Amien Rais, Presiden Hampa Premanisme

Hubungan antara Amien Rais dan Prabowo terentang jauh sejak tahun 1998 lalu, ketika masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah memasuki usia 'senja'. Bahkan, Prabowo mengakui bahwa dirinya pernah diperintahkan untuk mengejar dan menangkap Amien Rais karena menentang Soeharto.   

 

-----

PEDOMAN KARYA

Kamis, 14 Mei 2026

 

Amien Rais, Presiden Hampa Premanisme

 

Oleh: Maman A. Majid Binfas

(Sastrawan, Akademisi, Budayawan)

 

Goresan ini akan bermula dengan atlas kemunculannya sehingga berdiksi, sebagaimana topiknya. Lebih kurang, setelah shalat isya dan masih di atas sajadah, saya terbetik mengingat Gus Mus / KH Ahmad Mustofa Bisri, salah seorang tokoh kharismatik.

Sekalipun, saya tak pernah berjumpa langsung dengan beliau, namun hanya melalui media dan tulisannya saja. Tetapi, koq tiba-tiba muncul dibenak saya, dan kemudian saya menggores diksi berikut ini (Senin 19:08, 11 Mei 2026).

Gus Mus

Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif PBNU // Tentu, akan lebih adem berkalam

Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif PBNU //Tentu, tak akan apologis bersalam

Seandainya Gus Mus//mau menjadi lokomotif PBNU // Tentu, akan lebih mencerahkan lagi

Seandainya Gus Mus //mau menjadi lokomotif PBNU //Tentu, tak diragukan keteguhannya

Seandainya Gus Mus//mau menjadi lokomotif PBNU //Tentu, titisan PBNU akan semakin berihtisar gemilang //tanpa penghalang beraksara

...

Lantas, ketika saya membagi goresan tersebut pada media online, di antaranya di dalam tautan Facebook, kemudian muncul goresan yang membagi ocehan premanisme oleh si Hercules kepada Prof. Amien Rais.

Adapun ocehan si Hercules "... memperingatkan Amien Rais agar jangan berbicara sembarangan, seperti preman pasar kepada mayor Teddy. Ucapan itu menanggapi pernyataan Amien Rais yang menuduh Mayor tersebut yang punya perilaku yang menyimpang ... dan si Hercules telah cuci tangan dari percikan darah .... " kurang lebih ocehannya. Mungkin, percikan darahnya sendiri yang dimaksudkan dari ocehannya tersebut.

Awalnya, memang saya tak tertarik untuk menggores, namun saya teringat kembali goresan mengenai "Hercules Bau tanah_nya” di Pedoman Karya (Rabu, 14 Mei 2025).

Kemudian, saya dengan spontan menggores diksi singkat berikut, tepatnya hari Senin, 20:58, 11 Mei 2026.

Hei, Hercules

Belum terlalu basi akan goresan saya tentang Hercules ' bau tanah_nya' di media. Tentu, masih menyengat aroma amisnya

Bahkan keamisannya//sehangat ocehan Hercules dan juga akan segera hangus

kalau. gertak sambalisme kepada Prof. Amien Rais //Boleh saja dicoba//bila berani !

...

Hercules Dan Prabowo

Konon, hubungan antara Hercules dan Prabowo Subianto adalah hubungan loyalitas jangka panjang yang terjalin sejak 1998. Di mana preman Hercules, saat itu, pernah menjadi Tenaga Bantuan Operasi (TBO) Kopassus, menganggap Prabowo sebagai sosok yang dihormati dan membela Prabowo saat situasi politik terpuruk.

Memang diketahui, Hercules dikenal memiliki hubungan dekat dengan Prabowo, sejak masa pendudukan Timor Timur. Kedekatan antara keduanya disebut terjalin saat Prabowo masih aktif bertugas sebagai perwira militer di wilayah tersebut hingga sekarang, di mana posisi Hercules sebagai pendukung setia Prabowo melalui ormas GRIB Jaya yang digarapnya.

 

Amien Rais dan Presiden Prabowo

Hubungan antara Amien Rais dan Prabowo terentang jauh sejak tahun 1998 lalu, ketika masa pemerintahan Presiden Soeharto sudah memasuki usia 'senja'.

Bahkan, Prabowo mengakui bahwa dirinya pernah diperintahkan untuk mengejar dan menangkap Amien Rais karena menentang Soeharto. Kemudian, pada Pilpres 2019, Amien Rais berperan aktif sebagai pendukung dan king maker bagi pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Lantas, kini setelah Prabowo menjadi Presiden, muncul polemik otokritik yang tajam oleh Amien Rais, dan masih menjadi perbincangan panas. Di mana pihak pemerintah dan pendukungnya merasa diri dengan kesan mendasar yang kuat dalam memberikan kritik. Sementara pihak Amien Rais terus menyoroti kedekatan posisi-posisi tertentu di dalam tubuh pemerintahan dipimpin oleh Presiden Prabowo.

Lantas, apakah mungkin sebagian dari publik masih percaya kepada Presiden Prabowo Subianto, bila polemik di alamatkan kepadanya tetap dibungkam.

Manakala, dikesan masih bungkam, tentu kesannya Presiden Prabowo kurang jantan untuk menghadapinya. Bila kesan masih jantan, maka semestinya berani menghadapi dinamik polemik yang dialamatkan kepadanya dengan terbuka sehingga tidak dikesankan memang begitu ada-nya.

Eloknya, Presiden Prabowo, tidak perlu menggunakan bekingan premanisme yang hanya berlogika ampas ceboan amisan, dan hal demikian justru akan berkesan reinkarnasi mewarisi dagelan ala Orde Baru/ Orba lagi.

Bukankah jejak kelam Orba karena salah satu diantaranya, yakni digunakan otoriter gaya premanisme sehingga ditumbang oleh arus gerakan reformasi yang di lokomotif oleh Amien Rais.

Meskipun, Amien Rais, sering mendapat sorotan tajam, namun beliau masih terus aktif menyuarakan otokritiknya secara jantan melalui saluran media sosialnya.

Bahkan Amien Rais, kini dijuluki oleh publik netizen sebagai “laki-laki paling berani” atau lebih jantan dibanding dengan yang lain di republik ini.

Bukan mungkin lagi, sejak Orba yang jadi Presiden hingga sekarang, memang menggengam premanisme dan hanya Presiden BJ Habibie yang hampa dari premanisme. Bahkan, Jenderal Prabowo yang host menggenggam preman Hercules saat itupun dihempas oleh Presiden BJ Habibie.

Bagi, BJ Habibie, saat memimpin memang tidak berlaku akan bentuk yang berlogika hanya beruas pada ampas ceboan saja. Bagi Beliau dibutuhkan saat memimpin Indonesia, adalah logika cerdas, seperti dibuktikannya dengan kualitas bersalaman benderang, sekalipun hanya lebih kurang setahun menjadi Presiden.

 

Benderang

Sang Pelita Benderang akan terus berkibar dan berjingga hingga tak terbendung

Tak mungkin akan redup dengan gulita kerontang, sekalipun parang garong bergurita merongrong

Apalagi, kalau hanya dengan rongsongan gorong gorong bertameng menggonggong

Juga raga jiwa melompong yang telah melayang, dan sisa kerangka tubuh melompong nan melolong

Bagi Sang Pelita Benderang tak mungkin terpancing dengan segala gelagat gulita rongsongan yang kini hanya bisa melolong 'tuk segera berkalang

Jadi, kebenderangan Presiden BJ. Habibie sehingga bisa bersalaman dengan lokomotif reformasi Amien Rais dan bersama komponen yang bening saat itu, dikarenakan telah mampu menghampakan logika ampas ceboan gaya premanisme melompong hingga karam. Wallahu a’lam.***

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama