![]() |
| SOLUSI bagi Palestina dan Masjid Al-Aqsa ada pada kemampuan umat membangun kesatuan dan menggunakan segala potensinya untuk melawan kezholiman Zionist, baik yang berwajah Israel maupun Amerika. |
-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 25 Maret 2026
OPINI
Perang Iran vs Amerika dan Israel:
Momentum Persatuan Umat
Oleh: Shamsi Ali
Saya sebenarnya malas, atau mungkin tidak
peduli lagi bahkan apatis, dengan apa yang sedang terjadi di Timur Tengah.
Termasuk perang yang masih terus berlangsung antara Iran dan Israel dengan
dukungan penuh Amerika Serikat.
Selain memang tekad saya untuk tidak
terdiktraksi selama bulan Ramadhan, juga karena melihat sikap sebagian pemimpin
dunia Islam yang mengecewakan bahkan memalukan. Pemimpin yang saya maksud
mencakup pemimpin politik dan sebagian pemimpin agama.
Contoh terdekat barangkali yang masih
terngiang di benak banyak orang adalah pembentukan apa yang disebut “Dewan
Perdamaian” (Board of Peace) dan didukung oleh beberapa negara Muslim.
Alasannya? Biar suara dunia Islam semakin didengar. Bahkan sebagian mengklaim
BOP sebagai satu-satunya solusi untuk Gaza dan Palestina.
Realitanya? Tidak saja BOP itu mulai mati
suri di jalan. Kekerasan juga terus berlangsung, Tidak saja di Gaza, tapi di
seluruh bumi Palestina. Bahkan Masjid Al-Aqsa, rumah ibadah suci ketiga dunia
Islam ditutup selama Ramadhan. Sementara anggota BOP dari dunia Islam tak mampu
berbuat apa-apa bak terbelenggu tak berdaya.
Di tengah hebohnya pembentukan BOP yang dianggap “dewa penyelamat” Gaza dan Palestina, disusul dengan terbongkarnya kejahatan abad 21 terhadap wanita di bawah umur yang dikenal dengan “Epstein scandal”, dan ditengah negosiasi nuklir antara Iran dan Amerika yang ditengahi oleh Oman, tiba-tiba saja Israel dengan dukungan penuh Amerika menyerang Iran.
Akibatnya hampir 200 anak-anak perempuan
tewas. Beberapa pemimpin Iran juga meninggal dalam serangan itu, termasuk
pemimpin spiritual tertinggi Ali Khamenei dan Chief negotiator Ali Larijani.
Serangan Israel (anggota Istimewa BOP)
dengan dukungan penuh Amerika (Ketua seumur hidup BOP) it jelas nyata di depan
mata semua sebagai tindakan yang paradoksikal dengan apa yang dipropagandakan
sebagai “the spirit of Board Peace”.
Lebih jauh tindakan itu menginjak-injak
semua norma dan hukum internasional. Runyamnya lagi, tindakan dua negara itu
seolah biasa dan dunia menjadi diam. Anggota-anggota BOP, termasuk dunia Islam,
diam bahkan cenderung menyalahkan Iran karena menyerang balik Israel dan
pangkalan militer Israeli di berbagai negara tetangganya.
Serangan Israel dengan dukungan penuh
Amerika ke Iran ini jelas bukan karena kenyataan bahwa Iran mampu memproduksi
senjata nuklir. Nyatanya tidak ada indikasi sedikitpun yang menguakan jika
“uranium enrichment” Iran itu bertujuan memproduksi senjata nuklir. Bahkan
kalaupun tuduhan itu benar, Israel dan Amerika secara hukum international tidak
memiliki otoritas untuk menyerang negara berdaulat tanpa persetujuan Dewan
Keamanan PBB.
Banyak asumsi di balik dari serangan
unilateral itu. Dari eliminasi kemungkinan Iran memproduksi senjata nuklir, ke
ambisi menguasasi kekayaan alam Iran sebagai produsen minyak terbesar ketiga
atau keempat dunia, memblok pengaruh China dan Rusia di Timur Tengah, dan
seterusnya.
Tapi dari semua kemungkinan penyebab
serangan itu, hal yang paling pasti adalah serangan ini merupakan jalan untuk
memastikan bagi Israel untuk ekspansi demi mewujudkan apa yang menjadi impian
negara Zionis: Israel Raya dengan betdirinya the Kingdom of David di Jerusalem.
Mimpi Zionis global untuk mewujudkan
Israel Raya dengan Ibukota Jerusalem dan lebih khusus tegaknya kembali the
Temple of Solomon tersebut secara khusus ingin mengeliminir eksistensi masjid
Al-Aqsa yang diyakini telah menduduki rumah suci Sulaeman itu. Karenanya
serangan Israel ke Iran memiliki multi purposes (banyak tujuan).
Selain melemahkan semua yang dianggap
penghalang bagi terwujudnya Israel Raya, dan Iran dipandang sebagai ancaman
terbesar bagi Israeli saat ini. Juga untuk mengalihkan semua perhatian agar
rencana besar mereka untuk Gaza dan Palestina semakin tidak terdeteksi. Yang
paling runyam adalah rencana pengambil alihan masjid Al-Aqsa untuk selanjutnya
akan dihancurkan secara pelan dan systematis.
Momentum Persatuan Umat
Berkali-kali saya sampaikan terbuka bahwa
kemerdekaan Palestina dan pembebasan Jerusalem dan masjid Al-Aqsa tidak akan
pernah terwujud jika harapan itu ditumpukan pada kebaikan orang lain (non
Muslim).
Lebih mustahil lagi dan sangat menggelikan
ketika dunia Islam bermimpi Amerika (dan Israel) akan berbaik hati memberikan
jalan bagi Palestina untuk merdeka.
Pandangan saya ini memang nampak pesimis
dan serasa “mission impossible”, tapi dalam beberapa bulan saja fakta itu
terkuak di hadapan mata telanjang kita. Amerika dan Israel tidak punya niat
baik untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan Jerusalem / Masjid Al-Aqsa.
Dunia Islam saja yang sedang larut dalam mimpi indahnya.
Sebaliknya saya berkali-kali menyampaikan
keyakinan saya bahwa solusi bagi Palestina dan Masjid Al-Aqsa ada pada
kemampuan umat membangun kesatuan dan menggunakan segala potensinya untuk
melawan kezholiman Zionist, baik yang berwajah Israel maupun Amerika.
Israel terbukti lemah tanpa dukungan
Amerika. Dan Amerika terbukti goyah ketika ada kepentingannya yang tertahan,
khususnya dari dunia Islam. Jangankan dunia Islam bersatu. Satu negara saja
yang bernyali melawan Amerika bisa goyah.
Kita diingatkan bagaimana Saudi Arabia
suatu ketika di bawah raja peberani, Raja Faisal, mampu menggoncang
perekonomian Amerika.
Dan hari ini kita saksikan dengan
ditutupnya selat Hormuz oleh Iran cukup menggoncang perekonomian Amerika,
bahkan menggoncang posisi Trump dalam
konflik ini. Berkali-kali dia mengaku
jika dia salah kalkulasi tidak
meyangka Iran sekuat itu. Kini bahkan menyalahkan para pembantunya, termasuk
menantunya Jared Kushner, yang disebut telah mendorongnya untuk menyerang Iran.
Jika satu negara mampu menggoncang Amerika
yang disebut-sebut super power itu, apalagi jika dunia Islam mampu bersatu dan
mensinergikan potensi yang ada, khususnya di bidang energi, saya yakin Amerika
tidak akan semena-semena seperti saat ini. Bahkan sejujurnya harapan besar
Amerika saat ini adalah menyeret negara-negara Islam menyerang Iran. Syukur hal
itu belum terjadi sehingga Donald Trump cukup putus asa.
Barangkali hal lain yang bisa menyatukan
dunia Islam adalah kenyaaan bahwa pemerintahan Donald Trump melalui Menteri
Perang (Menhan) secara terbuka mengatakan bahwa perang ini adalah perang
melawan Islam, baik Sunni maupun Syiah.
Pernyataan ini harusnya ditangkap sebagai
signal jika Kristen ekstrimis yang mendominasi pemerintahan Donald Trump memang
memiliki mimpi yang sama: mempersiapkan Israel Raya untuk kembalinya “Al-Masih”
di akhir zaman ini.
Sedihnya, semua ini belum menyadarkan
dunia Islam. Bahkan tanpa malu-malu bergabung dengan mereka di BOP. Gila kan?
.....
Penulis Shamsi Ali adalah putra Kajang yang berdomisili di Kota New York, AS
