Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang Takalar

PESTA ADAT AKLAMMANG. Warga Desa Lantang, Kecamatan Polongbangkeng Selatan, Kabupaten Takalar, membakar bambu lemang, yang merupakan rangkaian dari Pesta Adat Aklammang. (Foto: Rusdin Tompo)  

 

-----

PEDOMAN KARYA 

Kamis, 07 Mei 2026

 

Pesta Adat Aklammang di Desa Lantang Takalar

 

Oleh: Rusdin Tompo

(Koordinator SATUPENA Sulawesi Selatan)

 

Begitu memasuki Desa Lantang, kepulan asap tampak menyembul di antara rumah-rumah warga. Suara musik disetel keras, terdengar dari arah berbeda-berbeda. Suasana pesta rakyat begitu terasa.

Desa yang berada di Polongbangkeng Selatan, berjarak sekira 18 km dari ibu kota Kabupaten Takalar ini, memang sedang punya hajatan: Pesta Adat Aklammang. 

Saya dan istri, Gita Nurul Ramadhani, tiba di Desa Lantang, sekira pukul 10.35 wita. Butuh waktu 1 jam lebih perjalanan dengan sepeda motor Scoopy dari rumah kami di Kompleks Anggrek, Minasa Upa, Makassar.

Kami langsung diajak naik ke rumah panggung (balla rate) oleh Nanda Eka Putri Syamsuddin, yang mengundang kami ke desanya. Rumah bergaya tradisional Makassar itu bercat hijau pucat dengan kosen berwarna cokelat muda.

Bubungan rumah ini berbentuk segi tiga (timbak sela) dengan 3 singkap, bertangga tallu anronna yang diberi kanopi berbahan seng.

Nanda, alumni Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Universitas Muhammadiyah (Unismuh), Makassar, langsung memperkenalkan saya dan istri kepada bapaknya, Syamsuddin Daeng Ngerang, dan ibunya, Hasna Daeng Kenna.

Daeng Kenna tengah bersama ibu-ibu yang sedang asyik bekerja memasukkan beras ketan (pulut) ke dalam bambu, sementara Daeng Ngerang mau mempersiapkan tempat pembakaran lammang.

Saya dan istri menyapa dan menyalami ibu-ibu itu satu demi satu. Mereka semua masih punya hubungan keluarga dengan tuan rumah.

Daeng Kenna menyebut nama ibu-ibu itu, sambil memperkenalkan mereka. Ada yang merupakan tantenya, sepupunya, dan iparnya.

Begitu mendengar ada di antara mereka bernama Daeng Bollo, saya lantas mencelutuk, “Berarti saya ketemu dua mamaku di sini. Karena nama mamaku Kenna Daeng Bollo.”

Mendengar komentar spontan dari saya, sontak semua tertawa hahaha.

Setelah menaruh tas di pojok dekat pintu kamar, kami dipersilakan duduk lesehan. Selanjutnya, kami bertukar cerita dengan si empanya rumah.

Kopi hangat dan bolu pandan disuguhkan pada kami. Pertemuan pertama ini begitu mengalir, kami ngobrol lepas, bagai orang yang sudah lama saling kenal.

Dari obrolan itu saya tahu bahwa Daeng Ngerang, bekerja sebagai sekuriti di SMA Negeri 8 Takalar, sedangkan Hasna Daeng Kenna, S.Pd, mengajar sebagai guru di TK Nur Ichsan, di Dusun Kalumbangara. Gelar sarjananya diraih dari Universitas Terbuka (UT).

Pasangan suami istri ini masih merupakan keluarga dekat, masih sepupu dua kali--dalam bahasa Makassar, istilahnya appinduki.

“Acara adat ini memang selalu kami tunggu-tunggu. Kapan ini aklammang? Kalau dekat mi waktunya, kami lalu menelepon keluarga dan kenalan untuk datang ke Lantang,” ungkap Daeng Kenna antusias.

Perempuan 50 tahun, yang semasa gadis pernah bekerja sebagai pramuniaga di Matahari Makassar Mall itu, mengaku pesta adat aklammang lebih ramai dibanding Lebaran. Kalau Lebaran, katanya, kemeriahannya hanya sehari, sementara pesta aklammang ramainya selama 3 hari.

Daeng Kenna menjelaskan, prosesi aklammang dimulai sejak Rabu, diawali dengan pengambilan bambu atau angngalle bulo.

Kemudian, pada hari Kamis dilakukan ammone lammang atau pengisian beras ketan ke dalam bambu yang sudah dipotong dalam ukuran tertentu. Lalu attunu lammang atau membakar lammang hingga matang.

Puncak acara diselenggarakan pada Jumat, disebut appasorong atau mendorong rakit dari batang pohon pisang berbentuk rumah-rumahan berisi lammang di Sungai Lantang.

“Tradisi ini diadakan setiap bulan Mei, tetapi tanggal dan waktu persisnya tidak tentu. Biasanya dibikin setelah panen sebagai bentuk rasa syukur,” kata Daeng Kenna.

Daeng Ngerang menimpali, di Desa Lantang, para petani tiga kali panen dalam setahun. Namun hanya sekali yang diadakan pestanya. Jadi tradisi aklammang ini merupakan pesta panen, yang dihelat selepas musim hujan.

“Daerah di sini subur. Ada sungai dan pengairan yang bagus. Itu mi bisa tiga kali panen dalam setahun,” ujar Daeng Ngerang, setelah kami berpindah tempat ke bawah rumah (siring balla), dan duduk di balai-balai kayu.

Dikemukakan, para petani di Desa Lantang umumnya punya sawah dan kebun. Pengairannya terjaga baik. Petak-petak sawah menghampar di sisi kiri kanan jalan.

Di beberapa bagian, tumbuh rimbun kebun tebu, rumpun bambu, dan pohon-pohon pisang berdaun lebar.

Itulah mengapa, dusun yang berada di ketinggian ini, diberi nama Dusun Borongunti.

Dahulu, kisah Daeng Ngerang, pohon pisang tumbuh membelukar, saat rumah-rumah warga masih jarang. Pohon-pohon pisang itu masih banyak terlihat, berdiri berkelompok di pinggir jalan atau di samping dan belakang rumah warga. (bersambung)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama