-----
PEDOMAN KARYA
Ahad, 05 April 2026
Kisah Nabi Muhammad SAW (32):
Dilempari Batu,
Kotoran dan Pasir, Rasulullah Tidak Membalas
Penulis: Abu Hasan
Ali An-Nadwi
Abu Thalib memanggil
Rasulullah dan berkata, “Muhammad, orang-orang Quraisy kembali datang padaku
dan mengatakan, 'Wahai Abu Thalib, engkau adalah orang terhormat dan terpandang
di kalangan kami. Oleh karena itu, kami meminta baik-baik kepadamu untuk menghentikan
keponakanmu itu, tetapi tidak juga engkau lakukan. Ingatlah, kami tidak akan
tinggal diam terhadap orang yang memaki nenek moyang kita, tidak menghargai
harapan-harapan kita, dan mencela berhala-berhala kita. Suruh diam dia atau
kami lawan dia hingga salah satu pihak nanti binasa!”
Abu Thalib memandang wajah
keponakannya lekat-lekat, hampir seperti memohon, lalu katanya, “Jagalah aku,
nak. Jaga juga dirimu. Jangan aku dibebani dengan hal-hal yang tidak dapat
kupikul.”
Rasullullah tertegun. Beliau
tahu, pamannya seolah sudah tidak berdaya lagi membelanya. Pamannya hendak
meninggalkan dan melepasnya.
Sementara itu, kaum muslimin
masih lemah dan belum mampu membela diri. Namun, semua diserahkan pada kehendak
Allah. Rasullullah bertekad untuk terus berdakwah. Lebih baik mati membawa iman
dari pada menyerah atau ragu-ragu.
Oleh karena itu, dengan
seluruh kekuatan jiwa, Rasulullah berkata, “Paman, demi Allah, kalau pun mereka
meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku
meninggalkan tugas ini, sungguh tidak akan kutinggalkan. Biar nanti Allah yang
akan membuktikan apakah kemenangan itu ada di tanganku atau aku binasa
karenanya.”
Begitulah kedahsyatan iman
Rasulullah. Abu Thalib sampai tertegun dan gemetar mendengar tekad keponakannya
itu. Rasulullah pergi sambil menitikkan air mata, tetapi Abu Thalib
memanggilnya kembali sambil berkata, “Anakku katakanlah sekehendakmu. Aku tidak
akan menyerahkan engkau apa pun yang terjadi.”
Utsman dan
Ruqayyah
Sore itu, Rasulullah pulang ke
rumah dengan hati yang sangat sedih. Seharian, beliau melihat para pengikutnya
disiksa. Betapa berat penderitaan orang-orang Muslim saat itu. Khadijah
menghampiri suaminya tercinta. Dihibur dan dikuatkannya kembali diri Rasulullah.
Tiba-tiba, pintu terbuka.
Ruqayyah, putri kedua Rasulullah, tiba-tiba masuk sambil menangis. Ruqayyah
mendekap pangkuan ibunya sambil menangis tersedu-sedu.
“Ada apa, sayang?” tanya
Khadijah begitu lembut, menutupi kekhawatirannya sendiri akan berita buruk yang
dibawa putrinya itu.
“Suamiku menceraikan aku,
bunda. Ayah mertuaku, Abu Lahab, menyuruh suamiku menceraikan aku dan suamiku
menurut. Ia dijanjikan akan dinikahkan kembali dengan putri bangsawan,” isak
Ruqayyah.
Rasulullah dan Khadijah saling
bertatapan sedih. Sudah sekejam itu Abu Lahab bertindak untuk menyakiti
Rasulullah dan keluarganya.
“Ummu Jamil, ibu mertuaku,
merobek-robek bajuku,” lanjut Ruqayyah pilu.
Dia melanjutkan, “Abu Lahab
memukuliku. Abu Lahab, Ummu Jamil, dan suamiku, Utbah, bersumpah tidak akan
menerima lagi kehadiranku selama ayah masih tetap mendakwahkan Islam.”
Seberapa pun tabahnya
Khadijah, akhirnya air matanya menitik juga melihat putrinya yang kini menjadi
orang terusir. Dengan lembut, Rasulullah memeluk putrinya itu dan menghapus air
mata di pipinya.
“Aku lebih sayang ayah dan
bunda dari pada siapa pun di dunia ini,” bisik Ruqayyah kepada Rasulullah.
Dengan hati pilu, Rasulullah
pergi menemui Abu Bakar. Rasulullah menceritakan kejadian yang menimpa
Ruqayyah.
“Ya, Rasulullah,” kata Abu
Bakar dengan lembut, “Sebenarnya, dari dulu, Utsman bin Affan sudah menaruh
hati pada Ruqayyah, tetapi Utbah mendahuluinya. Utsman sangat menyesal tidak
dapat menyunting putri Anda.”
Mendengar penuturan Abu Bakar,
Rasulullah pun kemudian menikahkan Utsman dengan Ruqayyah. Untuk sementara,
berakhir satu kesedihan.
Masih banyak lagi cobaan dan
ujian lain yang akan mendera Rasulullah, keluarga, dan para sahabatnya.
Duri-duri di Jalan
Gangguan Ummu Jamil dan Abu
Lahab semakin menjadi jadi. Setiap kali Rasulullah ﷺ berjalan untuk menemui
para pengikutnya, setiap itu pula beliau menemukan duri-duri bertebaran di
jalan.
Perlahan dan berhati-hati,
Rasulullah ﷺ melangkah agar duri tidak menembus kakinya. Namun, hampir setiap
kali pula dalam keadaan itu, kotoran dan batu melayang ke arah beliau.
Suara tawa melengking
terdengar jika Rasulullah ﷺ tengah sibuk menghindari lemparan batu dan kotoran.
Sambil menghapus kotoran yang melekat di pakaian, Rasulullah menoleh ke arah
suara tawa.
Ummu Jamil dan Abu Lahab
kelihatan begitu menikmati penderitaan Rasulullah ﷺ. Ummu Jamil berpakaian
mencolok dan selalu menatap Rasulullah ﷺ dengan tatapan menghina.
“Lihat!” lengking Ummu Jamil,
“Inilah Muhammad, anak gembel yang berani membawa agama baru! Agama yang
dikiranya dapat menyamakan kedudukan para bangsawan dan budak!”
Rasulullah ﷺ tidak berkata
apa-apa untuk membalas. Beliau hanya balik menatap dengan tatapan yang tajam.
“Percuma kamu banyak berkata,
istriku! Telinganya sudah tuli!” sembur Abu Lahab.
Setelah itu, ia berteriak
kepada para budaknya, “Hai, para budak! Lanjutkan kesenangan kalian!”
Seketika itu juga, budak-budak
kuat bertubuh besar milik Abu Lahab dan Ummu Jamil kembali melempari Rasullulah
ﷺ dengan batu, kotoran, dan pasir. Diperlakukan seperti itu, Rasulullah ﷺ tidak
membalas sedikit pun. Beliau hanya menghindar, menahan sakit, seraya bersabar
dan terus bersabar. (bersambung)
