-----
PEDOMAN KARYA
Kamis, 14 Mei 2026
Subuh Berjamaah di Masjid Kompleks
Pagi itu saya keluar rumah naik sepeda motor tanpa menentukan akan shalat subuh di masjid mana. Jalanan masih lengang, udara dini hari terasa sejuk. Di tengah perjalanan, tiba-tiba saya memutuskan singgah di sebuah kompleks perumahan yang belum pernah sama sekali saya datangi untuk shalat subuh berjamaah.
Saat tiba di masjid kompleks tersebut, saya melihat dua anak remaja duduk di teras masjid. Ketika masuk ke dalam, ada lima orang jamaah. Tiga orang sedang melaksanakan shalat sunnah, sementara dua lainnya duduk berdzikir menunggu iqamah. Beberapa menit kemudian iqamah dikumandangkan dan shalat subuh berjamaah pun dilaksanakan.
Saya sempat diminta menjadi imam, namun saya persilakan tuan rumah saja yang memimpin shalat. Ternyata bacaan imamnya cukup bagus dan tartil. Setelah shalat dan dzikir beberapa menit, saya meminta izin untuk menyampaikan kultum singkat. Imam langsung mempersilakan. Saya meminta agar suara pelantang dikeluarkan supaya warga kompleks yang tidak hadir ke masjid juga bisa mendengarkan.
Saya menghitung jumlah jamaah subuh pagi itu hanya dua belas orang. Sembilan orang dewasa dan tiga anak remaja laki-laki. Sepertinya tidak ada jamaah perempuan. Saat kultum dimulai, tiga anak remaja tadi keluar meninggalkan masjid, sedangkan delapan jamaah dewasa lainnya tetap bertahan mendengarkan ceramah hingga selesai.
Pemandangan seperti ini sebenarnya cukup sering dijumpai di banyak masjid. Jamaah shalat subuh sangat sedikit bila dibandingkan dengan jumlah warga di sekitar masjid. Di kompleks tersebut terdapat ratusan rumah, namun yang hadir shalat subuh berjamaah hanya dua belas orang, termasuk saya yang kebetulan singgah di sana.
Lalu muncul pertanyaan dalam hati. Ke mana jamaah lainnya? Apakah mereka masih tertidur? Apakah sudah bangun tetapi malas ke masjid? Ataukah memang belum tumbuh niat untuk meramaikan shalat berjamaah di rumah Allah?
Dalam kultum singkat itu saya menyampaikan beberapa keutamaan shalat subuh berjamaah. Betapa besar pahala orang yang menjaga subuh di masjid. Saya juga mengingatkan pentingnya menghadiri majelis ilmu, sebab langkah menuju masjid bukan hanya untuk shalat, tetapi juga untuk menambah ilmu dan memperkuat ukhuwah. Saya pun menyampaikan anjuran agar berwudhu dari rumah sebelum berangkat ke masjid, karena setiap langkah menuju masjid bernilai ibadah.
Masjid tidak akan hidup hanya dengan bangunan megah dan lampu yang terang. Masjid akan hidup dengan hadirnya jamaah, dengan suara salam, dzikir, dan doa-doa yang dipanjatkan menjelang terbitnya matahari. Dan subuh berjamaah adalah salah satu tanda hidupnya sebuah kampung, kompleks, dan masyarakat muslim di sekitarnya. (asnawin aminuddin)
