan di Makassar. Prinsip hidup,
berusaha memberikan yang terbaik.” Di Kompasiana, ia menulis setidaknya 21
artikel, salah satunya berjudul: “Surga Ada di Teluk Laikang.”
Setelah Tabloid Lintas berhenti terbit
secara cetak dan versi daringnya pun tidak berlanjut, Said Welikin beberapa
kali berpindah media. Melalui jaringan WhatsApp, ia kerap mengirimkan tautan
berita yang dimuat di sejumlah media daring, seperti jalurinfo.com,
wartasulsel.net, infofaktaterkini.com, merahputihku.com, radarnkri.id, dan
suaraselatan.com.
“Ada juga media yang memberi honor, tapi
kebanyakan tidak ada honornya,” katanya suatu waktu.
Meski demikian, pria kelahiran 15 Agustus
1960 ini tidak pernah meninggalkan profesinya. Wartawan adalah identitas yang
ia genggam hingga akhir hayat.
Muhammad Said Wellikin bin Yohanes
Wellikin wafat di Makassar pada Rabu, 04 Februari 2026. Sebelum berpulang, ia
mengalami sakit berkepanjangan. Penglihatan rabun, stroke, dan tidak lagi mampu
berjalan. Lebih banyak waktunya dihabiskan dengan berbaring dan beristirahat.
Namun kondisi fisik itu tidak pernah memadamkan naluri jurnalistiknya.
Pada 28 Juli 2025, ia masih sempat
mengirimkan saya sebuah tautan berita. Saya terkejut, karena ia telah lama
terbaring sakit. Saya membalas, “Wah, sudah bisa bikin berita.”
Ia menjawab, “Sering bikin berita. Naluri
wartawan susah dibendung.”
Pada 1 Agustus 2025, ia kembali
mengirimkan sebuah tautan berita. Dan itulah kiriman terakhir darinya.
Selamat jalan, saudaraku Said Welikin.
Engkau adalah wartawan sejati. Engkau tetap setia pada profesi ini meski sakit,
rabun, dan terserang stroke. Engkau mempertahankan jurnalisme hingga hembusan
napas terakhir. (asnawin aminuddin)

Terimakasih om sudah ceritakan sosok ayah saya yg tidak pernah dia cerita kan
BalasHapus