Mahasiswa Unhas Hadirkan Pendidikan SIPAKATAU di Paotere Makassar

Mahasiswa Unhas Sudirman foto bersama beberapa anak di kawasan pesisir Paotere, Kota Makassar. Mahasiswa Unhas menghadirkan inovasi pendidikan SIPAKATAU (Sistem Pendidikan Karakter Anak Pesisir Berbasis Kearifan Lokal) sebagai media pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan penguatan karakter anak-anak di kawasan pesisir. (Foto: Humas Unhas)   

 

-----

Jumat, 26 Juni 2026

 

Mahasiswa Unhas Hadirkan Pendidikan SIPAKATAU di Paotere Makassar

 

MAKASSAR, (PEDOMAN KARYA). Mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) bersama Sekolah Vokasi Unhas menghadirkan inovasi pendidikan SIPAKATAU (Sistem Pendidikan Karakter Anak Pesisir Berbasis Kearifan Lokal) sebagai media pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dengan penguatan karakter anak-anak di kawasan pesisir.

Implementasi program dilaksanakan di kawasan pesisir Paotere, Kota Makassar, yang dikenal sebagai salah satu kawasan pelabuhan tradisional dengan aktivitas masyarakat pesisir yang dinamis.

Melalui pendekatan partisipatif, tim mahasiswa menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya memperkuat kemampuan akademik anak-anak, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter melalui metode pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan.

Filosofi sipakatau yang dalam budaya Bugis-Makassar bermakna saling memanusiakan menjadi landasan utama dalam penyusunan metode pembelajaran tersebut.

Nilai-nilai tersebut diterjemahkan ke dalam Buku SIPAKATAU, media pembelajaran yang dirancang untuk menanamkan karakter positif, seperti disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kepedulian sosial, kejujuran, serta sikap saling menghormati.

Materi disampaikan melalui aktivitas edukatif, permainan, diskusi, dan pembelajaran berbasis pengalaman sehingga anak-anak lebih aktif mengikuti proses belajar.

Program ini dikembangkan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP) bersama Sekolah Vokasi Unhas. Tim terdiri atas Sudirman sebagai ketua, bersama Tristan Adrian dan Muhammad Agus Mawardi sebagai anggota, di bawah bimbingan Dr Ir Nursinah Amir SPi MP IPM.

Sudirman menjelaskan, inovasi ini lahir dari keyakinan bahwa pendidikan yang berkualitas harus mampu menyentuh aspek akademik sekaligus membentuk karakter peserta didik sesuai dengan nilai budaya yang hidup di tengah masyarakat.

“Nilai sipakatau mengajarkan pentingnya saling menghargai dan memanusiakan sesama. Ketika nilai tersebut ditanamkan sejak dini melalui proses belajar yang menyenangkan, anak-anak tidak hanya tumbuh menjadi pembelajar yang baik, tetapi juga pribadi yang memiliki kepedulian sosial dan karakter yang kuat,” jelas Sudirman.

Selama pelaksanaan program, tim mencatat adanya peningkatan partisipasi anak-anak dalam kegiatan belajar, kedisiplinan, serta kemampuan berinteraksi dan bekerja sama dengan teman sebaya.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendekatan pendidikan berbasis kearifan lokal mampu menjadi alternatif pembelajaran yang efektif dalam mendukung perkembangan karakter sekaligus meningkatkan kualitas belajar anak-anak di kawasan pesisir.

Dosen pendamping, Dr Nursinah Amir, menilai bahwa SIPAKATAU menjadi contoh bagaimana mahasiswa mampu mengintegrasikan ilmu pengetahuan, budaya lokal, dan pengabdian kepada masyarakat dalam sebuah inovasi yang memberikan dampak nyata.

“Melalui Program SIPAKATAU, mahasiswa membuktikan bahwa kearifan lokal dapat menjadi pendekatan ilmiah yang efektif dalam membangun karakter sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan masyarakat pesisir. Inilah bentuk nyata implementasi Tridarma Perguruan Tinggi yang berorientasi pada kebermanfaatan,” kata Nursinah. (kia)


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama