-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 22 Maret 2026
Ramadhan yang
Tertinggal dalam Diri
Oleh: Usman Lonta
Ramadhan telah berlalu. Ramadhan datang
dan pergi tanpa hiruk-pikuk perpisahan. Namun sesungguhnya, jika kita melakukan
renungan secara mendalam, sangat terasa bahwa yang pergi hanyalah waktunya.
Nilai-nilai Ramadhan tidak pernah benar-benar meninggalkan kita, justru kitalah
yang sering meninggalkannya.
Setiap tahun, Ramadhan datang sebagai
madrasah. Ramadhan mendidik tanpa memaksa, mengubah tanpa menggurui. Di
dalamnya, kita belajar mengendalikan diri, bukan karena tidak mampu, tetapi
karena memilih untuk taat.
Kita menahan lapar, padahal makanan
tersedia. Kita menahan amarah, padahal ada alasan untuk marah. Kita menahan
keinginan, padahal kesempatan terbuka lebar. Di situlah letak pelajaran paling
mendasar bahwa manusia ternyata mampu mengendalikan dirinya dalam keadaan
apapun.
Namun pertanyaan reflektif yang sering
muncul usai Ramadhan adalah mengapa kemampuan itu sering hilang setelah
Ramadhan berlalu?
Barangkali karena selama ini kita
memandang Ramadhan sebagai ritual waktu, bukan transformasi diri. Kita sibuk
memperbanyak ibadah, tetapi kurang memberi ruang bagi perubahan makna. Padahal,
inti dari seluruh latihan itu adalah membentuk kesadaran bahwa hidup ini selalu
berada dalam pengawasan Allah, bukan hanya di bulan suci Ramadhan.
Ramadhan juga mengajarkan empati, dengan
cara yang paling sunyi yaitu lapar. Dari lapar inilah kita tahu bahwa
kemiskinan bukan sekadar angka dalam statistik, tetapi kenyataan yang dirasakan
tubuh. Sayangnya, setelah Ramadhan, empati itu sering menguap. Kita kembali
pada rutinitas, pada angka-angka, pada kebijakan yang kadang jauh dari rasa
keadilan.
Di titik inilah, Ramadhan seharusnya tidak
berhenti sebagai pengalaman spiritual pribadi. Ramadhan harus naik kelas
menjadi kesadaran sosial, bahkan kesadaran struktural. Bahwa keberpihakan
kepada yang lemah bukan hanya urusan amal, tetapi juga urusan kebijakan. Bahwa
keadilan bukan hanya nilai moral, tetapi tanggung jawab kolektif.
Ramadhan juga melatih kejujuran. Kejujuran
tanpa saksi. Tidak ada orang yang tahu apakah seseorang benar-benar berpuasa,
kecuali dirinya dan Allah SWT. Oleh karena itu ketika seseorang tetap menjaga
puasanya, itu bukan karena takut kepada manusia, tetapi karena kesadaran batin.
Kesadaran semacam inilah fondasi integritas, sesuatu yang sangat mahal dalam
kehidupan sosial dan pemerintahan kita hari ini.
Seandainya nilai ini bertahan setelah
Ramadhan, maka penyalahgunaan wewenang akan terasa asing, manipulasi akan
terasa memalukan, sehingga kekuasaan akan dijalankan sebagai amanah, bukan
lisensi kemewahan.
Namun realitas sering berkata lain.
Ramadhan berakhir, dan banyak dari kita kembali pada pola lama. Seolah-olah
madrasah itu tidak pernah ada. Seolah-olah latihan itu hanya jeda, bukan
pembentukan karakter.
Padahal, sejatinya hidup seorang mukmin
adalah perjalanan dari satu Ramadhan ke Ramadhan berikutnya. Setiap tahun
adalah kesempatan untuk naik tingkat, bukan sekadar mengulang.
Dengan demikian, mungkin yang perlu kita
tanyakan bukanlah apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan, tetapi apa
yang tersisa nilai Ramadhan dalam diri kita hari ini?
Jika yang tersisa adalah kesabaran,
berarti Ramadhan berhasil. Jika yang tersisa adalah empati, berarti Ramadhan
membekas. Jika yang tersisa adalah kejujuran, berarti Ramadhan hidup dalam diri
kita.
Namun jika yang tersisa hanya kenangan,
maka kita perlu jujur mengakui, bahwa kita belum benar-benar sebagai pembelajar
dalam madrasah Ramadhan.
Ramadhan memang telah pergi, tetapi Ramadhan
meninggalkan jejak dalam hati, dalam pikiran, dan seharusnya dalam tindakan.
Tugas kita adalah menjaga jejak itu tetap hidup, hingga suatu hari nanti kita
dipertemukan kembali dengan bulan Ramadhan berikutnya. Wallahu a’lam bishawab
Sungguminasa, 22 Maret 2026
