-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 14 Mei 2026
Amien Rais,
Presiden Hampa Premanisme
Oleh: Maman A. Majid Binfas
(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)
Goresan ini akan bermula dengan atlas
kemunculannya sehingga berdiksi, sebagaimana topiknya. Lebih kurang, setelah shalat
isya dan masih di atas sajadah, saya terbetik mengingat Gus Mus / KH Ahmad
Mustofa Bisri, salah seorang tokoh kharismatik.
Sekalipun, saya tak pernah berjumpa
langsung dengan beliau, namun hanya melalui media dan tulisannya saja. Tetapi,
koq tiba-tiba muncul dibenak saya, dan kemudian saya menggores diksi berikut
ini (Senin 19:08, 11 Mei 2026).
Gus Mus
Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif
PBNU // Tentu, akan lebih adem berkalam
Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif
PBNU //Tentu, tak akan apologis bersalam
Seandainya Gus Mus//mau menjadi lokomotif
PBNU // Tentu, akan lebih mencerahkan lagi
Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif
PBNU //Tentu, tak diragukan keteguhannya
Seandainya Gus Mus//mau menjadi lokomotif
PBNU //Tentu, titisan PBNU akan semakin berihtisar gemilang //tanpa penghalang
beraksara
...
Lantas, ketika saya membagi goresan
tersebut pada media online, di antaranya di dalam tautan Facebook, kemudian
muncul goresan yang membagi ocehan premanisme oleh si Hercules kepada Prof.
Amien Rais.
Adapun ocehan si Hercules "...
memperingatkan Amien Rais agar jangan berbicara sembarangan, seperti preman
pasar kepada mayor Teddy. Ucapan itu menanggapi pernyataan Amien Rais yang
menuduh Mayor tersebut yang punya perilaku yang menyimpang ... dan si Hercules
telah cuci tangan dari percikan darah .... " kurang lebih ocehannya.
Mungkin, percikan darahnya sendiri yang dimaksudkan dari ocehannya tersebut.
Awalnya, memang saya tak tertarik untuk
menggores, namun saya teringat kembali goresan mengenai "Hercules Bau
tanah_nya” di Pedoman Karya (Rabu, 14 Mei 2025).
Kemudian, saya dengan spontan menggores
diksi singkat berikut, tepatnya hari Senin, 20:58, 11 Mei 2026.
Hei, Hercules
Belum terlalu basi akan goresan saya
tentang Hercules ' bau tanah_nya' di media. Tentu, masih menyengat aroma
amisnya
Bahkan keamisannya//sehangat ocehan
Hercules dan juga akan segera hangus
kalau. gertak sambalisme kepada Prof.
Amien Rais //Boleh saja dicoba//bila berani !
...
Hercules Dan Prabowo
Konon, hubungan antara Hercules dan
Prabowo Subianto adalah hubungan loyalitas jangka panjang yang terjalin sejak
1998. Di mana preman Hercules, saat itu, pernah menjadi Tenaga Bantuan Operasi
(TBO) Kopassus, menganggap Prabowo sebagai sosok yang dihormati dan membela
Prabowo saat situasi politik terpuruk.
Memang diketahui, Hercules dikenal
memiliki hubungan dekat dengan Prabowo, sejak masa pendudukan Timor Timur.
Kedekatan antara keduanya disebut terjalin saat Prabowo masih aktif bertugas
sebagai perwira militer di wilayah tersebut hingga sekarang, di mana posisi
Hercules sebagai pendukung setia Prabowo melalui ormas GRIB Jaya yang
digarapnya.
Amien Rais dan Presiden Prabowo
Hubungan antara Amien Rais dan Prabowo
terentang jauh sejak tahun 1998 lalu, ketika masa pemerintahan Presiden
Soeharto sudah memasuki usia 'senja'.
Bahkan, Prabowo mengakui bahwa dirinya
pernah diperintahkan untuk mengejar dan menangkap Amien Rais karena menentang Soeharto.
Kemudian, pada Pilpres 2019, Amien Rais berperan aktif sebagai pendukung dan king
maker bagi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.
Lantas, kini setelah Prabowo menjadi
Presiden, muncul polemik otokritik yang tajam oleh Amien Rais, dan masih
menjadi perbincangan panas. Di mana pihak pemerintah dan pendukungnya merasa
diri dengan kesan mendasar yang kuat dalam memberikan kritik. Sementara pihak
Amien Rais terus menyoroti kedekatan posisi-posisi tertentu di dalam tubuh
pemerintahan dipimpin oleh Presiden Prabowo.
Lantas, apakah mungkin sebagian dari
publik masih percaya kepada Presiden Prabowo Subianto, bila polemik di
alamatkan kepadanya tetap dibungkam.
Manakala, dikesan masih bungkam, tentu
kesannya Presiden Prabowo kurang jantan untuk menghadapinya. Bila kesan masih
jantan, maka semestinya berani menghadapi dinamik polemik yang dialamatkan
kepadanya dengan terbuka sehingga tidak dikesankan memang begitu ada-nya.
Eloknya, Presiden Prabowo, tidak perlu
menggunakan bekingan premanisme yang hanya berlogika ampas ceboan amisan, dan
hal demikian justru akan berkesan reinkarnasi mewarisi dagelan ala Orde Baru/
Orba lagi.
Bukankah jejak kelam Orba karena salah
satu diantaranya, yakni digunakan otoriter gaya premanisme sehingga ditumbang
oleh arus gerakan reformasi yang di lokomotif oleh Amien Rais.
Meskipun, Amien Rais, sering mendapat
sorotan tajam, namun beliau masih terus aktif menyuarakan otokritiknya secara
jantan melalui saluran media sosialnya.
Bahkan Amien Rais, kini dijuluki oleh
publik netizen sebagai “laki-laki paling berani” atau lebih jantan dibanding
dengan yang lain di republik ini.
Bukan mungkin lagi, sejak Orba yang jadi
Presiden hingga sekarang, memang menggengam premanisme dan hanya Presiden BJ
Habibie yang hampa dari premanisme. Bahkan, Jenderal Prabowo yang host
menggenggam preman Hercules saat itupun dihempas oleh Presiden BJ Habibie.
Bagi, BJ Habibie, saat memimpin memang
tidak berlaku akan bentuk yang berlogika hanya beruas pada ampas ceboan saja.
Bagi Beliau dibutuhkan saat memimpin Indonesia, adalah logika cerdas, seperti
dibuktikannya dengan kualitas bersalaman benderang, sekalipun hanya lebih
kurang setahun menjadi Presiden.
Benderang
Sang Pelita Benderang akan terus berkibar
dan berjingga hingga tak terbendung
Tak mungkin akan redup dengan gulita
kerontang, sekalipun parang garong bergurita merongrong
Apalagi, kalau hanya dengan rongsongan
gorong gorong bertameng menggonggong
Juga raga jiwa melompong yang telah
melayang, dan sisa kerangka tubuh melompong nan melolong
Bagi Sang Pelita Benderang tak mungkin
terpancing dengan segala gelagat gulita rongsongan yang kini hanya bisa
melolong 'tuk segera berkalang
Jadi, kebenderangan Presiden BJ. Habibie
sehingga bisa bersalaman dengan lokomotif reformasi Amien Rais dan bersama
komponen yang bening saat itu, dikarenakan telah mampu menghampakan logika
ampas ceboan gaya premanisme melompong hingga karam. Wallahu a’lam.***
