-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 22 April 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (35):
Abu Jahal
Ketakutan Saat Hendak Membunuh Rasulullah
Penulis: Abdul
Hasan Ali Al-Hasani An-Nadwi
Waktu terus berjalan.
Kegigihan dakwah Rasulullah ﷺ mulai berbuah, sedikit demi sedikit, para pemeluk
Islam mulai bertambah. Rumah Rasulullah yang kecil itu mulai terasa sempit.
“ Ya Rasulullah, alangkah
baiknya jika kita memindahkan tempat pertemuan ke rumahku,” usul Arqam,
“Rumahku cukup luas untuk menampung jumlah kita yang sudah puluhan orang. Lagi
pula, letaknya ada di puncak bukit. Orang-orang jahat tidak mudah mencapai
tempat itu untuk mengganggu kita.”
Rasulullah pun setuju. Oleh
karena itu, pertemuan setiap malam pun pindah ke rumah Arqam. Sebagian pemeluk
Islam waktu itu adalah orang-orang lemah, yaitu para budak, buruh, orang
miskin, perempuan-perempuan fakir, serta orang tertindas lain. Sisanya adalah
golongan orang terpelajar dan pedagang kaya.
Sebenarnya, kebanyakan
pedagang mulanya agak ragu. Bagaimana jika nanti ajaran baru ini menutup Mekah
dari rombongan saudagar dari tempat-tempat lain?
“Kalau demikian yang terjadi,
kita akan bangkrut,” ujar seorang pedagang.
Namun, keraguan itu ditepis
Rasulullah. Islam tidak akan menutup Mekah. Islam juga tidak akan mengubah
musim ziarah ketika justru banyak pedagang mancanegara berdatangan ke Mekah.
Islam tidak melarang semua itu.
Rasulullah mengatakan, hal
yang dilarang adalah (1) Menyembah berhala, (2) Menyerahkan persembahan dan
korban kepada bangsawan Quraisy, (3) Bertelanjang ketika thawaf di Ka’bah, (4)
Menyelenggarakan pelacuran, dan (5) Mengeluarkan kata-kata kotor dan tindakan
buruk lain saat melaksanakan ziarah
Rencana Para
Pemuka Quraisy
Setelah mendengar penjelasan
Rasulullah, para pedagang pun merasa lega. Kebanyakan mereka bukan pedagang
budak dan tidak menarik untung dari korban yang dipersembahkan untuk
bangsawan-bangsawan Quraisy. Iman mereka pun semakin kuat.
Melihat Islam semakin dicintai
para pengikutnya, para pembesar Quraisy pun menyusun rencana lain.
“Apa yang harus kita lakukan?”
teriak seorang pemuka Quraisy.
“Abu Bakar dan teman-temannya
terus membebaskan budak-budak kita! Tidak ada jalan lain, bunuh budak-budak itu
agar yang lain ketakutan!” usul yang lain.
“Tidak! Sumayyah telah
kubunuh, tapi itu tidak membuat yang lain takut. Cari saja cara yang lain!”
geleng Abu Jahal lemah.
Seorang pemuka Quraisy berdiri
cepat,
“Pukuli Muhammad sampai remuk!
Dengan demikian, wibawanya akan hancur dan pengikutnya pun bubar ketakutan!”
muncul sebuah usul.
“Keluarga Muhammad dari Bani
Hasyim pasti akan membelanya!” lengking yang lain.
“Siapa? Abu Thalib sudah
terlalu tua! Yang harus kita takuti dari Bani Hasyim adalah Hamzah! Namun,
engkau lihat sendiri, Hamzah sibuk berfoya-foya sendiri! Ia tidak peduli pada
nasib keponakannya itu! Pilihlah dua orang yang paling ditakuti di Mekah untuk
melaksanakan tugas ini!” sebuah usul lainnya.
Sejenak, orang-orang terdiam
sambil memandang berkeliling. Kemudian, seorang dari mereka menunjukkan jarinya
kepada pemuda bertubuh tinggi besar.
“Engkau, Umar bin Khattab!
Engkau dan Abu Jahal! Tidak ada orang lain yang berani melawan kalau kalian
memukuli Muhammad!” kata orang itu.
Orang-orang berseru,
“Setujuuu.”
“Sabar,” tiba-tiba seseorang
berseru, “Langkah awal bukanlah serangan fisik! Hancurkan dulu wibawanya! Saya
usulkan agar kita suruh para budak melempari Muhammad dan meneriakinya sebagai
pembohong, orang gila, dan tukang sihir!"
Usul itu disetujui. Mulai hari
itu, setiap Rasulullah melewati jalan-jalan di Mekah, para budak, para wanita
yang nasibnya justru sedang diperjuangkan Rasulullah, meneriaki beliau,
“Pembohong besar! Orang gila! Tukang sihir!”
Suara mereka keras dan tajam
layaknya orang sedang mengusir kucing yang masuk dapur. Kemudian, apa yang
terjadi jika Abu Jahal atau Umar mulai memukuli Rasulullah.
Kuda Jantan
Saat itu merupakan masa yang
berat bagi Rasulullah. Beliau pergi ke sebuah tempat yang teduh, berbaring di
atas batu, dan berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Tidak ada yang
lebih menyakitkan dibanding cacian dan celaan dari orang-orang yang justru
sedang diperjuangkan Rasulullah mati-matian.
Sementara itu, di depan
Ka’bah, Abu Jahal berkoar di depan teman temannya, “Aku bersumpah untuk
menghantam kepala Muhammad dengan sebuah batu ketika dia sedang sujud kepada
Tuhannya!”
Beberapa orang bersorak
memberi semangat, sedangkan yang lain saling pandang dengan terkejut. Itu
adalah sebuah tindakan kejam yang dapat menimbulkan kematian. Jika Muhammad
meninggal, Bani Hasyim pasti akan menuntut balas dan Mekah akan terpecah oleh
perang saudara.
Namun, Abu Jahal telah
mengucapkan sumpah yang tidak dapat ditarik lagi tanpa mencoreng mukanya
sendiri. Oleh karena itu, mereka memilih untuk mengamati apa yang terjadi
dengan dada berdebar-debar.
Kesempatan yang ditunggu Abu Jahal pun tiba. Saat itu, Rasulullah sedang shalat di depan Ka’bah. Ketika beliau sujud, Abu Jahal dengan cepat melangkah mendekat. Kedua tangannya yang menggenggam batu terangkat tinggi-tinggi, matanya menyala buas. Namun, ketika batu akan dihujamkan sekuat tenaga, mendadak Abu Jahal berbalik pergi. Batu di tangannya lepas dan wajahnya pucat ketakutan.
“Ada apa?” semua teman-temannya
bertanya kebingungan.
Dengan napas tersendat-sendat,
Abu Jahal berkata, “Demi Tuhan, di depanku tadi berdiri seekor kuda jantan.
Belum pernah aku menyaksikan seekor kuda jantan serupa itu. Kepala, tengkuk,
dan giginya sungguh mengerikan. Aku yakin dia akan menelanku seandainya batu
tadi kuhantamkan!”
Abu Jahal pergi cepat-cepat
untuk menenangkan diri. Orang-orang memandang Rasulullah dengan heran dan
takjub. Sementara itu, Rasulullah tetap melanjutkan shalat dengan khusyuk.
Wajah beliau begitu teduh dan tenteram. (bersambung)
