Mengenang Keteduhan dan Pengabdian Tarmizi Taher

 



PEDOMAN KARYA

Selasa, 19 Mei 2026

 

Dari Menteri Agama sampai Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah:

 

Mengenang Keteduhan dan Pengabdian Tarmizi Taher

 

Oleh: Jufri Hidayat

 

Siang ini saya teringat sosok Tarmizi Taher, Menteri Agama yang berasal dari Sumatera Barat. Menteri yang dikenal dengan senyum khas dan pembawaannya yang tenang, seolah menghadirkan kesejukan dalam setiap percakapan dan kebijakan.

Di tengah hiruk-pikuk politik dan pemerintahan pada zamannya, beliau tampil sederhana, tidak banyak gaduh, tetapi meninggalkan jejak pengabdian yang panjang untuk umat dan bangsa.

Kebetulan waktu saya masuk di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Tamiang Ujung Gading, foto para menteri Kabinet Pembangunan VI baru saja dirilis dan banyak terpajang di buku, poster, dan berbagai tempat lain.

Dari sekian banyak wajah pejabat negara waktu itu, salah satu tokoh yang paling mudah diingat adalah Tarmizi Taher.

Wajahnya tampak teduh dengan senyum yang khas. Bagi kami yang masih muda saat itu, mungkin belum terlalu memahami dunia politik dan pemerintahan, tetapi kesan tentang sosok beliau terasa berbeda. Ada ketenangan yang memancar dari raut wajahnya.

Banyak orang mengenang beliau bukan hanya karena jabatan dan gagasannya tentang modernisasi pelayanan haji, tetapi juga karena jejak spiritual yang ditinggalkannya. Salah satunya adalah Masjid Birrul Walidain di Padang Panjang, sebuah masjid yang namanya sendiri mengandung pesan mendalam tentang bakti kepada orang tua.

Sebuah pesan yang sederhana, namun terasa semakin mahal di tengah kehidupan modern yang sering membuat manusia sibuk mengejar dunia, tetapi perlahan kehilangan rasa hormat kepada akar kehidupannya sendiri.

Saya sering berpikir, mungkin memang ada orang-orang yang tidak perlu banyak bicara untuk dikenang. Kehadirannya saja sudah cukup menghadirkan keteduhan. Dan Tarmizi Taher tampaknya termasuk dalam golongan itu.

Beliau datang dari dunia yang tidak ringan: dokter, perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, mubalig Muhammadiyah, hingga Menteri Agama Republik Indonesia. Namun semakin tinggi posisi yang beliau tempati, justru semakin terlihat ketenangannya.

Di masa sekarang, kita hidup di tengah zaman yang terlalu ramai. Sedikit jabatan sering melahirkan banyak pencitraan. Sedikit kekuasaan kadang menghadirkan terlalu banyak suara. Bahkan tidak sedikit orang yang lebih sibuk membangun popularitas dibanding membangun sistem dan pengabdian.

Karena itu, mengenang Tarmizi Taher sebenarnya bukan sekadar mengenang seorang mantan menteri. Kita sedang mengenang sebuah cara berpikir tentang penga itu belum banyak yang membayangkan bahwa pelayanan haji Indonesia suatu hari akan menjadi lebih tertata dan modern. Tetapi beliau melihat jauh ke depan. Beliau memahami bahwa pelc ayanan umat membutuhkan tata kelola yang baik, bukan sekadar pidato yang indah.

Di titik itu kita belajar bahwa agama dan kemajuan tidak perlu dipertentangkan. Teknologi tidak selalu menjauhkan manusia dari nilai spiritual. Justru jika dipimpin oleh orang yang memiliki iman dan akhlak, teknologi bisa menjadi alat pelayanan kemanusiaan yang luar biasa.

Sebagai Ketua Korps Mubalig Muhammadiyah, beliau juga memperlihatkan bahwa dakwah bukan hanya soal ceramah di mimbar. Dakwah bisa hadir dalam bentuk manajemen yang bersih, pelayanan yang tertib, dan kebijakan yang memudahkan kehidupan masyarakat. Dakwah bisa hadir dalam sikap tenang, dalam kesederhanaan, dan dalam keteladanan hidup.

Mungkin sosok Tarmizi Taher layak dikenang sebagai bahagian dari tokoh bangsa yang cerdas dan bersinar. Kecerdasannya bukan hanya terlihat dari gelar dan jabatan yang pernah diembannya, tetapi dari kemampuannya membaca kebutuhan zaman tanpa kehilangan akar nilai keagamaan dan kemanusiaan.

Ia tidak sekadar hadir sebagai pejabat negara, tetapi sebagai pribadi yang mampu memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan, ketenangan, adab, dan pengabdian dapat berjalan beriringan.

Mungkin bangsa ini memang sedang merindukan lebih banyak sosok seperti itu. Tokoh yang tidak mudah marah, tetapi tegas. Tidak sibuk membangun kultus diri, tetapi fokus membangun manfaat. Tidak terlalu ramai di media, tetapi nyata dalam kerja dan pengabdian.

Dan menariknya, banyak tokoh besar dari Sumatera Barat memang lahir dari perpaduan tradisi ilmu, agama, dan kesederhanaan hidup. Mereka tidak hanya dididik menjadi orang pintar, tetapi juga diajarkan bagaimana menghormati orang tua, menjaga adab, dan memahami bahwa jabatan hanyalah titipan sementara.

Mungkin itu pula sebabnya nama Masjid Birrul Walidain terasa sangat menyentuh. Di tengah dunia yang makin individualistis, masjid itu seperti mengingatkan bahwa sehebat apa pun manusia, ia tetap lahir dari doa dan perjuangan orang tua. Bahwa kemajuan tanpa adab hanya akan melahirkan manusia yang cerdas, tetapi kehilangan arah.

Kini Tarmizi Taher memang telah tiada. Namun jejaknya masih hidup dalam sistem pelayanan haji Indonesia, dalam ingatan banyak orang tentang keteduhannya, dan dalam nilai-nilai pengabdian yang diwariskannya.

Kadang bangsa ini memang tidak kekurangan orang pintar, tetapi bangsa ini sering kekurangan orang bijak. Dan dari sosok Tarmizi Taher, kita belajar bahwa ketenangan, ilmu, iman, dan pengabdian ternyata masih mungkin berjalan bersama dalam diri seorang manusia.***

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama