------
Senin, 27 Juli 2026
Mahasiswa KKN Unhas Gelar Pelatihan Pembuatan
Spray Anti Nyamuk di Maros
Juga Pengolahan Pupuk Kompos Berbasis Kotoran
Sapi
MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Mahasiswa KKN Tematik 116 Perubahan Iklim
Universitas Hasanuddin menggelar pelatihan sekaligus praktik langsung pembuatan
'spray' anti-nyamuk alami, serta pengolahan pupuk kompos berbasis kotoran sapi,
di Aula Kantor Desa Benteng Gajah, Kecamatan Tompobulu, Kabupaten Maros, Sabtu,
25 Juli 2026.
Pelatihan diikuti sejumlah perwakilan
warga dari berbagai dusun, jajaran perangkat desa, dan juga dihadiri langsung
oleh Kepala Desa Benteng Gajah, Ansar, bersama Sekretaris Desa, Risdayanti, dan
pengurus PKK setempat.
Pelatihan ini dirancang untuk membuka
wawasan masyarakat agar mampu mengolah bahan-bahan sederhana di sekitar
pemukiman menjadi produk yang ramah lingkungan, bernilai ekonomis, serta
berdampak positif bagi kesehatan masyarakat.
Sesi pertama dibuka oleh Andi Syafikah
Satirah Ardianti, mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
(FMIPA) Unhas. Di hadapan warga, ia memperagakan langkah demi langkah pembuatan
obat nyamuk semprot berbahan dasar serai, cuka, dan bahan alami pendukung
lainnya sebagai alternatif perlindungan diri yang aman dari bahan kimia
sintetis.
Selain mempraktikkan proses peracikannya,
Andi Syafikah juga menekankan pentingnya beralih ke produk herbal demi
meminimalkan pemaparan zat kimia di lingkungan rumah tangga, khususnya untuk
melindungi kesehatan anak-anak.
Materi inovatif ini memantik dialog
interaktif, ditandai dengan beragam pertanyaan serta gagasan yang muncul dari
para peserta. Sekretaris Desa Benteng Gajah, Risdayanti, melayangkan
apresiasinya atas ide kreatif yang digagas oleh para mahasiswa.
“Inovasi ini sangat segar dan memberi
manfaat langsung bagi warga kami. Formulasi obat nyamuk alami ini jauh lebih
aman digunakan, terutama untuk anak-anak. Kami sangat berharap warga bisa
mempraktikkannya secara mandiri di rumah,” kata Risdayanti.
Atensi senada disampaikan oleh perwakilan
TP PKK, Ibu Hasmiati, yang memberikan saran konstruktif agar aroma produk
ramuan mahasiswa tersebut semakin diminati masyarakat.
“Produk ini amat bermanfaat. Hanya saja
aroma cukanya masih sedikit tajam. Takaran cukanya mungkin bisa dikurangi
sedikit dan porsi serainya ditambah agar menghasilkan aroma yang lebih segar
tanpa mengurangi keampuhannya,” usul Hasmiati.
Masukan berharga itu disambut hangat oleh
tim KKN Unhas sebagai bahan evaluasi untuk menyempurnakan takaran racikan agar
semakin nyaman dan sesuai dengan harapan warga lokal.
Pupuk Kompos Kotoran Sapi
Usai peragaan 'spray' herbal, acara
dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan pupuk kompos dari kotoran sapi yang
dipandu oleh Reza Firdaus Abidin, mahasiswa Fakultas Peternakan Unhas.
Dalam paparan teknisnya, Reza menguraikan
bahwa limbah peternakan yang selama ini terbuang sia-sia sejatinya berpotensi
besar diubah menjadi pupuk organik bermutu tinggi.
Proses pengolahannya cukup praktis dan
hemat biaya karena hanya memanfaatkan bahan yang mudah didapat, seperti feses
sapi, serbuk kayu, air fermentasi tape singkong, serta larutan gula, sehingga
sangat memungkinkan diterapkannya secara mandiri tanpa alat rumit.
Ia menambahkan, konversi limbah peternakan
menjadi pupuk kompos tidak hanya efektif menekan dampak pencemaran lingkungan,
tetapi juga sanggup menghemat pengeluaran pembelian pupuk sekaligus
meningkatkan kesuburan lahan demi menggenjot hasil panen petani setempat.
Sajian materi tersebut disambut hangat
oleh warga, mengingat mayoritas penduduk Desa Benteng Gajah menggantungkan mata
pencaharian pada sektor peternakan sapi. Salah seorang warga dari Dusun
Polewali, Ilyas, menuturkan kebahagiaannya atas hadirnya program edukatif ini.
“Alhamdulillah, pembekalan dari adik-adik
mahasiswa KKN ini sangat menjawab kebutuhan kami. Di Desa Benteng Gajah
populasi sapi cukup banyak, namun kotorannya belum terkelola dengan baik. Lewat
pelatihan ini, kami jadi paham kalau kotoran sapi ternyata bisa diolah jadi
pupuk yang sangat bagus untuk tanaman,” ungkap Ilyas.
Di sepanjang jalannya kegiatan, Kepala
Desa Benteng Gajah, Ansar, terus mendampingi dan memberikan dukungan penuh. Ia
memuji kepekaan mahasiswa KKN Tematik 116 Unhas yang mampu menghadirkan program
kerja yang selaras dengan potensi wilayah dan kebutuhan mendasar warganya.
Lewat pengabdian ini, para mahasiswa KKN
Tematik 116 Perubahan Iklim Unhas berharap transfer pengetahuan ini tidak
berhenti sebagai wawasan semata, melainkan betul-betul diterapkan oleh
masyarakat.
Langkah sederhana berbasis daya lokal ini
diharapkan menjadi pijakan bersama dalam mewujudkan desa yang lebih mandiri,
sehat, produktif, serta tangguh menghadapi dampak perubahan iklim secara
berkelanjutan. (jw)
