Waspada Penyakit ASMA - Amat Suka Membuka Aib Sesama

Penyakit ASMA: Amat Suka Membuka Aib Sesama adalah salah satu penyakit hati yang bisa menjangkiti siapapun orangnya. Bahkan tidak terasa ketika terkena penyakit ini. Orang yang terkena penyakit ini merasa puas ketika menemukan kesalahan orang lain. Ia senang membicarakannya, menyebarkannya, bahkan terkadang menambah-nambahi ceritanya.    

 

-----

PEDOMAN KARYA

Sabtu, 14 Maret 2026

 

Kultum Ramadhan:

 

Waspada Penyakit ASMA - Amat Suka Membuka Aib Sesama

 

Oleh: Furqan Mawardi

(Muballigh Akar Rumput)

 

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘aalamin. Segala puji bagi Allah yang menutup aib hamba-hamba-Nya dengan rahmat-Nya. Andai Allah membuka semua kesalahan kita, niscaya tidak ada satu pun dari kita yang berani berjalan di muka bumi ini dengan kepala tegak.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, manusia paling mulia yang mengajarkan kepada umatnya akhlak menjaga kehormatan sesama.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Dalam dunia kesehatan kita mengenal penyakit asma, penyakit yang menyerang pernapasan dan membuat seseorang sesak. Namun dalam kehidupan sosial kita, ada juga penyakit yang tidak kalah berbahayanya, bahkan lebih berbahaya dari penyakit fisik. Penyakit itu bisa kita sebut ASMA: Amat Suka Membuka Aib Sesama.

Penyakit ini adalah salah satu penyakit hati yang bisa menjangkiti siapapun orangnya. Bahkan tidak terasa ketika terkena penyakit ini. Orang yang terkena penyakit ini merasa puas ketika menemukan kesalahan orang lain. Ia senang membicarakannya, menyebarkannya, bahkan terkadang menambah-nambahi ceritanya.

Padahal Islam mengajarkan sesuatu yang sangat berbeda yakni menutup aib saudara kita. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim)

Hadis ini sangat dalam maknanya. Ketika kita menutup aib orang lain, sebenarnya Allah sedang menyiapkan perlindungan untuk aib kita sendiri.

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Sebaliknya, orang yang suka membuka aib orang lain sebenarnya sedang membuka pintu kehinaan bagi dirinya sendiri. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman:

وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا

“Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.” (QS. Al-Hujurat: 12)

Ghibah sering dimulai dari kebiasaan membuka aib orang lain. Mulanya hanya cerita kecil, lalu menjadi bahan pembicaraan, kemudian berubah menjadi fitnah yang menyebar ke mana-mana.

Ma‘asyiral muslimin yang dimuliakan Allah.

Ada sebuah kisah yang sangat terkenal dalam tradisi para ulama tentang Nabi Musa ‘alaihissalam yang mengajarkan kita betapa berbahayanya membuka aib sesama.

Dikisahkan bahwa pada suatu masa terjadi kemarau panjang di kalangan Bani Israil. Hujan tidak turun berbulan-bulan. Tanah menjadi kering dan kehidupan menjadi sulit.

Akhirnya Nabi Musa mengajak kaumnya untuk keluar bersama-sama memohon hujan kepada Allah. Mereka berkumpul, berdoa dengan penuh harap, tetapi hujan tidak juga turun.

Kemudian Allah mewahyukan kepada Nabi Musa bahwa di antara mereka ada seseorang yang selama empat puluh tahun selalu bermaksiat kepada Allah, dan karena keberadaannya hujan tidak diturunkan.

Allah berfirman kepada Nabi Musa bahwa hujan akan turun jika orang tersebut keluar dari kerumunan itu. Nabi Musa berdiri dan menyampaikan hal itu kepada kaumnya. Namun tidak ada seorang pun yang berdiri atau keluar dari kerumunan.

Orang yang dimaksud ternyata mendengar perkataan itu. Ia sadar bahwa dirinya adalah orang yang selama ini bergelimang dosa, tetapi ia juga merasa malu jika harus berdiri dan diketahui oleh semua orang.

Akhirnya ia berdoa dalam hatinya: “Ya Allah, selama ini aku bermaksiat kepada-Mu selama puluhan tahun, tetapi Engkau menutup aibku. Janganlah hari ini Engkau membuka aibku di hadapan manusia. Aku bertaubat kepada-Mu.”

Tidak lama setelah doa itu, hujan pun turun dengan derasnya. Nabi Musa merasa heran. Ia bertanya kepada Allah: “Ya Allah, hujan sudah turun tetapi orang yang berdosa itu tidak keluar.”

Allah menjawab: “Wahai Musa, Aku menurunkan hujan karena orang itu telah bertaubat kepada-Ku. Dan Aku tidak membuka aibnya ketika ia bermaksiat, maka Aku juga tidak membuka aibnya setelah ia bertaubat.”

Subhanallah…. Saudaraku semua, kisah ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah sendiri menutup aib hamba-Nya, lalu bagaimana mungkin kita justru senang membuka aib saudara kita?

Ma‘asyiral muslimin rahimakumullah.

Imam Asy-Syafi‘i pernah memberikan nasihat yang sangat indah: “Barang siapa menasihati saudaranya secara sembunyi-sembunyi, maka ia benar-benar telah menasihatinya dan menghiasinya, tetapi siapa yang menasihatinya di depan orang banyak, maka ia telah mempermalukannya.”

Imam Al-Ghazali juga mengatakan bahwa salah satu tanda rusaknya hati adalah merasa nikmat ketika membicarakan kesalahan orang lain, padahal orang beriman sejati justru merasa sedih ketika melihat saudaranya terjatuh dalam kesalahan.

Ma‘asyiral muslimin yang dirahmati Allah.

Karena itu mari kita waspadai penyakit ASMA: Amat Suka Membuka Aib Sesama. Jika kita melihat kesalahan orang lain, jangan terburu-buru menyebarkannya, jangan menjadikannya bahan cerita, jangan menjadikannya bahan hiburan. Akan tetapi doakan, tutupi, dan jika perlu nasihati dengan cara yang terbaik.

Karena bisa jadi hari ini kita menutup aib orang lain, dan suatu hari nanti Allah menutup aib kita di hadapan seluruh manusia. Semoga Allah membersihkan hati kita dari penyakit membuka aib sesama, dan menggantinya dengan hati yang penuh kasih sayang, penuh empati, dan penuh keinginan untuk menjaga kehormatan saudara kita. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama