-----
Ahad, 29 Maret 2026
Muhammadiyah dan NU Masing-masing Punya
Manhaj, Tak Perlu Ngotot Siapa Paling Benar
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA).
Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Al Khairat, dan organisasi kemasyarakatan
Islam lainnya masing-masing punya manhaj. Hal itu tidak bisa dihindari. Yang
harus dihindari adalah terjadinya pertengkaran dan perpecahan karena adanya
perbedaan manhaj tersebut.
“Nggak usah ngotot siapa yang paling benar.
Nggak usah ngotot siapa yang masuk surga,” kata Menteri Pendidikan Dasar dan
Menengah yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Abdul
Mu’ti, pada acara Syawalan Muhammadiyah Sulsel, di Halaman Pusat Dakwah
Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, Sabtu, 28
Maret 2026.
Acara Syawalan yang diadakan oleh Pimpinan
Wilayah Muhammadiyah Sulsel dihadiri Ketua PP Muhammadiyah Prof Irwan Akib, Anggota DPR RI Dr Ashabul Kahfi, Ketua
Muhammadiyah Sulsel Prof Ambo Asse, jajaran Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dan Aisyiyah
Sulsel, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, sejumlah bupati dan wali kota.
Juga hadir pimpinan daerah Muhammadiyah
dan ’Aisyiyah se-Sulawesi Selatan, pimpinan amal usaha Muhammadiyah, Rektor Perguruan
Tinggi Muhammadiyah – Aisyiyah, pimpinan organisasi otonom, serta warga dan
simpatisan Muhammadiyah dari berbagai daerah.
Abdul Mu’ti mengatakan, perbedaan bukan
alasan untuk mempertajam pertengkaran, melainkan kenyataan yang harus dikelola
dengan lapang, dijawab dengan adab, dan diarahkan pada perlombaan dalam
kebajikan.
“Muhammadiyah punya manhaj. NU juga punya
manhaj. Al Khairat dan organisasi lain punya manhaj, dan itu tidak bisa
dihindari. Kalau Allah menghendaki kamu dijadikan umat yang seragam, yang
semuanya sama, tetapi Allah hendak menguji kamu dengan apa yang telah diberikan
kepada kamu sekalian. Karena itu jalan keluarnya adalah fastabiqul khairat,
berlomba-lombalah kamu untuk menjadi yang terbaik,” ujar Mu’ti.
Mu’ti menolak kecenderungan menjadikan
perbedaan sebagai arena saling menegaskan siapa yang paling benar. Ia
mengingatkan agar umat tidak terjebak pada kebiasaan merasa paling lurus,
apalagi sampai menentukan siapa yang lebih layak masuk surga.
Dalam penjelasannya, soal-soal yang
berbeda itu berada dalam wilayah ijtihad, dan ijtihad, benar atau salah, tetap
mengandung nilai ikhtiar di hadapan Allah.
“Yang lebih berbahaya, justru mereka yang
memperkeruh suasana dan menjadikan perbedaan sebagai bahan bakar pertikaian,”
kata Mu’ti.
Mu’ti menguraikan bahwa sumber perbedaan
setidaknya ada tiga. Pertama, perbedaan yang bersifat alamiah atau bawaan,
seperti suku, ras, jenis kelamin, dan ciri-ciri fisik.
Kedua, perbedaan yang lahir dari
pemikiran, yakni cara membaca nash, memahami hadis, dan merumuskan metodologi
istinbath. Ketiga, perbedaan dalam tataran amaliah, ketika pemahaman bisa sama,
tetapi cara penerapannya berlainan.
“Tidak
semua perbedaan harus dibaca sebagai ancaman. Banyak di antaranya justru
merupakan fakta sosial yang harus diterima dengan lapang. Jangan ada yang merasa
diri lebih tinggi dari orang lain. Jangan mudah berprasangka buruk dan jangan memperolok
sesama,” kata Mu’ti.
Ia mengutip ayat-ayat Al Quran untuk
menegaskan bahwa persatuan hanya mungkin tumbuh jika orang berhenti merendahkan
kelompok lain dan berhenti memelihara suuzan (su’udzon, prasangka buruk).
Ketika prasangka buruk dibiarkan, maka prasangka buruk akan berkembang menjadi
iri, dengki, bahkan kebencian yang melahap kebaikan seperti api memakan kayu
bakar.
“Kita itu bisa bersatu kalau kita tidak
menempatkan diri kita ini lebih tinggi dari yang lain. Kita bangun pikiran yang
bersih. Kita bangun pikiran yang jernih. Sebab kalau kita selalu suudzon kepada
orang lain, nanti peningkatannya itu pada sikap hasad, iri, dengki kepada orang
lain,” kata Mu’ti. (asnawin)
