Gerakan Mahasiswa Bagian By Design Disintegrasi Bangsa

Mahasiswa dikelompokkan sebagai benteng moral (moral force), penjaga nilai, dan agen perubahan. Sebagai kaum intelektual, mereka mengemban tanggung jawab untuk mengawal kebenaran, menegakkan keadilan, dan menjadi penyambung lidah masyarakat.   

 

------

PEDOMAN KARYA

Kamis, 25 Juni 2026


Gerakan Mahasiswa Bagian By Design Disintegrasi Bangsa


Oleh: Achmad Ramli Karim

(Pemerhati Politik dan Pendidikan)

 

Seharusnya mahasiswa dan segenap komponen bangsa, belajar dari sejarah imperialisme dan kolonialisme oleh negara pemilik modal (kapitalis) di masa lalu. Karena mereka berkeinginan untuk menguasai sumber daya alam Indonesia.

Segenap komponen bangsa merujuk pada seluruh elemen masyarakat Indonesia yang bersatu untuk membangun negara, menjaga pertahanan, dan menegakkan Empat Pilar Kebangsaan. Komponen ini mencakup seluruh warga negara, lembaga negara, lembaga kemasyarakatan, partai politik.

Mahasiswa dikelompokkan sebagai benteng moral (moral force), penjaga nilai, dan agen perubahan. Sebagai kaum intelektual, mereka mengemban tanggung jawab untuk mengawal kebenaran, menegakkan keadilan, dan menjadi penyambung lidah masyarakat.

Beberapa peran kunci yang diemban oleh mahasiswa sebagai benteng moral: (1) Menjaga Nalar Kritis: Mahasiswa diharapkan objektif dalam menganalisis kebijakan publik tanpa terpengaruh pragmatisme atau kepentingan politik tertentu.

(2) Agen Perubahan Sosial: Mereka memiliki kesadaran dan idealisme untuk menolak ketidakadilan serta mengadvokasi kelompok masyarakat yang tertindas. (3) Pengawal Ideologi Bangsa: Peran akademis menuntut mahasiswa untuk mempertahankan nilai-nilai moral dan norma positif di tengah dinamika degradasi moral remaja.

Sejak pemerintahan Mulyono ada upaya terstruktur dan masif, untuk merobohkan idealisme, nasionalisme, dan nilai-nilai Pancasila sebagai benteng moral bangsa. 

Indikasi ini dapat dibaca, seperti berlakunya transaksi politik, upaya kriminalisasi bagi kelompok kritis seperti Roy Suryo dan Dokter Tifa menolak tawaran restorative justice (damai) dan plea bargaining (mengaku bersalah) yang ditawarkan oleh jaksa terkait kasus dugaan ijazah palsu. 

Mereka memilih untuk menghadapi proses persidangan di pengadilan agar perkara tersebut dapat diuji dan dibuktikan kebenarannya secara tuntas melalui mekanisme hukum.

Di tengah proses penyerahan tersangka dan barang bukti, Jaksa Penuntut Umum (JPU) disebut sempat menawarkan jalan damai kepada keduanya dalam perkara tudingan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Begitu pula tawaran pendekatan uang kepada Ketua BEM Mahasiswa sebesar Rp20 juta. Seperti diberitakan Universitas Bung Karno (UBK) menonaktifkan Muhammad Abdimaludin dari jabatan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswan (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Bung Karno.

Penonaktifan ini dilakukan menyusul dugaan penerimaan uang Rp20 juta yang saat ini tengah diusut pihak kampus.

“Sesuai dengan pernyataan Ibu Rektor, kami sudah menonaktifkan yang bersangkutan, sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat mengatasnamakan dirinya sebagai Ketua BEM sampai proses investigasi ini selesai,” ujar Wakil Rektor III Universitas Bung Karno, Daniel Panda, Selasa (23/6/2026).

Lalu bagaimana dengan eksistensi bangsa Indonesia ke depan, kalau penguasanya sendiri dengan sengaja membiayai dan membayar demo mahasiswa, demi mempertahankan kekuasaannya?

Terkait pemberitaan ini, para pengamat politik sudah menduga kalau Prabowo akan kembali dipaksa membuat komitmen, untuk mempertahankan pasangannya pada Pilpres 2029 kalau tidak ingin dijatuhkan di tengah jalan. Seperti cara paksa yang dilakukan untuk menerima Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapres pada 2024 lalu, kalau tidak ingin batas usia maksimum akan menjatuhkannya dari calon Presiden.

Mau dibawa kemana haluan kapal Indonesia ke depan, kalau nakhodanya selalu dipaksa dan dikendalikan oleh Raja Bajak Laut? Tidak adakah negara industri sebagai pihak ketiga, dibalik kacau balaunya sistem politik dan penegakan hukum Indonesia?

Jangan-jangan Indonesia yang memiliki kekayaan alam yang melimpah sebagai bahan baku industri, sedang diperebutkan kembali untuk dibagi-bagi dan dikuasai oleh negara-negara industri. Jika hal ini ada kebenarannya, maka bisa diprediksi kalau persatuan dan kesatuan Indonesia akan retak dan bercerai-berai sesuai keinginan kaum kapitalis.

 

Makassar, 25 Juni 2026

 


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama