Dosen UNM Ajak Pengrajin Bulukumba Manfaatkan Media Digital untuk Promosi Produk

PENGRAJIN BATIK. Ketua Tim PKM FISH UNM Prof Andi Cudai Nur (berdiri di depan, kedua dari kanan) foto bersama para pengrajin rumah batik di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Kamis, 14 Mei 2026. (ist)  

 

------

Selasa, 26 Mei 2026

 

Dosen UNM Ajak Pengrajin Bulukumba Manfaatkan Media Digital untuk Promosi Produk

 

BULUKUMBA, (PEDOMAN KARYA). Dosen Universitas Negeri Makassar (UNM) yang tergabung dalam Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum (FISH) UNM mengajak dan memberi edukasi kepada pengrajin di Kabupaten Bulukumba agar memanfaatkan media digital seperti media sosial, marketplace, dan platform pemasaran daring untuk memperluas jangkauan promosi produk.

“Strategi ini diharapkan mampu membantu pengrajin memasarkan produk tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga menjangkau pasar nasional hingga internasional,” kata Ketua Tim PKM FISH UNM Prof Andi Cudai Nur.

Hal itu ia sampaikan saat mengadakan kegiatan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Topanda, Kecamatan Rilau Ale, Kabupaten Bulukumba, Kamis, 14 Mei 2026.

PKM dengan judul: “PKM Inovasi Kolaborasi Pengrajin Rumah Batik di Desa Topanda Kabupaten Bulukumba” diadakan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal di Kabupaten Bulukumba.

Andi Cudai mengatakan, kegiatan ini difokuskan pada penguatan kapasitas pengrajin “Rumah Batik Bunga Mawar” di Desa Topanda melalui pendampingan pemasaran digital, penguatan manajemen usaha, branding produk, hingga pengembangan jejaring kerja sama dengan berbagai pihak.

“Program ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam menjalankan tridharma, khususnya pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal,” kata Andi Cudai yang dalam tim PKM ini bertindak sebagai ketua, dan beranggotakan dua orang yakni Mahrani, S.Stat., M.Stat, dan Atiqa Azza El Darman SAP., MAP.

Selain pemasaran digital, kegiatan pengabdian juga menekankan pentingnya membangun identitas dan branding produk batik lokal melalui penggunaan logo, kemasan, label produk, hingga penguatan cerita budaya di balik motif batik yang dihasilkan.

“Membangun identitas dan branding sangat penting untuk meningkatkan daya saing sekaligus memperkuat citra Rumah Batik Bunga Mawar sebagai salah satu ikon ekonomi kreatif Kabupaten Bulukumba,” kata Andi Cudai.

Dalam pelaksanaannya, tim PKM turut mendorong pengembangan jejaring kerja sama antara pengrajin dengan pemerintah daerah, pelaku UMKM, koperasi, perbankan, perguruan tinggi, dan sektor pariwisata.

“Kolaborasi diharapkan mampu membuka akses pendanaan, memperluas pasar, serta mendukung pengembangan Desa Topanda sebagai desa wisata batik berbasis budaya lokal,” ujar Andi Cudai.

Program pengabdian ini juga diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda dalam industri batik melalui pelatihan keterampilan membatik dan pengembangan kewirausahaan kreatif.

Dengan demikian, keberlanjutan budaya membatik dapat terus terjaga sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.

Tim pengabdian menilai bahwa pemanfaatan teknologi digital menjadi langkah strategis dalam menciptakan usaha batik yang modern, inovatif, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan nilai budaya lokal sebagai identitas utama produk.

“Selain berdampak pada peningkatan penjualan, pengembangan pemasaran digital juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya daerah,” kata Andi Cudai.

Melalui kegiatan ini, FIS-H UNM berharap Rumah Batik Bunga Mawar dapat berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif dan destinasi wisata budaya yang mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Desa Topanda sekaligus memperkuat pelestarian budaya lokal di Kabupaten Bulukumba. (asnawin)

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama