Makassar, Unik dan Rumit

Kota Makassar semula adalah wilayah kawasan Benteng Ujung Pandang (Benteng Pannyua). Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa IX, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallonna. (int)

 

-----

PEDOMAN KARYA

Rabu, 29 April 2026

 

Makassar, Unik dan Rumit

 

(Pengantar Diskusi Konteks Kewilayahan Kota Makassar dan Sekitarnya)

 

Oleh: Eddy Thamrin

(Cultural Practitioner, Writer, Editor)

 

Satu hari, Raja Tallo, I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka, berada di tepi pantai Tallo. Nun, tiba-tiba datang seorang lelaki bercahaya, menjabat tangannya. Kemudian di telapak tangan sang raja, lelaki itu menuliskan sesuatu: “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki yang sebentar lagi datang merapat di pantai.”

Lelaki misterius itu tiba-tiba gaib. Raja kaget, dikiranya mimpi. Tapi ternyata tulisan di telapak tangannya jelas masih kelihatan.

Raja buru-buru melihat ke arah pantai. Benar saja, ada perahu baru saja merapat. Dari perahu turun seorang ulama yang kemudian diketahui dari Minangkabau bernama Abdul Ma’mur Khatib Tunggal, selanjutnya dikenal sebagai Dato’ ri Bandang. Kepadanya Raja menceritakan kejadian aneh yang baru saja dialaminya, sambil menunjukkan tulisan di tangannya.

Dato’ ri Bandang bilang: “Berbahagialah Tuan. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat.” Beliau lanjut: yang menulis syahadat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Artinya Nabi telah menampakkan diri di Negeri Tallo.

Nah, dari peristiwa mistis itulah muncul frasa “Akkasaraki Nabbiya” = Nabi menampakkan diri. Ketika ditambah “ri Tallo”, di Tallo. Jadi lengkapnya: “Nabi menampakkan diri di Tallo.”

Jika mengacu pada Lontaraq bilang na Gowa-Tallo, Karaeng Matoaya Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo I Malingkaang Daeng Nyonri tercatat telah terlebih dahulu memeluk Agama Islam, dan mendapat gelar kesultanan, Sultan Abdullah Awalul Islam yang memeluk Islam pada  9 Jumadil-Awal 1014 H atau 22 September 1605 Masehi.

Dato' Ri Bandang mengislamkan Raja Gowa ke-XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alauddin (1593-1639), dan Mangkubumi I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka.

Kedua raja inilah pemeluk awal Agama Islam di Kerajaan Gowa, kemudian diikuti seluruh rakyatnya. Lalu pada 9 November 1607, digelar shalat Jumat pertama di Tallo. Tanggal tersebut kini dijadikan acuan peringatan Hari Jadi Kota Makassar, berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2000.

Tapi ada juga yang mengacu pada pendapat lain bahwa Hari Jadi Kota Makassar, justru sejak statusnya ditetapkan oleh pemerintah kolonial Belanda, sebagai Stadsgemente atau Kotapraja, Staatsblad  (Lembaran Negara) Nomor 176 Tahun 1906, mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906.

Lalu dimana Kawasan cikal bakal “Kota Makassar?”

Kota Makassar semula adalah wilayah kawasan Benteng Ujung Pandang (Benteng Pannyua). Benteng ini dibangun tahun 1545 oleh Raja Gowa IX, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' Kallonna.

Dinamai Benteng Pannynyua karena bentuknya unik mirip penyu merangkak ke arah laut. Awalnya benteng ini dibuat dengan bahan tanah liat dan kayu. Berbentuk segi empat, mirip arsitektur benteng Portugis. Berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai-biringkassi.

Kemudian bangunan benteng diperkuat Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin, dengan menggunakan batu padas, lapisan tanah keras atau batuan sedimen yang memiliki tekstur sangat padat dan menyerupai karang dari Pegunungan Karst Maros. Batu padat ini kaya akan silika dengan kandungan 70-95% dan sering digunakan dalam arsitektur. Itulah pusat "Kota Makassar" lama.

Di sekitar Benteng Ujung Pandang kemudian tumbuh sejumlah pemukiman, pasar, pertokoan dan pelabuhan Makassar. Pedagang asing yang datang berniaga menyebut seluruh kawasan ini; "Makassar". Jadi Benteng Ujung Pandang boleh dikata jantung Kota Makassar versi Kerajaan Gowa.

Setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya (Bongaaisch Contract) pada tahun 1667, Benteng Ujungpandang direbut Belanda dan menjadi pusat VOC di Timur Nusantara.  Namanya diubah namanya oleh Cornelis Speelman jadi menjadi Fort Rotterdam,- mengadopsi nama kota kelahiran Cornelis Spelman, Rotterdam. Cornelis Speelman memiliki jenjang karier panjang di VOC, berpuncak sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-14 (1681–1684)

Selanjutnya berkembang kawasan permukiman orang Eropa atau Belanda di Makassar pada masa kolonial yang menjadi cikal bakal kota tua Makassar. Wilayah itu disebut Stad Vlaardingen adalah kawasan elit yang juga berfungsi sebagai pusat niaga menggantikan kawasan benteng / kota Somba Opu, dan pelabuhan Mangallekana.

Cakupan kawasan wilayah ini ditandai dengan jalan lurus sejajar pantai, dimana ada bangunan rumah batu berkapur/cat putih, butik Eropa, dan rumah-rumah mewah. Lokasinya mencakup area sekitar Jalan Jenderal Ahmad Yani (dulu Hoggepad ) dipagar menggunakan batang kelapa atau bambu. Lalu ada Governours Laan atau jalan Balaikota.

Di sebelah utara Vlaardingen ada Chinese wyck-pecinaan, Kampung Melayu, Kampung Wajo, Pasar Butung dan kampung Arab. Luasnya sekira 25 km2. Lalu ke arah timur ke Pattunuang. Ke Selatan ke arah Kampung Beru.

Penduduk Kota Makassar antara tahun 1930-an sampai tahun 1961 jumlahnya meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa menjadi hampir 400.000. Data itu juga menyebutkan bahwa lebih daripada setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota.

Lalu berdasarkan data sensus penduduk tahun 1971, jumlah penduduk Kota Makassar (yang saat itu berubah nama menjadi Ujung Pandang) tercatat sebanyak 554.409 jiwa. Angka ini mencerminkan situasi kependudukan setelah perluasan wilayah kota dan perubahan nama yang diatur berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku saat itu. (bersambung)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama