-----
Tiga Gedung Layanan Publik, Satu Arah Baru
Bulukumba
Di sela Rapat Paripurna DPRD Kabupaten
Bulukumba dalam rangka Hari Jadi ke-66 Bulukumba, Bupati Andi Muchtar Ali Yusuf
menorehkan tanda tangan di atas tiga prasasti. Sebuah simbol dimulainya babak
baru dalam layanan publik dan pembangunan daerah.
Peristiwa itu berlangsung di Ruang
Paripurna DPRD Kabupaten Bulukumba, 04 Februari 2026, saat peresmian Gedung
Ammatoa, Gedung Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas), dan Gedung Pusat
Jantung Terpadu RSUD H. Andi Sulthan Daeng Radja.
Momen tersebut disaksikan Staf Ahli
Gubernur Sulsel Bidang Ekonomi Kerakyatan, Since Erna Lamba, didampingi Wakil
Bupati Andi Edy Manaf serta pimpinan DPRD Bulukumba.
Namun, yang diresmikan bukan sekadar
bangunan. Di balik prasasti-prasasti itu, tersimpan gagasan besar tentang arah
pembangunan Bulukumba. Pembangunan yang menurut Bupati yang akrab disapa Andi
Utta, harus berkarakter dan berkelanjutan.
“Pembangunan tidak boleh hanya dimaknai
sebagai pembangunan fisik,” ujar Andi Utta dalam sambutannya. Baginya,
membangun berarti membentuk budaya, memperkuat peradaban, dan menumbuhkan nilai
hidup masyarakat—mulai dari kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, merawat
alam, hingga meneguhkan semangat hidup tertib dan saling menghargai.
Ia menekankan bahwa pembangunan
berkarakter juga berarti menjaga kualitas hubungan sosial, memperkuat
solidaritas, serta merawat nilai-nilai budaya Bugis-Makassar sebagai fondasi
identitas daerah.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa
pembangunan harus berpikir jauh ke depan, bukan sekadar mengejar hasil jangka
pendek. Setiap kebijakan, katanya, harus dirancang untuk memberi manfaat lintas
generasi, terutama bagi masa depan generasi muda Bulukumba.
“Inilah mengapa pembangunan Bulukumba
harus berlandaskan prinsip Prioritas, Tuntas, dan Berkualitas,” tegasnya.
Di balik visi tersebut, data menunjukkan
bahwa perekonomian Bulukumba terus bergerak ke arah yang lebih baik.
Pertumbuhan ekonomi daerah meningkat dari 4,11 persen pada 2023 menjadi 4,60
persen pada 2024, dengan proyeksi terus menguat di tahun-tahun berikutnya.
Dinamika ekonomi itu tercermin dari
pertumbuhan UMKM, meningkatnya perputaran uang di perbankan, serta tumbuhnya
kepercayaan masyarakat dan pelaku usaha. Namun, Andi Utta menegaskan bahwa
angka bukanlah tujuan akhir.
“Yang paling penting adalah sejauh mana
pertumbuhan itu benar-benar dirasakan oleh rakyat,” ujar Andi Utta.
Kemajuan Bulukumba juga tercermin dari
Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang terus meningkat. Dalam lima tahun
terakhir, IPM menunjukkan tren positif dan pada 2025 mencapai angka 75,26, naik
1,12 poin dari tahun sebelumnya. Sebuah peningkatan yang ditopang oleh kemajuan
di sektor kesehatan, pendidikan, dan ekonomi.
Berbagai capaian strategis turut
memperkuat arah tersebut, mulai dari pengembangan layanan kesehatan seperti
Perawatan Jantung Terpadu, Poli Jiwa, Perawatan Paru, serta Ruang Rawat Ibu dan
Anak, hingga pembangunan Labkesmas, peningkatan ruas jalan, serta pembangunan
Kantor Camat Ujung Loe dan Kantor Camat Kajang.
Bulukumba juga mencatat prestasi nasional
dengan menjadi salah satu dari 100 daerah penerima Bantuan Pembangunan Kampung
Nelayan Merah Putih, serta meraih sejumlah penghargaan seperti Opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP), penurunan stunting terbesar kedua secara nasional
(8,5 persen), dan penghargaan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING).
Rapat paripurna tersebut dipimpin oleh
Ketua DPRD Bulukumba Umy Asyiatun Khadijah, didampingi Fahidin HDK dan Syahruni
Haris, serta dihadiri unsur pemerintah provinsi, kepala OPD, tokoh masyarakat,
tokoh agama, dan pelaku usaha lokal.
Di atas kertas, tiga gedung itu mungkin hanya bangunan. Namun dalam narasi pembangunan Bulukumba, ia adalah penanda arah, tentang daerah yang tidak hanya bertambah usia sejak berdiri pada 04 Februari 1960, tetapi juga berusaha bertambah kualitas, karakter, dan harapan. (asnawin aminuddin)
