------
PEDOMAN KARYA
Kamis, 09 April 2026
OPINI
Persetujuan Gencatan Senjata yang Rapuh Antara
Iran dan Israel (Amerika)
Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki*
Dalam beberapa hari terakhir ini
ketegangan benar-benar meninggi di berbebagai belahan dunia. Perang
Amerika-Israeli terhadap Iran telah memaksa dunia mengambil sikap karena dampak
ekonomi yang cukup parah.
Di Amerika sendiri harga minyak naik 100%,
yang secara langsung berdampak kepada harga berbagai kebutuhan dasar
masyarakat. Sangat wajar jika masyarakat Amerika pada akhir pekan lalu secara
serempak di berbagai kota-kota besar melakukan demonstrasi besar-besaran
menuntut agar Presiden Trump dimakzulkan. Konon ini adalah demo terbesar dalam
sejarah negara adi daya ini.
Demo anti Trump ini bukan baru. Dan
sebenarnya bukan juga sekedar karena keterlibatan Amerika dalam perang Israel
menyerang Iran. Sejak awal terpilihnya, Trump telah melakukan banyak hal yang
dianggap tidak sejalan dengan Konstitusi dan nilai-nilai Amerika (American
values (kebebasan dan keadilan untuk semua).
Berbagai kebijakan rasis yang dinilai anti
minoritas (non white) sangat terbuka. Hal itu secara gamblang dapat dilihat
pada kebijakan imigrasi yang tidak manusiawi. Namun kemuakan masyarakat
memuncak ketika kasus kriminal pelecehan kepada wanita-wanita di bawah umur
yang dikenal dengan “the Epstein Files” itu terbuka ke publik.
Sayangnya tuntutan masyarakat ini tidak
bisa ditindak lanjuti secara politik karena saat ini badan legislatif (Senate
dan Kongress) maupun yudikatif (Mahkamah Agung) masih didominasi oleh
Republikan yang umumnya loyalis Trump.
Mereka yang membelok dari Trump akan
diintimidasi dan cenderung dikriminalkan dengan bersenjatakan Kejaksaan Agung
(Department of Justice). Pada akhirnya memang Presiden Trump ingin menempatkan
diri sebagai “raja”, bertindak sesuai kehendaknya tanpa mempedulikan hukum. Wajar
saja jika tema demo akhir-akhir ini adalah menolak kerajaan (No King).
Saya tidak bermaksud membahas berbagai
kebijakan, apalagi karakter pribadi Trump yang ditengarai oleh sebagian sedang
mengidap “psychological disorder”. Hal sama yang sedang menimpa pemimpin dunia
di beberapa negara: yang mengalami ketidak stabilan mental (mental instability),
sehingga berbagai kebijakan yang diambilnya lebih mementingkan kepentingan
pribadi (senang dipuji) dan keluarga (membangun bisnis empire). Hal yang
terlihat pada apa yang disebut Board of Peace.
Board of Peace sesungguhnya bertujuan
terutama agar Trump terpilih sebagai penerima Nobel Perdamaian. Ambisi lama
dicurigai sebagai keinginan balas dendam dengan Obama yang menerima Nobel
Perdamaian sejak awal kepresidennya.
Perang Isral-Amerika ke Iran
Kalimat di atas mengandung dua hal
penting. Pertama, perang yang terjadi di Timur Tengah saat ini adalah perang
Israel terhadap Iran. Saya katakan demikian, karena sesungguhnya dorongan utama
di balik serangan itu adalah ambisi negara Zionis untuk melakukan ekspansi apa
yang disebut “The Great Israeli” (Israeli Raya).
Amerika, sebagaimana di beberapa negara
sebelumnya hanya dipakai untuk memenuhi hasrat dan ambisi Israel itu. Amerika
tidak mendapatkan kecuali kerugian baik secara ekonomi maupun citra di mata
dunia.
Kedua, perang ini secara mendasar bukan
perang yang diinginkan oleh Iran. Hanya saja selama ini dilabelkan dengan
kata-kata: “Iran war” (perang Iran). Padahal yang benar ada perang atau
serangan Israel (Israel aggression and war) terhadap Iran yang didukung
sepenuhnya oleh Amerika Serikat. Iran adalah pihak yang diserang (attacked) dan
dipaksa melakukan pembelaan diri (self defense).
Meminjam ayat Al-Quran: “telah diizinkan
mereka yang diperangi (untuk berperang) karena sesungguhnya mereka telah
dizholimi” (QS Al-Hajj: 39).
Perang Israel yang memaksa Amerika
menjalaninya telah membawa konsekwensi yang sangat buruk bagi Amerika, dan
dunia global secara keseluruan. Tidak saja masyarakat sipil yang terus
berjatuhan, dari Gaza, Ramallah dan kini bumi Persia, tapi terjadi goncangan
perekonomian dunia akibat menaiknya harga bahan bakar.
Di Amerika sendiri harga minyak yang
biasanya rata-rata kurang dari $3 per galon, kini naik menjadi $5 bahkan lebih.
Hal ini menyebabkan harga kebutuhan pokok masyarakat seperti beras, minyak
goreng, gula, dan seterusnya juga melonjak tinggi.
Sekali lagi, serangan Israel ke Iran
dengan dukungan penuh Amerika ini tidak memberikan keuntungan apapun bagi
Amerika dan dunia. Israel-lah yang
mencoba mengail keuntungan di balik perang ini. Tentu harapannya
serangan Amerika ke Iran ini berhasil melumpuhkan pertahanan Iran.
Kenyataannya Iran lebih kuat dari apa yang
mereka perkirakan. Dalam dua minggu peperangan Iran mampu menunjukkan kekuatan,
tidak saja pada bidang pertahanan, tapi juga pada strategi politik ekonomi
termasuk memblok selat Hormuz yang vital bagi perekonomian dunia.
Puncaknya dua hari kemarin Donald mencoba
memaksa Iran menyerah dan membuka Selat Hormuz dengan ancaman, sekaligus
pelecehan agama dengan mengucapkan: “Akan menghancurkan peradaban Iran dan
mengembalikan mereka ke zaman batu.”
Dia juga menambahkan: “segala puji untuk
Tuhan (alhamdulillah)”. Ungkapan yang dinilai oleh sebagian sebagai pelecehan
yang disengaja oleh Donald Trump.
Ancaman Trump itu ternyata tidak sama
sekali mampu menggertak Iran. Negara yang yang telah lama disanksi oleh Amerika
dan sekutunya itu tidak gentar. Bahkan dengan tegas membalas ancaman itu dengan
kesiapan menghadapi agresi Amerika dan Israeli. Sebaliknya justeru memaksa
Amerika untuk menerima 10 poin bagi terjadinya gencatan senjata sementara (dua
minggu).
Kesepuluh poin yang ditawarkan Iran adalah
sebagai berikut; 1). Non-Agresi: AS berkomitmen untuk tidak menyerang Iran. 2).
Kontrol Seliran Hormuz: Iran akan memiliki kontrol atas Seliran Hormuz, dengan
manajemen yang dikoordinasikan.
3). Penerimaan Pengayaan: AS menerima hak
Iran untuk memperkaya uranium. 4). Pencabutan Sanksi: AS akan mencabut semua
sanksi primer dan sekunder terhadap Iran. 5). Penghentian Resolusi PBB/IAEA:
Semua resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur IAEA akan dihentikan.
6). Kompensasi: Iran akan menerima
kompensasi untuk biaya rekonstruksi. 7). Penarikan Pasukan AS: Pasukan tempur
AS akan ditarik dari wilayah tersebut. 8). Penghentian Perang: Gencatan senjata
segera di semua front, termasuk Lebanon dan Yaman.
9). Tilak Ada Senjata Nuklir: Iran
berkomitmen untuk tidak mencari senjata nuklir. 10). Kebebasan Navigasi:
Menetapkan protokol untuk perjalanan aman melalui Seliran Hormuz.
Poin-poin yang ditawarkan Iran di atas
sangat jelas memperlihatkan soliditas Iran dalam pertahanan, baik secara
militer maupun diplomasi. Iran beda dari negara lain yang dengan sangat mudah
didikte dan akhirnya tersungkur bersujud mengikuti kemauan Amerika yang
merugikan negaranya. Posisi tegas Iran seharusnya menjadi contoh bagi negara
lain untuk tidak mudah kehilangan harga diri, ketakutan dengan ancaman Trump.
Gencatan Senjata yang Rapuh
Walaupun 10 poin itu diterima oleh Trump
dengan istilah “workable” (bisa dilaksanakan) saya melihat persetujuan gencatan
senjata selama dua pekan itu sangat rapuh dan rentan dikhianati.
Ada banyak alasan yang bisa disampaikan
mendukung hipotesis itu, tapi yang terpenting adalah keterlibatan langsung
Israel dalam perang ini. Bahkan sebenarnya otak dari perang ini adalah Israel.
Sepanjang sejarah yang kita ingat, Israel
adalah bangsa yang tidak pernah menepati janji. Mungkin kata yang lebih tegas
adalah Israel itu adalah bangsa pengkhianat. Dan karenanya sangat berat untuk
diyakini jika persetujuan tersebut memang murni ingin mengakhiri perang.
Kita jangan lupa serangan Israel ke Iran
bukan karena tuduhan yang dipaksakan selama ini kalau Iran mengembangkan
senjata nuklir. Apalagi karena ingin membawa kebebasan dan demokrasi untuk
bangsa Iran.
Semua itu hanya penghias bibir sebagai
“cover” niat jahat mereka untuk melumpuhkan semua negara yang dianggap
penghalang bagi terwujudnya “The Great Israel” (Israeli Raya).
Sangat tidak logis Israel akan menerima
Perjanjian yang jelas menguntungkan Iran. Kecurigaan saya Israel (dan Amerika)
menerima kesepuluh poin itu karena mereka memang sangat terdesak. Serangan Iran
ke Israel cukup serius fatal.
Apalagi dengan Iran menutup Selat Hormuz
menyadarkan Israel dan Amerika bisa menjadi pintu kejatuhan Trump. Resistensi masyarakat Amerika (dan Israel)
kepada Trump dan Natanyahu semakin tidak terkendalikan.
Karenanya gencatan senjata dua minggu ini
akan dicermati secara seksama oleh Iran dan dengan penuh kehati-hatian. Karena
boleh jadi ketika Selat Hormuz dibuka, pedagangan normal, harga minyak mulai
menurun, tiba-tiba saja Israel kembali menyerang Iran.
Tentu harapannya ketika itu negara-negara
yang berusaha dijadikan “korban” (Saudi, Emirates, Qatar) ikut membantu.
Akankah itu terjadi? Israel adalah bangsa pengkhianat yang telah kehilangan
rasa (sense). Itu terlihat jelas dengan prilakunya terhadap Gaza yang masih
terus dibom bahkan di tenda-tenda pengungsian warga yang tiada berdaya.
Intinya gencatan senjata saat ini perlu
disikapi dengan seksama: secercah harapan dalam kecemasan!
New York City, 8 April 2026
*Poetra Kajang Al-Nuyorki
