-----
PEDOMAN KARYA
Jumat, 24 April 2026
JK Bukan Sembarang
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Makna secara bebas dari diksi “orang
sembarangan” merujuk pada orang biasa saja. Istilah tersebut, sering digunakan
untuk menggambarkan tindakan asal-asalan, tidak terpilih atau tidak istimewa.
Sinonimnya meliputi sembrono atau gegabah,
sedangkan kebalikannya, adalah “bukan orang sembarangan” adalah orang
istimewa/terpilih menjadi salah satu tokoh atau pemimpin panutan.
Tepatnya hari Ahad pukul 09:55, 19 April
2026, saya menggores JK akronim nama dari Jusuf Kalla dengan diksi;
....
“JK Bukan Tokoh Sembarang”
Para logika berkadar sewage, memang
sukanya berdagelan dengan berlumuruan ampas ceboan doang.
Sedikit dikit lapor, tidak lain, demi
saweran amplop gulita pelipur lara. Bertempur, guna bersensasi bongkar pasang
delictum retoris gaya siluman. Berhingga berklimaks gaya jos berdiksi
restoratif atau restorative justice di dalam mendaur dollar saja.
Dan itu semua, hendak ingin jadi harap
bertikung. Namun, seribu sayang JK bukanlah tokoh sembarang_
...
Lalu, sehari kemudian, tepatnya tanggal 20
April 2026, muncul lagi ringkasan tulisan dari THE OPINI di tautan Facebook,
dan saya kutip apa adanya berikut ini.
....
“JK Blak-blakan: ‘Minta Uang, Saya Tolak!’
— Siapa Bermain di Balik Isu Ini?”
Satu pernyataan, langsung mengguncang.
Jusuf Kalla akhirnya buka semua—dan yang muncul bukan sekadar bantahan.
👉
Ada permintaan uang. 👉
Ada upaya pertemuan. 👉
Dan semuanya… ditolak.
.....
Nama Rismon Sianipar muncul di tengah
pusaran ini. Bahkan, disebut datang dengan rombongan.
Pertanyaannya sekarang: Ini sekadar salah
paham? Atau memang ada sesuatu yang lebih besar?
JK bahkan memilih menjauh. Menolak
bertemu. Menolak terlibat. Bukan tanpa alasan—karena isu ini sudah menyeret
terlalu banyak nama. Dan ketika tuduhan muncul tanpa bukti, narasi berubah jadi
senjata.
The Opini: Ini bukan sekadar soal uang.
Ini soal siapa yang sedang memainkan isu… dan untuk tujuan apa (Sumber:
Kumparan DetikNews, Hashtag: #TheOpini #JusufKalla #IsuPolitik #OpiniPublik
)"
Sekalipun, opini publik memang beragam dan
boleh saja berbeda asumsi tentang fenomena yang terjadi. Perbedaan cara
pandang, tentu dianggap wajar saja dan penting disuarakan.
Berbeda Memang Penting
Mesti diakui memang kita terjadi, akibat
dari ragam perbedaan memang terciptakan. Tidak lain, guna diharmonikan sehingga
kita ada untuk saling menghargai.
Yakin atau tidak memang esensi akar
perbedaan juga menjadi dinamik kehidupan yang ber_magnit_an cinta atau benci
hingga menarik untuk dijejaki agar dituai rahmatan lil alamin.
Rahmat lil alamin yang diharapkan berbuah
ukhuwah atau persaudaraan guna saling menghargai satu sama lain untuk
bersemesta!
Sekalipun, batu atau beragam wujud sebagai
makhluk berlainan jenis jadi pilihan !
Yakin, memang "Allah SWT menciptakan
seluruh makhluk; manusia, hewan, tumbuhan, hingga benda
mati—berpasang-pasangan, seperti jantan-betina, malam-siang, dan
positif-negatif, untuk menunjukkan kebesaran-Nya dan agar manusia mengingat-Nya
(QS. Adz-Dzariyat: 49).
Maka berbeda memang penting, tetapi bukan
untuk sensasi sesatan nyata diperankan.
Ayat di atas, esensinya berhakikat tulen,
adalah demi kelestarian untuk saling melengkapi, dan menjadi dzikir sebagai
tanda dinamik akan kekuasaan Tuhan yang Maha luar biasa!
Juga durasi untuk mengingat kefanaan akan
sandiwara kehidupan yang bergurau berlebihan berhingga mautan kematian
dihadapan pun terlupakan!
Tentu, tidak mesti melupakan esensi akar
dari tujuan diciptakan Tuhan guna beratlas kepada tauhid kehidupan
sesungguhnya.
Tauhid Kehidupan
Memahami agama Tuhan, bukan menyulitkan.
Tetapi memang tidak lain, semata untuk memudahkan jalan kehidupan sehingga
berwujud "Baldatun toyyibatun warobbun ghofur". Berarti menggapai ;
negeri yang baik (aman, subur, makmur) dan Tuhan yang Maha Pengampun"_QS.
Saba': 15.
Berhingga menjadi pelita aras mata batin agar tak bergulitaan di dalam mencerahkan arah mata berlogika nyata guna menggapai tapak tilas _"Shiratal Mustaqim :jalan yang lurus"
Menggapai jalan berhingga "Irji'i ila Rabbiki Radhiyatam Mardhiyyah : Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya"_QS_Al-Fajr: 28.
Dan akhirnya bersalaman dengan husnul khotimah yang ber_"innalillahi wa innailaihi raajiuun: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali."
Semoga, menjadi hamba Tuhan yang sesungguhnya sebagai akhir dari pengabdian yang diabdikan jadi pilihan bertauhid kehidupan sehingga dapat bersalaman!
Bukan dengan sembarang saja hendak menyamaratakan orang untuk disawerin dengan jual dagelan lendiran untuk dijilatin kembali bah restorative justice kepada yang lain selama ini.
Tentu, tidak akan berlaku dengan JK, karena beliau bukan tokoh sembarangan yang bisa restoratif bermodalan lendiran kelam doangan. Wallahualam
