Hati-hati Penyakit FLU – Fitnah Melulu

 



PEDOMAN KARYA

Ahad, 15 Maret 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

Hati-hati Penyakit FLU – Fitnah Melulu

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta‘ala yang menjaga langit dan bumi dengan keadilan-Nya, dan menjaga kehormatan manusia dengan syariat-Nya. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, yang mengajarkan kepada umatnya agar menjaga lisan, karena lisan bisa menjadi sebab keselamatan, tetapi juga bisa menjadi sebab kehancuran.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal penyakit flu. Penyakit ini kelihatannya ringan, tetapi sangat mudah menular. Satu orang terkena flu, tidak lama kemudian satu rumah ikut terkena.

Namun dalam kehidupan sosial ada juga penyakit flu yang jauh lebih berbahaya dari flu biasa. Penyakit itu juga namanya  FLU, tapi singkatannya berbeda, yakni  Fitnah Melulu.

Penyakit ini merupakan penyakit lisan dan penyakit hati. Ketika seseorang terlalu mudah menyebarkan kabar yang belum jelas kebenarannya, ketika seseorang suka membesar-besarkan cerita tentang orang lain, ketika seseorang menjadikan gosip dan tuduhan sebagai bahan pembicaraan, maka saat itulah virus fitnah sedang menyebar.

Allah Subhanahu wa Ta‘ala telah mengingatkan dengan sangat keras dalam Al-Qur’an:

وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ

“Fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhan.” (QS. Al-Baqarah: 191)

Mengapa fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan? Karena pembunuhan merusak satu nyawa, tetapi fitnah bisa merusak kehormatan, persaudaraan, bahkan menghancurkan kehidupan banyak orang.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

كَفَىٰ بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang dianggap berdusta ketika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)

Artinya tidak semua yang kita dengar harus kita ceritakan kembali. Jika setiap kabar langsung kita sebarkan, maka tanpa sadar kita bisa menjadi penyebar fitnah.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Ada sebuah perumpamaan yang sangat sederhana tetapi dalam maknanya, yaitu kisah kelapa dan terong.

Suatu ketika seseorang membawa dua benda ke hadapan gurunya: sebuah kelapa dan sebuah terong.

Sang guru bertanya kepada murid-muridnya: “Menurut kalian, mana yang lebih kuat?”

Murid-murid menjawab: “Tentu kelapa, karena kulitnya keras.”

Lalu sang guru menjelaskan: Kelapa itu keras di luar, tetapi dalamnya putih dan bersih, sedangkan terong tampak halus dan lembut di luar, tetapi di dalamnya banyak biji kecil yang tersebar ke mana-mana.

Kemudian sang guru berkata: “Dalam kehidupan manusia ada dua jenis hati. Ada yang seperti kelapa dan ada yang seperti terong.”

Orang yang hatinya seperti kelapa, mungkin terlihat tegas di luar, tetapi hatinya bersih. Ia tidak suka menyebarkan keburukan orang lain.

Namun orang yang hatinya seperti terong, tampak baik di luar, tetapi di dalam hatinya banyak ‘biji-biji cerita’, sedikit melihat kesalahan orang lain, langsung disebarkan ke mana-mana.

Ma‘asyiral muslimin yang dirahmati Allah.

Fitnah sering lahir dari kebiasaan kecil seperti mendengar kabar tanpa memastikan, melihat sesuatu tanpa memahami, lalu menyebarkannya tanpa berpikir.

Padahal Allah telah memberikan pedoman yang sangat jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian seseorang membawa suatu berita, maka periksalah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Ayat ini mengajarkan kita prinsip penting dalam kehidupan yaitu tabayyun, yaitu memastikan kebenaran sebelum berbicara.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Hari ini di zaman media sosial, penyakit FLU ini, Fitnah Melulu, justru semakin mudah menyebar. Satu pesan dikirim, dalam beberapa detik bisa tersebar ke ratusan bahkan ribuan orang. Padahal kita tidak tahu apakah berita itu benar atau tidak.

Karena itu Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa keselamatan manusia sangat bergantung pada lisannya. Beliau bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

 “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa iman seseorang sangat terlihat dari cara ia menggunakan lisannya. Di zaman media sosial seperti sekarang, lisan tidak hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui tulisan, komentar, dan pesan yang kita kirimkan.

Setiap kalimat yang kita sebarkan bisa menjadi pahala jika membawa kebaikan, tetapi juga bisa menjadi dosa jika mengandung fitnah, gosip, atau tuduhan yang tidak benar. Karena itu seorang mukmin seharusnya selalu berpikir sebelum berbicara dan mempertimbangkan sebelum membagikan sesuatu.

Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini akan menyakiti orang lain? Jika tidak membawa kebaikan, maka sikap terbaik adalah menahan diri dan memilih diam, karena diam seringkali menjadi benteng yang menyelamatkan kita dari penyakit FLU, Fitnah Melulu, yang dapat merusak kehormatan orang lain dan juga merusak amal kita sendiri di hadapan Allah.

Ma‘asyiral muslimin yang dimuliakan Allah.

Mari kita jaga diri kita dari penyakit FLU: Fitnah Melulu. Jika kita mendengar kabar tentang seseorang, jangan langsung percaya, jangan langsung menyebarkan, dan jangan langsung menilai. Karena bisa jadi satu kalimat yang kita ucapkan hari ini akan menjadi penyesalan panjang di kemudian hari. Lebih baik kita menjadi seperti kelapa,  hati yang bersih dan tidak suka menebar keburukan.

Daripada menjadi seperti terong, yang sedikit melihat kesalahan langsung menyebarkan ke mana-mana. Semoga Allah menjaga lisan kita dari fitnah, menjaga hati kita dari prasangka buruk, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang selalu menebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama