-----
PEDOMAN KARYA
Rabu, 29 April 2026
Makassar, Unik dan Rumit
(Pengantar Diskusi Konteks Kewilayahan
Kota Makassar dan Sekitarnya)
Oleh: Eddy Thamrin
(Cultural Practitioner, Writer, Editor)
Satu hari, Raja Tallo, I Mallingkaang
Daeng Manyonri Karaeng Katangka, berada di tepi pantai Tallo. Nun, tiba-tiba
datang seorang lelaki bercahaya, menjabat tangannya. Kemudian di telapak tangan
sang raja, lelaki itu menuliskan sesuatu: “Perlihatkan tulisan ini pada lelaki
yang sebentar lagi datang merapat di pantai.”
Lelaki misterius itu tiba-tiba gaib. Raja
kaget, dikiranya mimpi. Tapi ternyata tulisan di telapak tangannya jelas masih
kelihatan.
Raja buru-buru melihat ke arah pantai.
Benar saja, ada perahu baru saja merapat. Dari perahu turun seorang ulama yang
kemudian diketahui dari Minangkabau bernama Abdul Ma’mur Khatib Tunggal,
selanjutnya dikenal sebagai Dato’ ri Bandang. Kepadanya Raja menceritakan
kejadian aneh yang baru saja dialaminya, sambil menunjukkan tulisan di
tangannya.
Dato’ ri Bandang bilang: “Berbahagialah
Tuan. Tulisan ini adalah dua kalimat syahadat.” Beliau lanjut: yang menulis
syahadat itu adalah Nabi Muhammad SAW. Artinya Nabi telah menampakkan diri di Negeri
Tallo.
Nah, dari peristiwa mistis itulah muncul
frasa “Akkasaraki Nabbiya” = Nabi menampakkan diri. Ketika ditambah “ri Tallo”,
di Tallo. Jadi lengkapnya: “Nabi menampakkan diri di Tallo.”
Jika mengacu pada Lontaraq bilang na
Gowa-Tallo, Karaeng Matoaya Mangkubumi Kerajaan Gowa-Tallo I Malingkaang Daeng
Nyonri tercatat telah terlebih dahulu memeluk Agama Islam, dan mendapat gelar
kesultanan, Sultan Abdullah Awalul Islam yang memeluk Islam pada 9 Jumadil-Awal 1014 H atau 22 September 1605
Masehi.
Dato' Ri Bandang mengislamkan Raja Gowa
ke-XIV I Mangngarangi Daeng Manrabia dengan gelar Sultan Alauddin (1593-1639),
dan Mangkubumi I Mallingkaang Daeng Manyonri Karaeng Katangka.
Kedua raja inilah pemeluk awal Agama Islam
di Kerajaan Gowa, kemudian diikuti seluruh rakyatnya. Lalu pada 9 November
1607, digelar shalat Jumat pertama di Tallo. Tanggal tersebut kini dijadikan
acuan peringatan Hari Jadi Kota Makassar, berdasarkan Perda Nomor 1 Tahun 2000.
Tapi ada juga yang mengacu pada pendapat
lain bahwa Hari Jadi Kota Makassar, justru sejak statusnya ditetapkan oleh
pemerintah kolonial Belanda, sebagai Stadsgemente atau Kotapraja,
Staatsblad (Lembaran Negara) Nomor 176
Tahun 1906, mulai berlaku pada tanggal 1 April 1906.
Lalu dimana Kawasan cikal bakal “Kota
Makassar?”
Kota Makassar semula adalah wilayah
kawasan Benteng Ujung Pandang (Benteng Pannyua). Benteng ini dibangun tahun
1545 oleh Raja Gowa IX, I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi'
Kallonna.
Dinamai Benteng Pannynyua karena bentuknya
unik mirip penyu merangkak ke arah laut. Awalnya benteng ini dibuat dengan
bahan tanah liat dan kayu. Berbentuk segi empat, mirip arsitektur benteng
Portugis. Berfungsi sebagai pusat pertahanan sekaligus pusat pemerintahan
Kerajaan Gowa yang terletak di pesisir pantai-biringkassi.
Kemudian bangunan benteng diperkuat Raja
Gowa ke-14 Sultan Alauddin, dengan menggunakan batu padas, lapisan tanah keras
atau batuan sedimen yang memiliki tekstur sangat padat dan menyerupai karang
dari Pegunungan Karst Maros. Batu padat ini kaya akan silika dengan kandungan
70-95% dan sering digunakan dalam arsitektur. Itulah pusat "Kota
Makassar" lama.
Di sekitar Benteng Ujung Pandang kemudian
tumbuh sejumlah pemukiman, pasar, pertokoan dan pelabuhan Makassar. Pedagang
asing yang datang berniaga menyebut seluruh kawasan ini; "Makassar".
Jadi Benteng Ujung Pandang boleh dikata jantung Kota Makassar versi Kerajaan
Gowa.
Setelah penandatanganan Perjanjian Bongaya
(Bongaaisch Contract) pada tahun 1667, Benteng Ujungpandang direbut Belanda dan
menjadi pusat VOC di Timur Nusantara.
Namanya diubah namanya oleh Cornelis Speelman jadi menjadi Fort
Rotterdam,- mengadopsi nama kota kelahiran Cornelis Spelman, Rotterdam.
Cornelis Speelman memiliki jenjang karier panjang di VOC, berpuncak sebagai
Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-14 (1681–1684)
Selanjutnya berkembang kawasan permukiman
orang Eropa atau Belanda di Makassar pada masa kolonial yang menjadi cikal
bakal kota tua Makassar. Wilayah itu disebut Stad Vlaardingen adalah kawasan
elit yang juga berfungsi sebagai pusat niaga menggantikan kawasan benteng /
kota Somba Opu, dan pelabuhan Mangallekana.
Cakupan kawasan wilayah ini ditandai
dengan jalan lurus sejajar pantai, dimana ada bangunan rumah batu berkapur/cat
putih, butik Eropa, dan rumah-rumah mewah. Lokasinya mencakup area sekitar
Jalan Jenderal Ahmad Yani (dulu Hoggepad ) dipagar menggunakan batang kelapa
atau bambu. Lalu ada Governours Laan atau jalan Balaikota.
Di sebelah utara Vlaardingen ada Chinese
wyck-pecinaan, Kampung Melayu, Kampung Wajo, Pasar Butung dan kampung Arab.
Luasnya sekira 25 km2. Lalu ke arah timur ke Pattunuang. Ke Selatan ke arah
Kampung Beru.
Penduduk Kota Makassar antara tahun
1930-an sampai tahun 1961 jumlahnya meningkat dari kurang lebih 90.000 jiwa
menjadi hampir 400.000. Data itu juga menyebutkan bahwa lebih daripada
setengahnya pendatang baru dari wilayah luar kota.
Lalu berdasarkan data sensus penduduk
tahun 1971, jumlah penduduk Kota Makassar (yang saat itu berubah nama menjadi
Ujung Pandang) tercatat sebanyak 554.409 jiwa. Angka ini mencerminkan situasi
kependudukan setelah perluasan wilayah kota dan perubahan nama yang diatur
berdasarkan peraturan pemerintah yang berlaku saat itu. (bersambung)
